Zen mengetuk pintu tak lama Luna membukanya.
Mata Zen menatap tak percaya melihat Luna di hadapannya, begitu cantik dengan make up tipis, celana jeans belel, kaos dan jaket merah muda cardigannya meski perban masih melingkari kepalanya.
“Hei…Zen!…Kok melongo?” seru Luna tertawa sambil mengibas – ngibas tangannya di depan wajah Zen. “Ups sori, kamu cantik banget…” jawab Zen tersadar dari keterpanaannya. “Jadi gimana nih, mau berdiri di sini aja menatap aku sampai ubanan atau mau anter aku ke rumah sakit?” canda Luna. ”Hahaha, pengennya sih sampai ubanan menatap kamu…” jawab Zen. Luna tertawa lebar dengan pipinya yang merona. “Ayo kita ke rumah sakit dan membuka perbanmu, tanpa perban pasti kamu akan lebih cantik lagi deh,” goda Zen. “Pacar siapa dulu dong,” balas Luna dan Zen tertawa sedikit hambar.
Luna menggenggam erat jari Zen. Ada kebahagiaan tak terperi yang melejit dari jemari lembut itu ke hati Zen. Zen tersenyum. Udara pagi dan anginnya yang bertiup sejuk serta beberapa daun yang jatuh menemani kebahagiaan itu. Zen membalas genggaman Luna seakan tak ingin melepaskannya.
Tiba – tiba terdengar nada dering. Zen celingukan, itu bukan panggilan telepon genggamnya. Luna melepas genggamannya dan mengambil telepon dari kantong celananya. “Halo, iya Mah…..ini Luna sedang mau ke dokter, mau cek lukanya…..iya, Mamah sama Papah tenang aja, Luna di sini ga apa – apa kok… iya Mah…I love you too,” kata Luna lalu menutup telponnya.
Zen terkesiap dalam diam, darimana Luna tahu itu telpon dari mamahnya, hari ke berapa ini? Ini baru hari ke tiga, bukankah Luna masih mengalami amnesia? Berbagai pertanyaan berkelebatan dalam pikiran Zen.
“Dari Mamah kamu ya?” tanya Zen memberanikan diri.
“Hmm-mm, semalam, setelah kamu pulang, aku mencoba menelusuri semua ruangan di rumah, aku mencoba mengingat – ngingat, aku masuki kamar satu persatu, aku buka lemari, aku cek pakaiannya, isi kamarnya, hingga aku meyakini bahwa salah satu kamar itu adalah kamarku.”
“Terus di kamarku, aku melihat ada hape, aku yakin ini hapeku tapi aku lupa passwordnya, tapi di atas meja, aku lihat ada secarik kertas berisikan semua password – password, baik password hape, sosial media dan lain – lain, aku yakin itu adalah tulisan tanganku untuk berjaga – jaga kalau aku lupa, jadi kertas itu menolong banget, aku jadi bisa buka hapenya.”
“Aku kaget setelah aku cek ternyata banyak miscall dan notif dari mamah dan papah yang khawatir karena aku tidak membalas telpon dan notif mereka seharian kemarin.”