Reigha terdiam, dia tidak banyak ikut campur dengan pembicaraan tadi karena sejak setengah jam yang lalu ponselnya terus bergetar, dan ini bukan ponsel pribadinya melainkan ponsel yang langsung terhubung dengan Presiden, sejak dia melapor lewat pesan singkat bahwa Barni meninggal dunia, keadaan memang cukup kacau.
Apalagi setelah mendengar bahwa ada keluarga yang bekerja sama dengan Pemerintah dan bahwa sebagian dari Pemerintah kemungkinan tahu tentang mereka, dan apakah Presiden yang sekarang, orang memanggilnya secara pribadi, orang yang membentuk TRP berpihak padanya atau pada mereka.
Ponselnya kembali bergetar, orang ini tidak menyerah, dia terus mencoba menghubungi dan jika dia tidak mengangkat panggilan ini kemungkinan dia akan mengirimkan Paspampres untuk menjemputnya atau membubarkan pertemuan mereka, dan keberadaan Toka dan Wendi akan diketahui.
Wendi, mudah dia adalah anggota BIN akan mudah menjelaskan keberadaannya tapi Toka, orang tidak tahu bahwa Dharma Security ternyata memiliki dua kepemilikan, dan akan sulit untuk menjelaskan posisinya disini.
“Franz, sebelum kita lanjutin pembicaraan ini, gue harus ngomong sesuatu,” ucap Reigha sambil menunjukkan ponsel 2G yang dia pakai dan ada tulisan panggilan pribadi di layarnya.
“Presiden?”
Reigha mengangguk. “Kita tahu sekarang siapa Adipati, nama aslinya, gimana sindikatnya, tapi sadarkan kita sekarang tahu bahwa dia punya jaring sampai ke Pemerintah, dia bisa sekaya itu karena proyek antara keluarga dia dengan Pemerintah.”
“Punya proyek dengan Pemerintah itu gak salah, perusahaan gue pun menang tender untuk proyek pemerintah, tapi masalahnya dia ini-”
“Tok,” Putra yang duduk di sampingnya memotong ucapannya dan menepuk lengannya menyuruhnya untuk mundur dari pembicaraan itu, dia juga menggelengkan kepalanya, Reigha bicara bukan karena dia tidak mengerti hal itu tapi pasti ada alasannya.
“Lo curiga? Atau gak mau call in tentang ini?” tanya Franz, dia sepertinya sudah mengerti maksud Reigha, mereka memiliki pandangan yang hampir sama, sikap Realistis yang sama jadi tak mungkin Reigha yang sangat patuh dengan komando mendiamkan panggilan Presiden begitu saja, itu artinya, ada sesuatu yang mengganggunya.
“Mau gak mau gue harus tetep lapor ke Presiden, karena mau gimana pun anggota polisi di culik, mau dia bersalah atau gak, kita harus kasih peradilan yang adil buat dia, sekarang kita butuh daftar itu untuk mengaitkan keluarga Adipati dengan skandal itu, dan sekarang gue pun tahu kalau mereka punya proyek sama pemerintah, gue gak bisa objektif sekarang, apa orang yang jadi chief chain of command gue terlibat dengan ini atau gak. Tapi kalau gue gak angkat telfon dia sekali lagi, dia akan kirim paspampres untuk bawa gue ke dia.”
Franz terdiam, dia tahu Reigha tidak mau melanggar rantai komando miliknya, tapi juga tidak mau membuat seluruh penyelidikan yang sudah sejauh ini mereka lakukan akan berakhir sia-sia jika memang Presiden ternyata juga dalam jangkar Adipati.
“You don’t want to blow up this case if he’s one of them, right?”
“Yeah, penyelidikan ini udah ngebuat seluruh tim gue lelah, bukan cuma Andre sama Putra, tapi semua tim gue, mereka gak disini bukan berarti mereka gak terlibat dengan kasus ini. Tama dan Bagas pun harus terluka, parah malah karena hal ini, gue gak bisa Franz, kalau laporan gue nanti bakal ngancurin kasus ini berkeping-keping.”
Franz terdiam dia mengangguk perlahan, manusiawi, mereka sudah bekerja keras sudah lelah, dia pun sudah berharap hingga puluhan tahun demi bisa membawa kejelasan tentang orang tua dan juga Vivi.
Namun, jika ada yang harus dikorbankan, dia harus bisa mengalah.
“Do what you want to do. Lo masih bisa laporin hal ini ke Presiden karena mau gimana pun dia presiden dan sort of boss lo, gue gak masalah, kalau memang dia juga bagian dari ini, kita bisa cari buktinya nanti, kalau pun kasus ini gak selesai sekarang, kita masih bisa lanjutin penyelidikan ini. Prioritas gue untuk tahu apa yang terjadi sama kecelakaan orang tua gue supaya gue bisa jelasin ke adik gue, dan juga kejelasan dimana Vivi dan gimana kondisinya sekarang. Motivasi gue bukan balas dendam tapi keluarga, gue udah berulang kali bilang itu ke lo, prioritas gue Vivi.”
“But this may end up with Vivi going to hell.”
“We already discussed it, right? As long as you give me time to spend with her first, then it’s fine. I still believe in our justice system, even though now I hate that I have to let go of Vivi for the greater good.”
“Oke, then what do you mean about heritage?”
Franz tersenyum. “Waktu gue nemuin Barni di rumah singgah, dia ngasih buku kecil, yang isinya adalah daftar aset milik nyokap gue dan dia yang kelola, inget waktu markas Open Unity di grebek, Roy?”
“Oh iya, nama pemilik ruko Maria, gue gak ngeh karena nama Maria kan banyak.”
“Ternyata asetnya gak cuma itu, ada beberapa yang lain, gue inget, dulu bokap gue pernah bawa gue ke sebuah gedung terbengkalai, dan mungkin Vivi disana.”