Seven Days

ken fauzy
Chapter #7

Bab 7 - HARI 4

“Hey mau dibawa kemana itu Mbak Luna?!” tegur seorang satpam dari posnya.

Zen baru mau membuka mulutnya tapi Luna sudah menjawabnya, “Saya mau ke rumah Zen Pak, tolong buka portalnya.” Satpam itu terlihat kaget, dan ragu. “Nunggu apa lagi Pak?” ucap Luna mulai kesal. “Oh, ok…baik Mbak,” jawab satpam tersebut dan membuka portalnya. Zen tersenyum menang. “Makasih Pak…” seru Zen mengedipkan mata lalu mengayuh sepedanya cepat.

“Kayaknya ada yang ga beres…” cetusnya pada rekan satpamnya yang berada di dalam pos jaga. “Gue juga curiga sama anak loper koran itu dari kemaren,” lanjutnya lagi. Setelah Zen dan Luna hilang di belokan, satpam yang membuka portal, mencari nomer telepon orang tua Luna pada buku catatan warga komplek dan menghubunginya.

 

***

 

 “Inilah rumahku…selamat datang Luna.”

Luna tersenyum dan melihat berkeliling. Sebuah rumah sederhana yang asri. Dinding – dindingnya terbuat dari kayu yang telah dipelitur mulus dengan jendela – jendela besar dengan kacanya berbentuk kotak – kotak. Pohon – pohon bambu, suara pelan gemerincing lonceng angin dan gemericik air dari kolam kecil di teras rumah menambah suasana menjadi semakin tenang dan nyaman.

“Aku senang berada di sini Zen, bikin tenang, suasananya seperti di rumah – rumah Jepang, terima kasih kamu sudah mengajak aku kesini…” ucap Luna. Zen tersenyum dan membuka pintu rumah. “Ayo masuk…kamu harus berkenalan dengan orang yang merawatku dari kecil sejak orang tuaku tiada,” cetus Zen.

Luna terkejut, “Orang tuamu sudah ga ada?...Aku turut bersedih Zen…”

Zen tersenyum, “Ga apa - apa, itu sudah kejadian lama kok.”

“Apakah sebelumnya aku pernah tahu ini?” tanya Luna.

“Belum, kamu baru tahu sekarang,” jawab Zen, “Sebentar, ya…” Luna mengangguk. Zen menghilang masuk ke sebuah kamar dan tak lama kemudian, ia sudah kembali bersama seorang perempuan lanjut usia yang masih tampak bugar dengan wajah yang berseri – seri.

“Luna, ini nenekku…Nek, ini Luna…” Zen memperkenalkan. Luna segera berdiri dari duduknya, menyongsong kedatangan nenek Zen dan segera mencium tangannya. “Apa kabar Nek?” ucap Luna. “Baik sayang…wah cucu Nenek sudah pintar cari pacar, kamu cantik sekali Luna,” jawab nenek dengan senyum yang mengembang. “Ah Nenek…bisa aja…” pipi Luna merona.

“Selama ini, Zen belum pernah mengenalkan Nenek pada teman perempuannya sekalipun loh…baru kamu yang pertama Luna…Nenek senang lihatnya…tapi kamu ga dalam kondisi mabuk kan?” tanya Nenek setengah berbisik. Luna terkejut, “Maksud Nenek? Aku sadar kok, ga mabuk.”

“Syukurlah, soalnya kalau mabuk terus sadar, nanti kamu lihat cucu Nenek ga mau lagi,” canda Nenek. Luna tertawa terbahak mendengarnya. “Tenang Nek, aku menyukai cucu Nenek dalam kondisi seratus persen sehat jasmani dan rohani tanpa pengaruh alkohol dan bisikan jahat,” balas Luna setengah berbisik pula membuat Nenek tertawa.

Zen begitu bahagia melihat kedua orang itu cepat menjadi akrab. Ia berharap bisa menghentikan waktu agar momen membahagiakan ini tidak selesai.

Lihat selengkapnya