Shadow of Treachery

Ang.Rose
Chapter #34

THE DEAD

Polisi sudah berada di rumah singgah itu, Franz juga sudah menyuruh Kania untuk membawa forensik. Sampai disana, ternyata tidak hanya Polisi dan Forensik. Namun juga beberapa orang dari BIN. Tak heran karena Barni di biayai oleh BIN disini dan rumah singgah ini punya hak untuk menghubungi BIN jika sesuatu terjadi pada Barni.

Tak hanya lansia yang kenal dengan Barni yang sedih dengan hal ini, tapi juga beberapa perawat yang sudah bersama dengan Barni sejak lama.

Franz mencoba menerobos masuk tapi Kania menghalangi dia. “Biarin gue masuk!” teriak Franz pada Kania.

“Bang! Jangan masuk, ada forensik di dalam. Nia harus interogasi abang, kenapa abang disini?”

“Franz Angkasa Wira?”

Suara yang tenang itu tiba-tiba membuat Franz terdiam, dan berhenti untuk menerobos ke dalam kamar dimana Barni menghembuskan nafas terakhirnya. Ia berbalik melihat orang yang memanggil nama lengkapnya.

Orang itu memakai kaos putih dan juga jaket kulit, tipikal petugas intelijen seperti Andre dan Reigha, yang entah mengapa mereka begitu suka memakai jaket kulit padahal cuaca di Indonesia tidak cocok memakai jaket seperti itu.

“Anda?”

“Wendi Wenlang. BIN, tunggu sebentar, forensik sebentar lagi akan selesai memeriksa keadaan di dalam jadi saya harap anda sabar dan tunggu terlebih dahulu.”

“Did someone tell you about me?”

Wendi diam sebentar lalu menggelengkan kepalanya. “Kami baru saja sampai karena ada beberapa tugas, dan kebetulan saya yang terdekat dengan tempat ini jadi saya yang menghampiri TKP lebih dulu.”

“Dan kalian percaya jika saya bilang dia mungkin tidak meninggal secara natural?”

“Mungkin saja, saya percaya.”

Franz tersenyum. “Oh baiklah, saya tunggu diluar.”

“Saya minta untuk anda membiarkan BIN yang menguburkannya, karena mau bagaimana pun Barni adalah bagian dari kami.”

“Kami?” Franz tak bisa berharap banyak ya, mau bagaimana pun analisisnya pasti tepat. “Ya, mau bagaimana pun, bukan? Lakukan yang harus kalian lakukan.”

Franz keluar dari rumah singgah itu, dia menunggu di parkiran dengan Kania yang mengikuti dia dari belakang. Kania belum menanyainya sejak tadi karena dipotong oleh BIN.

“Bang, sorry tapi Nia harus nanya ke abang.”

Lihat selengkapnya