Luna menatap tak mengerti pada orang tuanya.
“Ada apa ini Pah?....Mah? Apa yang Papah katakan sehingga Zen pergi begitu saja tanpa pamit?” Luna bertanya dengan hati gundah. “Tidak ada apa – apa Luna, “ jawab papah. Mamah mendekat dan merangkul Luna menenangkan.
“Tidak mungkin! Kalau tidak ada apa – apa, kenapa Zen pergi begitu saja?!” Luna masih penasaran. “Papah bermaksud baik Luna,” bisik mamah. “Bermaksud baik gimana Mah? Apa maksudnya? Apakah Zen ini berbahaya? (Papah dan Mamah saling memandang) Zen itu pacar Luna Pah, Mah…dia berarti buat Luna!” ucap Luna kesal.
Luna melepaskan rangkulan mamahnya dan mencoba membuka pintu yang terkunci.
“Mau kemana Luna?” tanya mamah.
“Mengejar Zen ke rumahnya, dia pasti kecewa.”
“Kau tidak tahu siapa dia sebenarnya!” lontar papah.
“Luna tahu siapa dia Pah!”
“Oya? Apa yang kau tahu soal dia?”
“Dia seorang pemuda yang baik, sederhana dan sungguh menyenangkan.”
“Oh ok…sekarang ceritakan pada Papah, bagaimana kau bertemu dengannya?”
Mamah menggeleng memberi tanda pada papah untuk tidak melanjutkan tapi papah tidak menggubrisnya. Luna diam sebentar.
“Eung…kita…kita bertemu saat Luna sedang lari pagi…ya lari pagi.”
“Kata siapa?”
“Kata Zen!”
Papah tersenyum sinis, “Ok, sekarang katakan, sudah berapa lama kalian pacaran?”
Luna menelan ludah, “Eung…sekitar tiga bulan…ya tiga bulan…”
“Pasti itu kata Zen juga kan?”
“Iya…kan Luna lupa, jadi Zen yang ingetin.”