Pukul 18.00 WIB aku bersama teman-teman himpunan lainnya masih bergelut dengan konsep acara menyambut mahasiswa baru Sastra Indonesia tahun 2017, semuanya berdiskusi mengutarakan pendapat, sedang aku sebagai sekretaris, tugasnya mencatat. Tetapi, ini bukan semata-mata karena tanggung jawabku. Aku itu pelupa, agak berlebihan sih, semuanya dicatat, bahkan yang kurang penting sekalipun, seperti suasana kelas siang ini. Ya, apa boleh buat aku ingin melakukan semaksimal mungkin dalam pembuatan proposal.
Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia memang memiliki jumlah yang paling sedikit, dibandingkan dengan himpunan lainnya. Itulah sebabnya, cara kerja kami seringkali serba dadakan. Bayangkan saja, penentuan delegasi menyambut mahasiswa baru saja bisa dengan cepat ditentukan hari ini. Sampai sini sudah terjawab bukan, alasanku berorganisasi sampai menjabat menjadi sekretaris itu apa.
“Siapa aja nih yang mau jadi delegasi menyambut mahasiswa baru?” tanya sang senior yang menjabat sebagai ketua himpunan. Pertanyaan penting seperti ini memanglah membingungkan. Satu pun tidak ada yang bersuara, semuanya terdiam. Ada yang sibuk dengan HP-nya, tidur tanpa bersalah, bengong, dan hanya menertawakan suasana yang mulai memanas ini.
Sang senior hanya menghela nafas dalam-dalam menyaksikan tingkah mereka. Sikap tenangnya selalu dimanfaatkan, tapi kali ini ia sungguh mengejutkan. Ia berdehem, menggaruk rambut kelimisnya, lalu menunjuk Zaki, Vivi, Selly, dan Raga tanpa ngomong panjang lebar, “Yang jadi delegasinya adalah kalian. Persiapkan diri!”