Di negeri ini kita mengenal dua musim.
Musim kemarau yang tiba membawa angin muson timur meniupkan panas yang meranggas. Matahari bersinar lebih terik. Hawa panas yang membuat kita akan cepat letih dan haus lebih sering. Menanggalkan jaket – jaket tebal dan mencari ruang – ruang dengan udara berpendingin. Banyak flora menguningkan dan menggugurkan daun - daunnya. Randu menyisakan ranting – rantingnya saja. Bukan untuk mati tapi itulah cara mereka bertahan hidup untuk mengurangi penguapan di musim panas untuk nanti bersemi kembali.
Kemudian, musim kemarau berlalu untuk mempersilahkan datang musim penghujan. Semua menjadi begitu basah. Jalan – jalan, rerumputan, atap rumah semua mengalirkan air yang turun diresap tanah. Jaket – jaket tebal yang berada di tumpukan paling bawah lemari dipakai lagi dan udara berpendingin dikurangi. Sebagian orang berlarian mengumpat saat hujan turun, karena tidak membawa jas hujan ataupun payung tapi sebagian orang tenang saja lalu tersenyum ketika tetes hujan menepuki wajah dan tubuh mereka. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyambut kedatangan hujan. Di musim ini, Flora tropis menumbuhkan hijau daunnya kembali.
Waktu demi waktu berlalu, menelusuri hari, minggu, bulan, bahkan tahun ke tahun. Tanpa musim salju, musim semi ataupun musim gugur, kedua musim itu telah datang dan pergi silih berganti.
***