Sebuah taksi berhenti di depan pintu gerbang.
“Ini rumahku?” tanya Luna setengah tak percaya setelah turun dari taksi. Matanya memandangi rumah itu. Zen berdiri di sampingnya dan mengangguk. Mereka berdiri di depan sebuah bangunan besar dengan pekarangannya yang luas. Zen mendorong pintu pagar besi ulinnya dan mengajak Luna masuk. Luna melihat sekelilingnya, ia masih tak percaya.
Mereka sampai di teras. “Luna coba cek, kunci pintunya sepertinya ada di kantong celana olahragamu yang kamu pakai,” ujar Zen. Luna meraba kantong celana olahraga strip biru mudanya itu, celana yang dipakainya saat mengalami kecelakaan kemarin. Luna terkesiap, ia menemukan sebuah kunci, “Kok kamu tahu?” Zen tertawa, “Suster yang memberitahuku saat berkemas tadi.” Perlahan Luna membuka pintunya.
Luna menatap ke dalam dan melangkahkan kakinya. “Ini rumahku?” tanyanya lagi melihat berkeliling. Zen pun terkesiap melihat isi rumah Luna, yang selama ini hanya bisa dilihatnya sebatas pagar depan saja. Perabotan – perabotan berkelas, sofa – sofa terempuk dan lemari – lemari besar berisikan guci – guci dan cindera mata dari hampir seluruh dunia. Luna memegangi kepalanya. Zen segera mengampirinya dan memapahnya untuk duduk.
“Jangan dipaksa untuk mengingat semua Luna, itu akan membuatmu sakit di kepala, perlahan saja, seperti pesan Pak Dokter, kalau kamu tenang, nanti memorimu pelan - pelan akan berangsur pulih,” kata Zen. Luna menuruti.
Tampak sebuah foto keluarga dalam ukuran besar yang menempel di dinding ruang tamu dengan bingkai ukiran keemasan. Di bawahnya terdapat lemari buffet dengan foto – foto yang berjajar rapih di atasnya. Luna bangkit dari duduknya memperhatikan foto besar di dinding itu. “Apakah ini foto keluargaku? Apakah itu orang tuaku? Lalu apakah itu adik atau kakakku?” tanya Luna mencoba mengingat - ngingat.
“Iya, itu Papah dan Mamah kamu Luna…kalau itu, itu adik laki – lakimu,” jawab Zen. Luna melihat berkeliling dan melangkah ke ruangan tengah, lalu ke ruangan - ruangan lainnya.
“Lalu kemana mereka semua, kenapa rumah ini sepi?” tanya Luna.
“Mereka semua sedang pergi ke luar negeri sehari sebelum kamu kecelakaan Luna.”
Luna menatap Zen, “Keluar negeri? Lalu kenapa aku tidak ikut? Terus kapan mereka akan kembali?”
“Sepertinya mereka baru akan kembali minggu – minggu depan…dan kalau kenapa kamu tidak ikut, setahuku, kamu sedang menyiapkan ujian sidangmu,” jelas Zen.
“Ujian sidang? Berarti aku juga kuliah?”
Zen mengangguk. Luna mendekati Zen dan menatap lembut padanya, Zen semakin bisa melihat detil bola matanya yang coklat, ia menghapalkan ada warna apa saja di dalam bola mata itu untuk diingat – ingat ketika ia melukis nanti. “Zen, dampingi aku terus ya…bantu aku untuk mengingat semuanya kembali, karena hanya kau yang tahu semua ini,” Luna menggenggam jemari Zen. Zen mengangguk, tangannya sedikit gemetar dan dadanya berdebar.
Tentu saja Zen tahu semua itu, bukan sebuah kebetulan atau karena kedekatan tapi hasil dari pengamatan, pengamatan melalui sosial media Luna.
***
“Kita sudah berapa lama jadian Zen?”
Tiba – tiba Luna melontarkan pertanyaan itu dengan matanya menatap wajah Zen saat mereka sedang duduk berhadapan di ruang tamu. Zen gelagapan, dia tidak duga pertanyaan itu akan muncul di awal. “Mmm…sekitar…mmm…sekitar 3 bulananlah,” jawab Zen ragu. “Oh baru ya…apa kamu sudah akrab dengan orang tua dan adikku?” tanya Luna lagi. “Ya belum terlalu, kan baru,” jawab Zen agak pelan dia merasa tak yakin dengan jawabannya sendiri. Luna mendekati Zen, duduk di sebelahnya. Hati Zen berdebar lagi.