Seven Days

ken fauzy
Chapter #4

Bab 4 - HARI 1

Zen bergegas mengayuh sepedanya.

Ia baru saja mendapatkan kabar dari suster jaga bahwa Luna telah siuman. Hati Zen berdebar antara senang dan gelisah. Senang karena Luna menunjukkan perkembangan yang baik, gelisah karena ia tidak tahu harus bersikap bagaimana bila bertemu Luna. Berkelebat berbagai skenario dalam benaknya untuk bagaimana ia harus bersikap. Ia bisa saja memperkenalkan diri sebagai loper koran yang selalu mengantarkan koran pagi ke rumahnya atau ia bisa memperkenalkan diri sebagai orang yang menolongnya dan memulai lagi semua perkenalan dari awal atau ia mengambil kesempatan yang sudah disediakan Tuhan untuknya?.

Sepeda berbelok masuk ke dalam pelataran parkir khusus sepeda di rumah sakit.

Zen melangkah cepat menuju kamar di mana Luna dirawat. Berkali – kali Zen berusaha menenangkan debaran di dadanya yang semakin berdebar keras di jarak yang semakin dekat dengan kamar rawat. Berkali – kali Zen menarik menghela nafas, kini ia telah berdiri di depan pintu. Dilihatnya Luna sedang duduk di atas tempat tidur dengan kepala masih diperban. Matanya menatap kosong keluar jendela. Seorang suster sedang memeriksa kondisi Luna.

Suster tersebut menyadari kehadiran Zen, ia menyapa dan menyuruhnya masuk. Luna menoleh. Dengan langkah sedikit gugup Zen mendekat. Di tangannya ada seikat bunga. “Hai, halo…” Zen menyapa. Luna menatap lebih tajam pada Zen, membuat dadanya semakin berdebar tak karuan. Apa yang harus kukatakan? Ya Tuhan, aku bingung, cetus Zen dalam hatinya. Luna mengernyitkan dahinya, “Siapa kamu?” Zen terkesiap, berarti benar kata pak dokter bahwa Luna kehilangan memorinya, dia tidak mengingat siapa dirinya. “Sa…saya…yang---”

”Masa kamu lupa sih?” ujar suster memotong kalimat Zen, Luna menggeleng pelan. “Ini, pacar kamu loh,” ujar suster itu lagi dengan senyum menggoda pada Luna. Luna melebarkan matanya, dan Zen menggaruk kepalanya dengan senyum canggung. Ia terkejut sebetulnya bukan itu yang tadi akan dikatakannya, tapi mau bagaimana lagi, bukan ia yang mengatakannya, sepertinya Tuhan memang sudah merencanakan semua ini dan ia bisa apa.

“Pacarmu ini hebat, kemarin dia ini yang menggendong kamu kesini saat pingsan, jauh – jauh pakai sepeda lagi,” ujar suster itu lagi, “Baiklah kalau begitu saya tinggal ya, silahkan ngobrol – ngobrol.” Suster itu tersenyum pada Zen dan berlalu keluar.

Zen melangkah mendekati meski ragu lalu menyerahkan bunganya.

“Pacar? Aku punya pacar?” gumam Luna dengan dahi berkerut dan memandangi Zen. Ia menerima bunga dari Zen, “Bunga Daisy?” Zen mengangguk, “Kesukaanmu.”

Lihat selengkapnya