Seven Days

ken fauzy
Chapter #16

Bab 16

Hari itu.

Luna sedang menatap tumpukan kotak – kotak yang dibungkus dengan kertas – kertas kado mewah. Luna bangkit dari rebahannya menghampiri tumpukan kotak – kotak hadiah itu. Ia mengambil satu persatu kotak hadiah tersebut dari pojokan kamar dan memindahkannya ke atas meja. Aku tidak bisa menerimanya, aku harus mengembalikan semua ini pada Pedro, bisik hati Luna. Setelah kotak hadiah terakhir diangkat, matanya bertumbuk pada sebuah tas yang teronggok lusuh karena menjadi alas bagi kotak – kotak hadiah tadi.

Sebuah tas yang lama dilupakannya.

Luna mengambil tas tersebut. Apa isinya ya? tanya Luna di hati. Ia membawa tas itu dan duduk bersila di atas kasurnya. Luna membuka tasnya, mengeluarkan kertas – kertas dari dalamnya. Keningnya berkerut. Ia mengamati dengan seksama kertas – kertas itu satu persatu. Terdapat gambar – gambar yang digoreskan hanya menggunakan pensil berupa sketsa - sketsa yang belum selesai. Meski begitu, Luna yakin ini adalah sketsa dari gambar – gambar sebuah wajah. Luna memiringkan kepalanya pelan, mencoba menilik – nilik. Wajah siapa ini?.

“Hoy Kak, lagi ngapain?!”

Luna terkejut mendengar suara Ryan yang telah berdiri di pintu kamarnya. “Bikin kaget aja lo…ketok pintu kek, maen masuk aja,” cetus Luna, Ryan nyengir. “Hey ini kenapa hadiah – hadiah dari Pedro belum dibuka?” tanya Ryan menatap tumpukan kotak – kotak hadiah di atas meja. Luna menghampiri Ryan. “Yan, hadiah – hadiah ini kembaliin ke Pedro gih,” ujarnya. “Loh, kenapa Kak?” Ryan menggaruk kepalanya. “Bilang, ga usah repot – repot, tanpa hadiah pun, aku senang bisa berkenalan dengan dia, dan senang bisa jadi temannya,” jawab Luna.

“Tapi Kak, ga enak lah sama Pedro.”

“Yan, Pedro pasti ngerti, dia pria dewasa.”

“Huffh, semoga saja, lagipula hadiah – hadiah ini kan tanda perkenalan aja Kak---“

“Kak tahu, tapi rasanya ga nyaman aja, belum apa – apa sudah dibeli,” jawab Luna sembari menggerakkan jari telunjuk dan tengahnya memberi tanda kutip pada kata ‘dibeli’ Ryan manggut – manggut mengerti, “Yah terserah Kak aja, besok aku coba jelaskan pada Pedro deh.” Luna menepuk – nepuk bahu Ryan dan mencubit pipi adiknya, “That’s my brother…sangat pengertian sekali.” Ryan mencibir lalu matanya beralih ke atas tempat tidur.

Lihat selengkapnya