Fajar masih segaris di bibir langit.
Pagi itu sepi. Bunga – bunga daisy bergoyang tertiup angin tanpa suara di perbukitan. Lampu – lampu di teras rumah masih menyala belum dimatikan. Kabut masih mengambang tipis. Nenek merapatkan jaketnya, melangkahkan kaki menuju garasi dan membuka pintunya. Semalaman ia menunggui cucunya yang ternyata tidur di sofa ini. Nenek tercenung setelah menyadari bahwa semua lukisan di garasi itu sudah digulung rapi dan disimpan di dalam dus besar. Tidak ada lagi lukisan yang tergantung atau menempel di dinding begitupun lukisan – lukisan yang berada di meja. Bahkan peralatan lukis telah masuk ke dalam dus besar lainnya dan telah ditutup rekat dengan lakban.
Nenek menghampiri sofa, Zen terbangun lalu mengusap – ngusap wajahnya.
“Dia tidak akan kesini lagi ya?” tanya nenek duduk di ujung sofa
“Dia siapa?”
“Luna.”
Zen menoleh pada nenek, tersenyum, “Sepertinya tidak Nek.” Nenek merasakan ada hati yang hancur saat cucu tersayangnya mengucapkan kalimat itu. Zen berdiri, mencuci wajahnya di wastafel. “Kamu pasti tidak baik – baik ya Zen?” lontar nenek menatap punggung cucu kesayangannya itu. Zen menatap cermin dan melihat wajahnya dengan bulir – bulir air yang turun. “Kenapa harus tidak baik – baik Nek?” tanya Zen lalu mengambil handuk menyeka wajahnya.
Nenek tersenyum memberi pemakluman, “Semua yang ditinggal akan tidak baik – baik saja Zen…”
Zen menghampiri nenek mencium keningnya. “Aku pergi dulu Nek,” bisik Zen mengambil tas slempangnya dan mengeluarkan sepedanya. “Kamu belum jawab pertanyaan Nenek,” ujar nenek pada Zen yang sudah bersiap di atas sepeda. Zen tersenyum dan hanya mengedipkan matanya pada nenek lalu mengayuh sepedanya. Nenek memandang cucunya itu pergi di antara kabut tipis yang mulai menghilang.
***
Pagi di komplek perumahan dengan jalan – jalan yang masih sunyi.