Shadow of Treachery

Ang.Rose
Chapter #31

JOY IN THE MORNING

Mata bisa dipakai untuk melihat, mulut dipakai untuk berbicara, telinga dipakai untuk mendengar, tangan dipakai untuk memberi. Venice selalu ingat kata-kata itu ketika dia diajar di panti asuhan.

Bahwa semua hal, baik yang terlihat maupun tidak dari tubuh kita semua ada kegunaannya. Tapi kitalah yang menentukan apakah kita mau melakukannya untuk kebaikan atau tidak.

Mata memang dipakai untuk melihat, tapi melihat apa dulu, melihat yang baik atau melihat yang buruk.

Mulut dipakai untuk berbicara, tapi membicarakan hal-hal baik atau untuk membicarakan hal-hal buruk dan akhirnya bisa membuat orang lain sakit hati.

Telinga dipakai untuk mendengar, tapi maukah kita mendengarkan kebenaran? Atau kita hanya mau mendengarkan hal yang kita inginkan dan menutup telinga ketika orang membutuhkan.

Tangan dipakai untuk memberi dan melakukan kebaikan, tapi ada orang yang menggunakan tangannya untuk kejahatan, memukul orang atau membunuh seseorang

Perbuatan muncul dari hati, jika hati itu bersih maka perbuatan yang muncul pun akan bersih, namun ketika pikiran kita jelek makan perbuatan yang muncul pun akan buruk.

Namun sepertinya kali ini itu tidak membuat Venice mengikuti prinsipnya, yang Sagi katakan sebelumnya memang menghentikan langkahnya untuk berbuat nekat, namun ketika mendengar Putra bicara tentang Junaidi seakan membenarkan konferensi pers sebelumnya, bahwa Junaidi mati bunuh diri.

Yang dikatakan Sagi benar, semua orang punya kompas moral mereka masing-masing. Informasi di tangan orang bodoh tidak akan jadi apa-apa, tapi informasi ditangan mereka akan menjadi senjata yang berbahaya.

Itulah mengapa fokus Venice sejak dulu adalah informasi, makin banyak informasi yang dia timbun maka akan semakin berbahaya dia. Jika tidak, tidak mungkin kepalanya berharga miliaran.

Perkiraan cuaca hari ini cerah berawan Venice tidak perlu khawatir akan ada hujan hari ini, dan mungkin hari ini akan cerah sampai nanti malam, mungkin suhu akan memanas hari ini.

Untuk masyarakat biasa hari itu merupakan hari kerja seperti biasanya, orang-orang membicarakan penggeledahan yang terjadi 2 hari yang lalu, banyak yang bicara di KRL dan MRT apa mereka harus menjual saham mereka, atau menarik deposito mereka.

Para influencer keuangan pun banyak yang sudah membuat konten tentang hal ini, banyak juga media-media online bodong yang sibuk membesarkan berita kemarin, ada juga buzzer oposisi yang memanfaatkan hal ini untuk menurunkan indeks kepuasan serta indeks kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan saat ini.

Apapun yang ada dilayar kecil berukuran 6 inch itu adalah palsu, hanya orang-orang tertentu yang mengetahui apa yang terjadi.

Bagi masyarakat kecil yang sibuk bekerja untuk membayar hutang dan menghidupi keluarga mereka, LAA tidak gangguan sudah bersyukur, red line dan green line KRL tidak begitu berdempetan saja mereka sudah bersyukur.

Abang-abang ojek online yang siap sedia mengantarkan para pekerja ini dengan senyuman ramah meskipun potongan aplikator yang makin mencekik mereka, mengajak pelanggan untuk bicara walau sederhana.

Sedangkan masyarakat menengah yang terkada berusaha untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup mereka dengan pay later, sibuk mengantri di cafe skena, kopi kekinian yang memakan hampir 30 ribu rupiah segelas.

Lihat selengkapnya