“Luna!!”
Zen berteriak kaget ketika melihat Luna terjatuh di garasinya. Zen memeluk dan mengangkatnya. “Nek…Nek…tolong! Luna pingsan,” teriak Zen lalu merebahkan Luna di sofa. Nenek Zen datang tergopoh untuk segera memberikan perawatan. Mengecek dahinya, mengompresnya lalu menyelimuti Luna dengan penuh kasih sayang.
“Luna kenapa ya Nek?” tanya Zen cemas. “Aku tidak apa – apa Zen,” jawab Luna sebelum Nenek Zen yang berkata. “Terima kasih Nek,” kata Luna lembut. Nenek Zen tersenyum lega, mengusap pelan jemari Luna lalu meninggalkan mereka berdua.
Zen duduk di samping Luna.
“Kamu membuatku cemas Luna,” ucap Zen dengan tangan yang gemetar karena khawatir. Luna mengenggam tangan itu memberinya tenang. “Maafkan aku, tiba – tiba saja aku merasa pusing dan semua menjadi gelap, tapi dalam gelap itu, sesaat aku melihat banyak kelebatan – kelebatan peristiwa dalam pikiranku Zen,” jelas Luna.
Apakah ini artinya…hmm, perkiraan Dokter itu benar, tujuh hari, hanya meleset sedikit saja, bahwa proses penyembuhan Luna lebih cepat satu hari, bisik Zen dalam hati.
“Kau tahu Zen? Semua kelebatan dan potongan – potongan peristiwa itu seperti berebutan akan datang kembali di kepalaku Zen, aku tidak kuat untuk menerima semua potongan – potongan itu masuk sekaligus ke dalam otakku hingga membuat kepalaku sakit dan pandanganku menjadi gelap.”
“…tapi aku bahagia Zen, itu artinya aku bisa mengingat lagi semua, ya aku akan bisa mengingat lagi semuanya…mengingat masa kecilku, mengingat hari – hari kemarin dan yang jelas aku bisa mengingat saat kita pertama bertemu…aku sangat ingin tahu bagaimana awal pertemuan kita Zen…tidakkah kau ikut bahagia?” seru Luna pada Zen dengan mata berbinar senang dan wajah yang sumringah. Zen mencoba mengangguk dan tersenyum, getir, karena tidak ada pertemuan awal mereka itu, Zen mengarangnya.
Terdengar nada pesan masuk di telepon genggam Luna.
“Lihat Zen, dari Mamah Papah! Mereka sudah ada di rumah, mereka sudah datang Zen!” cetus Luna penuh semangat setelah membaca pesan itu. Berdebar kecut hati Zen mendengarnya. Waktu bersama Luna tidak disangkanya bisa begitu cepat selesai.
“Ayo kita ke rumah Zen, sekalian kamu bertemu Mamah dan Papah, kamu kan belum berkenalan dengan mereka bukan?” Luna segera bangkit lalu menarik tangan Zen. Gugup menjalari Zen, tapi tidak ada yang bisa dilakukan Zen kecuali menurutinya.