Suasana makan malam berlangsung akrab dan hangat.
Ternyata Pedro tidak hanya sekadar tampan dan sukses, ia juga pintar melempar ‘joke – joke’ ringan membuat acara makan malam penuh tawa. “And the funny is, eung, banyak orang Indonesia percaya, bahwa married…dengan orang bule akan memperbaiki keturunan mereka, mendengar itu, saya seperti yang, “hah?”, you know, my face like…” Pedro menunjukkan wajah terkejut dengan mulut terbuka lebar membuat papah, mamah, Ryan dan Luna tertawa.
“Wait what? Hello, not us, tapi kalian…yang membuat keturunan kalian lebih tampan atau cantik, see? Hidung kami panjang seperti pinokio, tubuh kami ketinggian dan eung…kulit kami, eung what you call it? Oh ya, pucat…(Pedro geleng – geleng) you people, harus mmm, membuang itu opinion, kalian should proud, kita harus proud jadi orang Indonesia…tak benar itu,” sambung Pedro.
Papah tertawa dan mengangguk – ngangguk, “Betul, karena sebagian dari kami masih west minded, menganggap apa – apa yang berbau barat lebih terbaik.” Ryan menyela, “Juga peninggalan mental dijajahnya masih kuat Brader, jadi ya gitu.” Pedro manggut – manggut, “Exactly.”
“Baydewei, Mamah, ini masakannya sungguh delicioso, muito gostoso,” puji Pedro dalam bahasa negara asalnya. Mamah tersenyum, “Terima kasih, tapi ini yang masak Luna, Mamah hanya bantu – bantu sedikit.” Mata Pedro melebar seakan tak percaya, “Really? Luna masak ini?” tanyanya pada Luna, Luna mengangguk. “Bertambah lagi satu hal yang membuat aku semakin…terpesona dengan dirimu, Bela dama,” ujar Pedro memberikan hormat dengan anggukan pelan.
“Terima kasih,” jawab Luna pendek.
Makan malam berlanjut dengan cerita – cerita bisnis dan perbincangan di halaman belakang rumah. Mamah dan Luna membereskan meja makan. Mamah memperhatikan Luna saat mereka di dapur, “Kamu ok? Kepalamu maksud Mamah.” Luna menggeleng dan menarik satu kursi dapur untuk duduk, lalu berkata, “Masih terasa tak nyaman Mah.” Mamah duduk di sebelah Luna seraya mengusap bahunya, “Pantas kamu ga banyak bicara saat makan malam tadi, sudah kamu minum obatnya? (Luna mengangguk) Lalu apa yang membuat kamu merasa tak nyaman?”
Luna menyandarkan punggungnya, berkata pelan, “Seperti ada yang hilang dalam kepalaku yang menganggu tapi apa gitu, semakin aku pikirkan semakin aku ga tahu, malah membuat kepalaku sakit lagi…aku ini kenapa sih Mah?”
“Hey, kalian sedang apa di sini? Ayo gabung ke halaman belakang dong.”