Tidak, tidak pernah ada dipikiran Franz bahwa Vivi akan berbuat sebesar itu, mereka tahu dan mereka paham dengan keberadaan Adipati, bukan berarti mereka tidak percaya atau tidak mau menghakimi orang tersebut, masalahnya adalah mereka belum bisa menentukan dan mengetahui siapa orang tersebut. Melihat Vivi yang seakan menyalahkan mereka, membuat Franz kini mengerti, bahwa adiknya sudah bukan lagi orang yang dulu.
Vivi sudah berubah, dan keputusannya itu bukanlah Vivi melainkan Venice.
Mereka sudah mengerti siapa Adipati atau bagaimana situasinya saat ini. Seakan ditampar oleh realita. Reigha, Putra, Andre, Roy, Chandra dan Franz duduk terdiam di depan layar TV yang diubah menjadi layar monitor besar.
Mereka telah kalah dalam perjudian ini, mereka sudah memprediksi ini akan terjadi, namun mereka tidak percaya bahwa eskalasinya akan sebesar ini.
5 menit sebelum terjadinya chaos, chat box yang dipakai oleh Chandra sebelumnya mendapatkan pesan baru dari Chian, ia memberikan sebuah link dan ketika mereka membuka apa link tersebut, ternyata itulah adalah live dari CCTV di jalan SCBD yang mengarah ke sebuah videotron di sebuah gedung perkantoran.
Ketika mereka menonton itu, mereka semua terdiam, dan saat terakhir suara dari video itu mengatakan, “sebagai hukuman aku akan membekukan pasar saham selama 5 menit.” Andre sontak langsung mengambil ponselnya dan menghubungi direktur BEJ.
Tak hanya Andre, Reigha pun langsung berdiri karena ponselnya yang berdering dan itu adalah ponsel yang terhubung langsung dengan Presiden.
*
Reigha berjalan ke arah dapur sambil menarik nafas panjang mengumpulkan energi sebelum dia menerima panggilan tersebut.
“Ya, Pak, Reigha.”
“Reigha! Saya harus gimana lagi sekarang hah!? Saya nyuruh kamu ambil kasus ini supaya hal ini gak terjadi tapi kamu justru bikin semuanya jadi lebih runyam dari yang sebelumnya! Saya bilang kamu harus selesaikan ini diam-diam! Bukannya membuat keributan seperti ini!”
“Siap Pak, saya minta maaf, kami tidak mengira bahwa Venice akan menyatakan sikap tentang Adipati.”
Presiden terdiam sesaat. “Jadi, nama itu beneran ada?”
“Ada Pak, nama itu beneran ada, list aset itu juga benar adanya. Kami memancing Venice untuk membuat dia muncul dengan memberitahukan siapa Adipati tapi entah kami tidak memprediksi bahwa dia akan melakukan pembekuan saham.”
“Lalu pasar saham?”
“Andre sedang konfirmasi pak. Kami benar-benar tidak menyangkah bahwa eskalasi dari kejadian ini akan sebesar ini.”
“Lalu kamu pikir akan sekecil apa? Dia pemimpin dari organisasi besar kamu pikir dia hanya akan gertak sambal? Orang seperti Venice yang sudah kehilangan banyak hal tidak akan mungkin takut untuk kehilangan hal lain. Gimana cara kamu sekarang untuk mengembalikan keadaan?”
“Kami mungkin akan berdiskusi lagi pak, kalau memang Venice nanti mengirimkan daftar pejabat yang LHKPN tidak sesuai, mungkin kami akan melakukan pengalihan kesana sementara.”
“Kamu pikir Venice haus pengakuan?”
“Tidak Pak, tidak dari masyarakat, tapi dari kakak-nya. Itu mungkin.”
“Oke, selesaikan hal ini secepatnya.”
“Siap Pak.”
*
Andre berjalan ke arah jendela dan menunggu panggilan itu diangkat oleh penerimanya.
“Halo, Pak, ini Andre dari BIN.”
“Ah ya, mas Andre, ada yang bisa di bantu?”
“Pak, ada rumor kalau pasar saham akan di bekukan selama 5 menit, keadaannya gimana?”
“Hmm, Mas Andre, sebenernya, ada yang nelfon saya subuh tadi, waktu saya bangun untuk subuhan. Orang ini bilang dia dari BIN dan nyuruh saya untuk menahan pasar saham dari jam 9-9.05 cukup 5 menit agar IHSG tidak turun drastis, sekarang kondisinya memang gawat Mas. Kami dapat laporan kalau beberapa perusahaan besar di hubungi oleh investornya dan menanyakan hal ini, banyak yang mau keluar dari Indonesia, dan banyak investasi yang gagal Mas.”
Andre menggelengkan kepalanya dia bersandar di dinding sambil menahan mulutnya untuk mengumpat.