Vivi terdiam menunggu Kania sadar dari pengaruh obat bius ingin mengetahui apa yang terjadi 20 tahun membuat Vivi nekat untuk melakukan hal ini, mendengar laporan dari Toka bahwa keluarga manusia ini merupakan orang yang meraup keuntungan dari negara secara sistematis, mereka mengatur apapun yang bisa mereka atur.
Kania menggeliat sepertinya efek obat bius itu telah menghilang darinya, Kania terlihat mencoba untuk membangunkan dirinya sendiri. Vivi sudah mengikat tubuh Kania di kursi, dia terlihat ingin melepaskan ikatannya, namun tidak bisa, matanya terlihat mencari-cari siapa orang yang melakukan ini padanya.
“Lo siapa sebenernya?” ucap Kania setelah melihat Vivi duduk tak jauh darinya.
“Gue? Mimpi buruk lo, Kania Kamandaka,” jawab Vivi sambil menyilangkan kakinya.
“Lo, anak itu?”
“Ya, gue anak itu, gue anak yang di kejar sama keluarga lo, sampai ngebuat orang tua gue mati di tengah jalan. Gue tanya lo, siapa yang bunuh orang tua gue?”
“Gue gak ada hubungannya sama kejadian itu, gue gak tahu apa-apa gue bahkan bukan keluarga inti dari mereka. Gue anak haram Briandi.”
“Gue gak peduli Kania, mau lo anak haram dia atau gak, tapi kenyataannya, keluarga lo ngebunuh orang tua gue!” teriak Vivi.
Kania terdiam sebentar seperti sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. “Gue tahu, tapi lo gak bisa nyalahin gue. Gue gak tahu apa-apa tentang kejadian 20 tahun lalu gue gak ada hubungannya sama itu.”
“Keluarga lo, udah bikin keluarga Franz gak utuh, udah bikin mereka harus hidup tanpa orang tua ketika mereka seharusnya masih bisa sama-sama, dan lo masuk ke kepolisian deket sama dia, dan minta jadi juniornya, lo gak punya malu?”
“Kenapa gue harus malu? Gue jad polisi karena memang gue mampu dan gue–”
“Bacot! Lo pikir gue gak tahu!?” Vivi mengambil balok kayu di sampingnya dan mengarahkan balok kayu itu ke hadapan wajah Kania.
“Kak!” teriak Chian dari belakang dan menarik tangan Venice agar tidak melanjutkan perbuatannya. “Kalau dia terluka nanti kakak yang salah.”
“Kepolisian juga udah nyari dia, gue juga pasti tetep bakal masuk penjara.”
“Lo tuh buronan, mending lo lepasin gue dan biarin gue keluar,” ucap Kania.
“Eh bacot lo ya, gue ngehalangin dia mukul lo, bukan berarti gue belain lo ya, lo harus tahu diri,” ucap Chian.
Vivi terkejut mendengar suara mobil, Kania yang tahu itu pasti adalah polisi. “Tolong! Disini!” teriak Kania.
“Bangsat emang ya manipulatif, setan!” ucap Vivi lalu menampar Kania. “Lo gak malu? Lo yang udah bikin keluarga orang hancur tapi merasa paling tersakiti? Ngaca bangsat!”
Chian menarik Vivi untuk tidak mendekat lagi dengan dia, karena kemungkinan itu memang polisi yang datang, mau sebenci apapun Vivi pada Kania, bagaimana pun sekarang Kania masih anggota kepolisian dan itu artinya masih ada hukum yang melindunginya.