Sore itu berwarna jingga.
Bola oranye yang mulai turun di garis lurus horison memberikan cahaya tenang. Beberapa daun gugur dari pepohonan. Angin bertiup sedang lalu meniup daun – daun itu melayang – layang kesana – sini hingga jatuh di tanah. Angin pun menggoyangkan batang – batang bunga stevia di sepanjang jalan. Bergoyang ke kanan ke kiri, seperti serempak menari.
Di kejauhan dari kaki bukit, tampak Zen mengayuh sepedanya dengan Luna di boncengannya. Roda berputar di jalan setapak yang meliuk – liuk naik bagaikan ular, lalu melewati padang rumput yang menghijau. Membuyarkan sekumpulan kupu – kupu dari putik bunga ketika sepeda itu melesat di atas rumput yang menghijau tebal. Luna merentangkan tangannya dan tertawa. Zen juga melepas tangannya. “Zen!” jerit Luna saat sepeda itu bergoyang – goyang melewati bebatuan tapi Zen sigap mengendalikan sepedanya hingga stabil kembali. Mereka kembali tertawa berdua.
“Ini kita mau kemana sih Zen?” tanya Luna, “Kita sudah jauh dari rumah loh.” Zen menjawab di antara kayuhannya, “Kalau aku kasih tahu, namanya bukan kejutan lagi dong.” Zen mengayuh terus hingga puncak bukit di kejauhan mulai tampak. Warna warni bunga stevia yang bermekaran di belakang mereka menjadi latar belakang panorama jingga yang indah.
Zen mengambil nafas untuk menguatkan kayuhannya, ia mulai terengah – engah. “Jangan bilang aku berat ya Zen,” cetus Luna. “Huffh, ga, kamu… huffhh… ga berat kok …cuma…kelebihan beban aja,” sahut Zen. “Apa?!” Luna cemberut dan mencubiti pinggang Zen hingga membuatnya berteriak. “Rasakan nih serangan cubitan maut!” seru Luna. “Ampun…ampun,” teriak Zen. Sehari ini lesung pipi di wajah Luna tidak pernah hilang. Zen senang melihat Luna yang selalu tertawa.
Akhirnya mereka sampai di sebuah puncak bukit. Angin bertiup perlahan dan sejuk. Zen menghentikan sepedanya di sebuah padang datar yang dipenuhi bunga daisy. Luna menatap tak percaya. Berkali – kali ia mengucek matanya. “Ini beneran? Bukan mimpi? Aku belum pernah melihat bunga daisy sebanyak dan seindah ini…” ujar Luna. Ia turun dari sepeda dan begitu tampak binaran senang dari matanya yang tak berhenti melahap pemandangan indah itu. Dia bahagia.
“Ba…bagaimana kau tahu, aku sangat menyukai bunga daisy?” tanya Luna dengan matanya tak berpaling dari padang bunga daisy. Tentu saja Zen tahu, sosial media mengatakan segalanya. Zen tersenyum, lalu berdiri di samping Luna. “Ini semua untuk kamu nikmati Luna…” bisik Zen.
Luna menatap Zen. Zen mengangguk mempersilahkan. Luna segera saja berlari ke tengah - tengah padang yang dipenuhi bunga daisy itu. Ia menyentuh kelopak bunga – bunganya, menatapnya dari dekat lalu menciuminya. Luna tertawa bahagia. Ia berlari lagi sambil merentangkan tangannya lalu berputar – putar di tengah – tengah hamparan bunga daisy. Jingga senja menjadi pengiring hati yang bahagia, memberikan anti depressan untuk sore di bukit yang menenangkan.
“Teruslah menari Tuan Putri, jangan berhenti!” teriak Zen dari sepedanya sambil tertawa.
Luna menari, menari dan terus menari seperti gadis kecil yang riang. Zen menatap gadis itu. Ia mengeluarkan kertas dan pinsilnya. Menggoreskan garis – garis kuat ditimpa arsiran lembut di atas kertasnya. Zen tersenyum sendiri. Dulu Zen mencintainya dalam diam kini dia bisa bicara terang – terangan, semesta kadang memberikan yang bahkan kita tidak berani untuk memintanya.
Sayangnya, semua kebahagiaan ini tidak akan menjadi bagian dalam pikiran Luna, semua ini akan menjadi bagian yang terlupakan dalam benak Luna, Zen tahu itu, tapi tak ada salahnya mencoba, Zen tetap bertekad untuk meninggalkan sebuah kesan yang dalam, berharap agar apa yang pernah mereka lakukan ini akan muncul, minimal menjadi peninggal jejak di bagian kenangan otak Luna dan semoga tetap tinggal di sana.
Dua hari lagi waktunya akan habis.
***
Hari masih berada dalam gelembung senja.