“So, gimana Pedro?” cetus Ryan sembari masuk ke dalam kamar Luna.
Luna menoleh dan melihat Ryan membawa banyak kotak – kotak hadiah dari Pedro. “Pfuuuhh, tidak seharusnya dia kasih aku hadiah banyak begitu…” ujar Luna. “Jadi mau taro di mana ini Kak?” Ryan bertanya lagi. “Di mana ya…taro di pojok kamar aja deh,” jawab Luna. Ryan meletakkan kotak – kotak hadiah itu di atas tas slempang yang diberikan Zen, membuat tas itu berada di tumpukan paling bawah.
“Gimana Kak, Kakak belum jawab pertanyaanku tadi deh,” ujar Ryan sembari duduk di sebelah Luna yang sedang membaca di kasur. Luna menurunkan bukunya menatap wajah adiknya yang nyengir sambil mengangkat – ngangkat alisnya.
“Emang harus ya, aku jawab?”
“Ya iyalah Kak, biar aku tahu Kakak suka ga sama dia.”
“Kepo lo ah.”
“Dih, kepo gimana sih, aku kan comblangnya jadi harus tahu dong.”
Luna tertawa, “Iya, iya mak comblang…sebelumnya makasih udah repot – repot ngenalin Pedro sama Kak, so sekarang Mak mau tahu yang mananya soal Pedro?”
“Ya cocok engganya, first impressionnya dan seterusnya.”
“Baru ketemu, ya ga bisa bilang suka atau udah cocok, kalau untuk kesan pertama sih ok lah…”