Seven Days

ken fauzy
Chapter #17

Bab 17

Pagi menyingsing.

Luna menggeliatkan tubuhnya lalu melihat pada jam dinding. Ia terkesiap dan segera melompat bangun dari tidurnya. Mencuci muka dan berganti cepat. Setelah siap, Luna segera keluar dari kamar menuju halaman belakang rumah untuk mengenakan sepatunya. “Mau lari pagi Lun?” tanya mamah diiringi tatapan mata papah yang sedang menikmati teh beserta koran paginya. Luna melirik pada koran yang sedang dibaca papahnya.

“Ga Mah, mau ngejar tukang koran!” jawab Luna.

Mamah dan papah saling pandang. Melihat kedua orang tuanya kebingungan Luna tertawa seraya keluar dari pintu belakang. Ia berlari menyusuri trotoar. Kepalanya menengok ke kanan ke kiri, mencari – cari, tapi ia belum menemukannya. Hatinya berkata, ia harus menemui loper koran itu, loper itu pasti tahu sesuatu. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Luna, siapa yang menitipkan tas itu padanya, apa maksud orang itu menitipkan tasnya bukannya diserahkan langsung saja, mengapa orang itu tak berani menemuinya langsung dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Di perempatan jalan sana Luna melihat loper koran itu melesat lewat, Luna terkesiap dan segera mengejarnya. “Tunggu!” teriak Luna tapi loper koran itu tidak mendengarnya, sepedanya hilang di belokan jalan. Luna mendecak kesal, ia harus mengejarnya lagi. Luna berlari – lari menyeberangi jalan lalu berbelok. Ia terengah – engah dan tidak terlihat loper koran itu, hanya orang – orang yang berlalu lalang menikmati udara pagi. Luna berjalan pelan mengatur nafas sembari memperhatikan sekelilingnya.

“Ah, itu dia!”

Lihat selengkapnya