Shadow of Treachery

Ang.Rose
Chapter #38

THINK YOU'RE SMARTER THAN ANYONE

Reigha keluar menemui Wisnu yang melihat-lihat di TKP. “Pak Wisnu,” panggil Reigha, sedangkan Putra membuka pintu mobil Franz lalu mengambil buku catatan itu dan menyembunyikannya di kantong celananya lalu mendekat pada Reigha.

“Rei, Franz dimana? Dia terluka?”

“Baik-baik aja, tapi bapak bisa pergi dari TKP pak? Ini TKP TRP bukan TKP Kepolisian.”

“Kamu ngusir saya?”

“Hmm saya gak ngusir pak, tapi saya rasa harusnya bapak jujur aja, sebenernya anda kesini karena masalah penembakan atau ada hal lain yang bapak sembunyikan?”

“Maksud kamu apa? Mau gimana pun dulu kamu di satuan kepolisian, Reigha.”

“Ya memang, tapi saya pindah ke BNN setelah kejadian itu dan tidak kembali ke kepolisian jujur aja bapak kesini mau tahu tentang dimana Kania atau gimana?”

Wisnu sedikit terkejut namun dia tidak heran, karena memang sudah pasti Reigha akan tahu tentang hal itu, hanya saja ternyata dia tahu lebih cepat dari yang dia perkirakan.

“Pak Wisnu, bapak disuruh telfon Presiden, karena ini TKP TRP,” ucap Andre sambil mendekat ke Putra dan memberinya isyarat untuk kembali masuk ke dalam.

“Andre Seyna, udah lama saya gak lihat kamu.”

“Hmm, kebetulan ini bukan waktunya untuk reuni pak, pekerjaan kami banyak, dan bapak tenang aja, kami usahakan Kania gak akan terluka sedikit pun.”

“Saya bertanya tentang Kania karena dia anggota polisi.”

“Ya, begitu juga sebagian dari kami, silakan pak.”

“Franz bener-bener gak mau keluar?” tanya Wisnu.

“Franz punya hal lain yang harus dia urus, dia gak punya waktu untuk ketemu bapak ataupun bikin bapak terkesan,” jawab Reigha sambil menatap Wisnu sinis.

“Maksud kamu apa? Saya dateng kesini untuk membuat seseorang terkesan begitu?”

“Saya gak bilang begitu pak, mobil tim saya udah dateng, tolong pergi,” ucap Reigha.

Wisnu pun mau tidak mau meninggalkan TKP karena TRP mengusir mereka dan TRP memang punya hak untuk mengusir orang lain dari TKP mereka. Mobil Van lain pun sudah terparkir keluar Kin, Aliyah dan Pras.

“Ada sample?” tanya Kin.

Reigha mengangguk lalu membuka pintu mobil dan memberikan cooler box padanya. “Gue gak bisa kenalin kalian semua ke dia, tolong proses TKP, gue harus balik lagi ke dalem.”

“Santai aja bang,” ucap Pras.

Sedangkan Kin mengangguk dan menyuruhnya untuk pergi kembali masuk ke dalam, namun Andre menghalangi Reigha untuk masuk ke dalam, Reigha harus tahu tentang ini dan mau tidak mau dia harus mengatakan ini padanya.

“Gue udah laporan ke Presiden, gue gak bilang kalau kita udah tahu siapa Adipati, dan Presiden minta kita selesain ini dalam 50 jam. Itu artinya kita butuh semua orang Rei.”

“Enggak, lo mau tarik seluruh anggota kita untuk masalah ini? Tama aja bahkan belum bisa balik ke sini karena si Julius gak mau ngomong apa-apa, fokus kita sekarang bener-bener harus nangkep Kania, cuma dia yang bisa bicara tentang Adipati.”

“Tapi tim kita lebih profesional dan efektif, Rei!”

“Sey, setiap dari kita dulunya berangkat dari instansi, kita semua dipilih karena kemampuan kita yang di atas rata-rata termasuk lo, Reigha, Pras, Putra, Aliyah, Ryan, dan Kean, lo bertiga dan bantuan dari mereka itu udah cukup, Franz mungkin cuma beberapa tahun jadi polisi tapi kemampuan dia juga diatas rata-rata lo sadar itu kan? Putra juga pasti sadar. Gak ada alasan untuk lo panggil anggota tim lain dari posnya. Cukup Kean yang berhenti sama kerjaan dia untuk hal ini.”

“Hmm dan sorry kalau gue nyela, Mas Abi gak bisa dihubungi Sey, jadi yang di bilang Kin ada benernya.”

“Rei? Ini serius?”

“Lo denger sendiri prioritas Franz itu keluarga, yang artinya itu Venice, selama dia masih bisa kita pegang, kasus ini aman, kalau gue maksa untuk pakai semua tim gak mungkin kalau Venice bisa end up mati atau langsung di bawa ke tahanan sedangkan gue udah janji untuk bisa biarin Franz dan adiknya kumpul dulu sama Vivi sebelum di bawa.”

“Oke, gue paham.”

***

Lihat selengkapnya