Shadow of Treachery

Ang.Rose
Chapter #33

THE HOUSING

Bagi Franz mencari kebenaran untuk keluarganya melebihi apapun, dia ingin segera menyelesaikan kasus ini, dan menjalani hidup kembali bersama dengan Fiona dan Vivi, tapi sepertinya, setelah semua ini terjadi tidak bisa.

Sejak awal, Franz tahu Vivi akan membayar perbuatannya, keinginan mungkin tidak akan tercapai dan banyak hal akan terjadi, termasuk mungkin keluarganya akan kembali tercerai berai.

Tapi untuk Franz meskipun dia hanya bisa berpegangan pada satu tali, pada satu harapan dia akan melakukan itu, menjadi kuat adalah pekerjaan yang sulit, tidak bisa terlihat lemah di depan orang lain, harus menjadi orang yang menjaga semuanya tetap utuh.

Berapa lama lagi dia bisa bertahan, hanya itulah yang selalu ada dipikirannya.

“Mau ketemu siapa ya pak?”

Seorang suster menghampirinya ketika Franz ingin langsung masuk ke dalam.

“Oh, saya Franz, saya–”

“Oh, saya tahu, Pak Andre tadi udah telfon saya, Bapak mau ketemu Pak Barni, kan?”

“Iya sus, Pak Barni bisa ditemui?”

“Bisa Pak, kebetulan waktu dia nonton berita tadi dia agak cemas dan dia minta obat untuk nahan sakit, dia bilang seseorang pasti akan menemui dia hari ini.”

Franz diam sambil mendengarkan suster itu bicara dan mengikutinya dari belakang, rumah ini tidak seperti rumah singgah yang dia pikirkan, ini seperti hospiece, dimana perawatan yang dilakukan disini hanya untuk mengontrol rasa sakit pasien agar bisa beraktifitas sampai kehidupan menyuruhnya untuk berhenti.

“Pak Barni sakit apa sus?”

“Pak Barni punya kanker lambung pak, kondisinya sebenernya sudah gak memungkinkan, tapi—seperti yang sudah saya bilang ke Pak Andre, beliau seperti sedang menunggu seseorang untuk datang.”

Franz hanya mengangguk, apakah dia orang yang di tunggu oleh Barni, karena menurut Andre Vivi sudah menemui Barni sebelumnya dan Barni masih ada sampai sekarang, atau apa yang sebenarnya dia tunggu.

Franz di ajak ke sebuah ruang baca yang ada di belakang gedung utama, ruang baca itu tampak kosong hanya ada beberapa lansia dengan penjaganya. Barni, sedang duduk di dekat lemari buku setinggi 1,5 meter.

Dia duduk di kursi yang nyaman itu dengan buku Animal Farm karya George Orwell di tangannya.

“Pak Barni, ada yang ingin bertemu dengan Bapak.”

“Siapa?” tanya dia tanpa melepaskan matanya dari buku tersebut, sepertinya sudah hampir selesai membacanya karena itu, dia menjawab tanpa melihat.

“Namanya Franz Pak.”

Laki-laki tua itu menutup bukunya, lalu mengangkat wajahnya dan melihat Franz. “Oh, kamu mirip sekali dengan ayahmu, nak. Seingatku dulu aku melihatmu kamu belum segagah ini.”

“Halo, Pak, apa kabar?”

Franz mendekat dan duduk di samping Barni.

“Waiting for you this whole life, Franz. Kamu mirip sekali dengan ayahmu, seakan aku melihat Firoz hari ini,” Barni meraih tangan Franz sambil menepuk-nya perlahan.

Franz merasakan tangan laki-laki ini begitu ringkih, sampai dia seakan takut untuk memegangnya terlalu erat. “Maaf Pak, tapi kedatangan saya kesini–”

“Saya tahu, saya nonton berita pagi ini, boleh kamu ambilkan buku Jane Austen yang ada di belakangmu itu?”

Franz menoleh kebelakang, lalu mengambil buku yang diminta tersebut. “Ini Pak.”

“Kamu tahu, saya sangat suka buku ini, buku ini seperti perjalanan ayah dan ibumu, mereka terkadang berbeda pendapat, sama-sama egois, sama-sama ingin menjaga satu sama lain dan tidak takut untuk mengorban nyawa mereka.”

“Mereka sedekat itu?”

Lihat selengkapnya