Now, 2025
Venice terbangun dari tidurnya, seperti biasa setiap kali dia menutup mata kejadian itu akan terus berputar di kepalanya, dia akan terus melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi, bagaimana sakit akibat tabrakan itu, meskipun sudah 20 tahun berlalu namun rasanya masih seperti kemarin.
Seperti biasa ketika bangun, dia akan mengelap wajahnya dengan tisu, mengganti bajunya lalu mengikat rambut dan memakai kacamata. Kaos yang dia pakai sampai benar-benar lembab karena keringat, dan wajahnya seakan habis mencuci muka dengan air.
Venice keluar dari kamarnya, dia pergi ke pantry untuk membuat teh hangat, lalu dia membawa itu ke sofa sambil melihat kembali rekaman ulang pelaporan otopsi kematian Junaidi di kantor polisi.
Sampai saat ini dia tidak tahu siapa Adipati, nama itu masih terus muncul di laporan-laporan rahasia kenegaraan, dia masih berpikir bahwa Presiden terlibat dan bahkan dengan licik melibat Franz.
Dia tidak bisa tidur sekarang, tidak dengan dia yang masih gemetar apalagi diluar hujan dan petir terus terjadi. Perasaan ini mengatakan bahwa badai yang sebenarnya akan benar-benar terjadi, hanya karena list aset murahan itu.
Selama ini dia tidak membocorkan rahasia negara karena dia ingin menjaga keluarga Wira. dengan kematian Firoz dan Maria orang yang dia panggil Mama dan Papa itu, masih membekas di hatinya.
Dia ingin orang-orang kotor itu terungkap dan mendapatkan akibatnya, jika sampai dia tahu siapa orang-orang itu Venice berencana untuk membawa keadilan dengan tangannya sendiri.
Tring~!
Bunyi pintu otomatis terdengar Venice sontak berbalik untuk melihat siapa yang datang, pastinya itu hanya satu orang, karena dia tahu betul Chian ada di ruangan lain. Ini sudah hampir 10 hari sejak orang itu meninggalkan markas karena ucapannya yang kasar.
Laki-laki bertubuh tinggi, dengan rambut yang sedikit basah, nafasnya pun terengah-engah, Venice tahu dia berlari dari lift ke tempat ini.
Ya orang itu adalah Toka.
Toka melihat Venice duduk di sofa dengan mug berwarna pink kesayangannya, tercium khas wangi chamomile, memenuhi ruangan itu, dia berjalan perlahan, membuka jaketnya dan meletakkannya di kursi. Dia melangkah lagi hingga sampai di depan Venice. Diambilnya mug tersebut, dan diletakkan di coffe table di depan mereka.
Toka duduk di samping Venice dia hanya memandangnya untuk beberapa saat, dan ketika langit mendadak terang, dia pun segera menutup telinga Venice, suara gemuruh itu akhirnya terdengar dan setelah selesai dia pun melepaskan tangannya dari telinga Venice.
Toka perlahan membuka lengannya, dia merangkul perempuan itu lalu membenamkan Venice di dalam pelukannya, inilah yang dia lakukan setiap kali hujan turun, memeluk Venice yang sedang panik dan berusaha menutup telinganya dari suara gemuruh.
“It will go away. Sun will be coming up,” ucap Toka sambil mendekap Venice lebih erat.
“I’m sorry, I don’t mean to disrespect you.”
“I don’t mind, I’m sorry for leaving you like that. When the rain comes down today, I give up, Vence,”
I gave you up a long time ago, when I knew I would never earn that place, to be your only one and just be your best friend and partner. Toka tahu keberadaannya hanya sementara, mungkin dia selalu ada di dekat Venice namun, dia tahu kalau dia hanya pengganti, hanya orang sementara dan melepaskan dia ke tempat yang seharusnya.
Setelah dia mengikuti Franz mencari tahu kebenaran kasus keluarga Wira, dia tahu pada satu kesimpulan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan Venice dari keluarga itu, dia tahu bahwa Franz terus mencari perempuan yang dia anggap adik, dan Venice selalu mencari cara untuk kembali ke tempat yang dia bilang keluarga.
Jika saatnya tiba, gue sendiri yang akan anter lo kesana Vence.
Walaupun Venice tidak pernah mengakui bahwa dia mengalami PTSD ketika mendengar suara hujan tapi Toka menyadari hal itu ketika mereka kenal, setiap hujan Venice akan online di sistem mereka, entah bermain game atau hanya sekedar mencari informasi. Sekali, dua kali, dia tidak menyadari sampai akhirnya Toka menyadari pattern tersebut.
Setelah itu Toka selalu menemani Venice setiap hujan turun dan memeluknya jika petir itu tiba. Biasanya dia selalu menolak tapi entah mengapa hari ini dia tidak langsung menolak Toka sepertinya mimpi buruknya terlalu panjang.
“Maaf gue pergi gitu aja,” ucap Toka.