Seusai Reda

Siti Ulumiah
Chapter #1

Menunggu Hujan Reda

Di bawah pohon rindang yang di kelilingi bangku kayu dan meja bundar. Orang lebih mengenalnya taman Cemara. Aku termenung tentang jalan hidupku yang penuh tanjakkan. Jika saja aku bisa mengulang dan memperbaiki kesalahanku kepada alam semesta pasti akan aku lakukan.

Sore itu ditengah lamunanku. Sekelompok anak SMA berhamburan dari gerbang sekolah aku dulu. Ada yang langsung pulang, jajan, dan berdiam diri dulu di bawah pohon sepertiku. Meskipun lelah terlihat di wajah polos itu, belum nampak gurat kesedihan di sana, mungkin tertutupi oleh gelak tawa.

Bukan disengaja saat aku yang kembali fokus pada duniaku, seketika itu aku jadi ikut mendengar kisah salah satu dari mereka yang dengan santainya mengeluhkan tentang guru yang bikin suasana hati mereka sedikit berubah menjadi buruk. PR yang menumpuk, kelakuan teman-teman organisasi yang menjengkelkan adalah dua hal yang menjadi suasana riang gembira tadi, jadi sedikit mencekam.

"Tadi Pak Bagas kayaknya udah ngantuk banget tuh pas ngejelasin rumus."ucap si anak manis perempuan berkacamata dengan rambut yang dikuncir dua.

"Iya bener tuh. Aku jadi ikut ngantuk."timpal anak yang paling mungil di antara dua temannya.

Seusai percakapan itu, yang ku dengar samar-samar, barangkali mereka baru menyadari ada aku yang jaraknya cukup dekat. Melihat mereka yang memelankan suaranya sembari tertawa kecil, membuatku jadi ikut canggung. Aku mencoba mengalihkannya dengan mengambil laptopku di dalam tas.

Tak lama seusai aku menyalakan laptop, datang lagi teman mereka. Laki-laki beratribut seragam yang masih lengkap. Kira-kira tingginya sekitar 170cm, ia menghampiri teman-temannya, lalu tanpa aba-aba berbicara dengan lantang. "Jangan lupa besok sehabis pulang sekolah kita kumpul dulu di sini, ya. Jangan sampai rapatnya ditunda lagi. Ingat loh acara pensinya tinggal 2 minggu lagi." meski begitu teman-temannya tetap mengiyakan perkataan ia yang ku pikir kurang sopan itu.

Organisasi adalah hal yang sangat tabu bagi aku apalagi saat masih duduk dibangku SMA. Mau tahu saja enggan apalagi masuk ke dalamnya. Selain belum tertarik, aku pun sudah membayangkan betapa ramainya kegiatan ini. Pastinya aku akan lelah sepanjang hari.

Aku, Ranum Almaniza sangat menyukai suasana sepi dan tenang. Kini aku bukan anak SMA lagi, bukanlah anak remaja lagi. Usiaku sudah menginjak 21th, aku sudah berkuliah disalah satu Universitas Bogor, mengambil jurusan Sastra.

Lihat selengkapnya