“Kamu yakin akan melakukan ini Luna?”
Mamah merangkul bahu putrinya itu. Mereka memperhatikan dus – dus besar berisikan barang – barang Luna yang sedang diangkut masuk ke dalam mobil box jasa angkut pindahan. Dus terakhir sudah masuk, Luna menghitungnya, setelah Luna memastikan semua barang - barangnya terangkut, Luna menggenggam jemari mamahnya dan menatap matanya.
“Aku yakin Mah, anak perempuanmu ini sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri.”
“Apa yang bisa Mamah lakukan tanpa kamu?”
“Banyak Mah…”
Mamah semakin lekat menatap mata putri semata wayangnya itu dan semakin erat menggenggam jemarinya seraya berucap, “Kau tahu Mamah sangat menyayangimu?” Luna mengangguk, “Aku lebih Mah, Luna lebih daripada menyayangi Mamah.” Kedua perempuan yang disatukan dengan tali ibu dan anak itu saling berpelukan. Pelukan hangat dan erat. Mata mamah berkaca – kaca.
“Jangan lupa---“ mamah tak menyelesaikan kalimatnya karena Luna telah melanjutkan, “Untuk menelpon setiap hari, kasih kabar setiap pagi, jangan telat makan, sebelum tidur periksa pintu dan jendela udah dikunci apa belum, jangan lupa berdoa, yadda, yadda, yadda.”
Mamah tertawa mendengar Luna mengulangi persis kata – kata pesannya itu dengan mimik lucu. Luna mengusap airmata yang menetes dari ujung mata mamahnya, dan berkata lembut, “Tenang Mah, aku ga akan lupa, semuanya sudah Luna catet dengan jelas.”