Seusai Reda

Siti Ulumiah
Chapter #3

Pandangan Pertama dikelas Bahasa Sunda

Sunyi. Entah di perjalanan menuju pulang aku merasakan kesunyian yang tidak tahu datangnya dari mana. Di angkutan umum nomer 024 ke arah rumahku, posisi paling pojok adalah zona ternyaman, sembari melihat ke arah jalanan dari jendela menikmati angin segar, menuju malam. Terbuka satu persatu cerita yang menyedihkan, menyenangkan. Entah itu dari yang nyata dan delusi saja.

Ilusi masa SMA tergambar begitu jelas di kepala. Bukan tentang pelajaran Matematika atau Fisika. Tapi, tentang dia, cinta. Memang klise sekali. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa kisah saat itu bikin senyum-senyum sendiri. Katanya cinta pada zaman itu, masih belum serius. Aku boleh tidak setuju ‘kan? Menurutku tergantung siapa yang menjalankannya.

Aku termasuk budak cinta tingkat dewa. Aku begitu cinta dia, Willie, laki-laki yang telah membuat masa SMA-ku kian berwarna. Ia memang bukan cinta pertamaku. Namun, laki-laki beralis tebal ini yang paling lama mengisi hatiku sampai 2 tahun lamanya.

Sosial media yang membawanya padaku. Ya, di Twitter. Namun, dari sini juga ia meninggalkan jejak yang kelam. Seusai bersama-sama, melewati hujan dan badai, ia pergi begitu saja dengan dalih selama ini hanya menganggapku teman saja, lalu tak lama ia mengumumkan kekasih idamannya.

Willie yang ku kagumi karena kepribadiannya, dah satunya tidak pernah menilai seseorang dari fisiknya saja. Pada akhirnya mengecewakan, ia berkhianat dengan orang yang sedari awal sudah ku curigai.

Kejadian lampau itu sempat membuat aku trauma dengan pria mana pun. Jalan lima tahun lamanya aku menyendiri tanpa menyukai siapa pun. Namun, tidak sampai benci laki-laki. Lamunanku tentang Willie, membuatku teringat pada Kak Sabian. Ya, diam-diam aku menyukainya. Maka tugasku sebagai sekretaris adalah kesempatan untuk mengambil hatinya.

Suara senar gitar, mengalihkan suara hatiku. Sontak kepalaku menengok ke arah pintu angkutan umum yang sedang ku tumpangi. Seorang pengamen melantunkan lagu yang membuat seisi penumpang ikut tenggelam dalam lautan kesedihan.

Entahlah, itu hanya perkiraanku saja. Saat melihat kembali ekspresi mereka satu-persatu, bukan sedih tapi lebih ke ngantuk sih. “Teh, Aa, Bu, Pak, seribu dua ribunya... tidak akan membuat anda miskin.”seru pengamen yang penuh tato di lengannya.

Tangannya menengadah dari orang paling depan hingga ke paling pojok. Ada beberapa yang memberinya uang recehan tapi ada juga yang enggan memberi. Sekarang giliranku, situasi seperti ini sungguh membingungkan, pengamen itu terus menengadahkan tangannya di hadapanku,“Teh cantik, ayo dong seribu dua ribunya, masa gak punya!" Aku mencoba mencari uang di tasku, uang kertas seribulah yang ku temukan.

***

Ku temukan lagi pagi, bumi begitu cepat berputar. Rasanya tidurku masih kurang, tapi apa boleh buat perkuliahan dimulai begitu pagi. Pukul 07.00 WIB, mata kuliah Bahasa Sunda. Pak Dadang dan semua mahasiswa sudah ada di kelas. Kami tertib atas peraturan Pak Dadang, karena jika telat dianggap tidak masuk alias alfa. Semua memperhatikan Pak Dadang yang sedang menjelaskan asal-usul Bahasa Sunda.

Aku duduk di deretan kanan, bangku kedua pojok. “Paham henteu[1], barudak[2].”tanya Pak Dadang di dekat papan tulis. Dua ekor mataku tertuju kepada sang idaman, Kak Sabian yang sedang mencuri-curi pandang, ia duduk di pojok depan sebelah kiri. Aku yang sedang memperhatikan Pak Dadang, jadi tidak fokus, lantas untuk memastikan, aku menengok ke arahnya dan menatapnya balik.

Cukup lama kami bertatapan. Aku mulai takut ditegur Pak Dadang. Karena, saat suara Pak Dadang tidak lagi terdengar. Sudut mataku yang kanan melirik Pak Dadang yang mulai sadar dengan tingkah mahasiswanya ini. Ia menengok ke arahku dan Kak Sabian bergiliran, tapi aku patut menghela nafas panjang, karena Pak Dadang tidak menegur kami.“

Aya[3] nu[4] arek[5] ditanyakeun[6] deui[7] teu[8]?”tanya Pak Dadang membuat aku dan Kak Sabian melepaskan tatapan kami berdua. “Henteu[9], Pak." Semua kompak menjawab. Dilanjut oleh Pak Dadang, "Ya geus[10]. Pokokna[11] tugasna halaman 23-nya. Minggu hareup[12] dipariksana [13]. Terus ieu[14] aya[15] pengumuman penting, eungkin[16] lusa kunjungan ka[17] Perpustakaan Nasional, info selanjutna aya di grup eungkin diinfokeun.”

Perkuliahan pun selesai. Tugas Pak Dadang pun usai untuk hari ini. Setelah ditutup ia keluar ruangan diikuti mahasiswa dengan tujuan berbeda, ada yang ke kamar mandi, ke kantin atau pun hanya sekadar nongkrong di taman kampus. Sementara aku dan Vivi bergegas pulang.

***

Hari ini memang terasa cepat berlalu. Selain karena mata kuliahnya hanya satu saja, rapat himpunan pun tidak dilakukan, karena semua ruangan penuh dan lembaganya sedang ada pembersihan oleh pihak kampus. Jadi pukul 13.00 WIB aku sudah ada di kamar yang bernuansa putih dengan perpaduan coklat. Sudah bisa berbaring di ranjang ber-sprei putih sambil memeluk guling, mengarah ke kiri tepat di dinding, mataku seperti menembus mata indah Kak Sabian.

Tatapannya sangat dalam. Meskipun tidak ada suara yang terdengar. Aku memperhatikan kamu. Ah, terlalu jauh khayalanku. HP-ku yang ada digenggaman, rasanya ingin ku gerakan ke kontaknya lalu ku hubungi via telpon atau chat, tapi topiknya apa. Menanyakan tugas? Tadi kan sudah jelas apa yang harus dikerjakan. Nggak mungkin nanyain lagi apa. ku urung niat bodoh itu, lalu aku menarik selimut, lantas memejamkan mata sampai pagi tiba.

Lihat selengkapnya