Shadow of Treachery

Ang.Rose
Chapter #41

THE FAMILY

Franz menghentikan mobilnya di depan rumah, dia membuka pintu penumpang dan membiarkan Vivi melepaskan sabuk pengamannya sendiri, dia melihat rumah yang dulu pernah dia tempati, rumah yang biasanya hanya dia lihat dari CCTV namun akhirnya kembali bisa dia jejaki kembali.

“Gue, balik dulu,” ucap Roy sambil menepuk pundak Franz.

“Thanks Roy, makasih buat semuanya.”

“Kita temenan bukan cuma karena kasus orang tua lo dan Venice, nikmatin aja waktu lo dulu, nanti kalau ada kasus lagi, gue kabarin.”

“Hati-hati.”

Roy pergi dari rumah itu, dan Franz menggenggam tangan Vivi. “Kamu udah dirumah sekarang,” ucapnya.

Vivi hanya menatap Franz dia tersenyum lebar dan memeluk lagi kakaknya itu. “Maafin aku, Kak. Karena aku papa sama mama meninggal, kalau aku gak ngelakuin itu mereka gak mungkin meninggal.”

“Kalau kamu gak ngelakuin itu, kita gak akan pernah ketemu, Vi. Aku gak akan tahu kamu siapa. And our path won’t cross, don’t blame this on yourself.

Terdengar suara gemuruh dari dalam rumah, pintu rumah terbuka secara paksa, Fiona anak kecil yang terlalu cepat dewasa itu tiba-tiba menangis melihat kakak perempuan yang hilang sejak dia masih kecil.

Dibelakangnya ada Tama yang sepertinya menjemput Fiona dari rumah sakit, Putra memberitahunya, kalau mereka akan menangkap Adipati hari ini, tapi prioritas Tama setelah interogasi adalah Fiona. Dia tahu seberapa berharganya arti Keluarga untuk Fiona.

“Kak Vi!” teriak Fiona sambil berlari memeluk Vivi.

“Fion bisa libur sampai lusa, gue udah bilang sama tante,” ucap Tam pada Franz.

“Julius gimana?”

“Awalnya bener-bener alot dia gak mau ngomong sama sekali, tapi waktu Putra bilang, sebut nama Kamandaka, dia minta deal supaya dia bisa ngomong.”

“Terus? Lo kasih deal?”

“Ya, mau gak mau, keringanan hukuman, hakim sama jaksa harus terima kecaman nanti, karena kita gak bisa bocorin keterlibatan Julius dalam dakwaan Kamandaka nanti.”

“Bisa kita ngomong di dalem aja?” tanya Fiona.

“Ayo, ayo masuk ke dalem,” ujar Franz sambil mendorong mereka berdua masuk ke dalam rumah.

“Mobil kamu kenapa, Kak? Kok hancur gitu, ini juga rumah kenapa bolong-bolong kaya bekas tembakan.”

“Masalahnya emang bekas tembakan, Adipati nyewa pembunuh bayaran, buat bunuh Junaidi, penyerangan Tama sama Bagas, Pak Barni dan mereka hampir bunuh aku sama TRP juga.”

Franz mengunci pintu rumah dan mereka berkumpul di sofa. Laporan penyelidikan, skema, layar TV semua masih sama seperti mereka tinggalkan tadi. Vivi tidak langsung duduk melainkan melihat seluruh penyelidikan mereka. Matanya tertuju pada arsiran di laporan Junaidi The List Exist Vivi terdiam melihat itu lalu tangannya meraba arsiran tersebut.

Ingatannya seakan kembali ke masa itu, ke masa dimana mereka berdua bertemu dan Junaidi memiliki begitu banyak dendam di matanya, mengingat hal itu dia seakan melihat dirinya sendiri lagi. Melihat kilasan flashback hidupnya.

“Fion, kamu udah masak?” tanya Franz.

Fiona melihat ke arah dapur yang penuh dengan gelas kopi dan kotak makanan pesan antar. “Aku masak dulu kalau gitu, tadi udah belanja juga.”

Franz mengucapkan thank you dengan gerakan mulut, Fiona mengangguk dan dia memberi kode pada Tama untuk ikut dengannya ke dapur, Franz harus membicarakan sesuatu dengan Vivi tanpa ada yang tahu.

Franz tidak pernah ingin adiknya tahu terlalu banyak karena akan berbahaya untuknya, informasi itu seperti pedang bermata dua, dia bisa senjata yang mematikan untuk orang lain, tapi juga seperti bumerang yang bisa menyerang diri sendiri.

“Vi, duduk dulu sini, aku mau ngomong.”

Vivi menoleh dan melihat tangan Franz yang menepuk sofa di sisinya. Dia pun menurut dan duduk disampingnya, tak lupa seperti yang biasa dia lakukan, Vivi menyadarkan kepalanya di bahu Franz, yang kini rasanya sudah berbeda dengan yang dulu. Bahu Franz sudah lebih lebar dan tangannya bisa merengkuh tubuhnya. Kehangatan yang mengalir ke tubuhnya tanpa harus mendekap lebih erat.

“Orang-orang banyak yang bilang kalau kamu sempet hilang beberapa tahun setelah kecelakaan, kamu kemana?”

Vivi menghela nafas, seakan dia tidak istirahat setelah penyelidikan bertahun-tahun dan kini dia kembali menceritakan apa yang terjadi.

“Kakak tahu darimana cara nemuin aku? Toka ada sama kakak, itu artinya dia yang ngasih tahu?”

“Toka, takut kamu nekat, jadi dia juga mempertaruhkan perusahaannya, kamu tahu dia vendor kepolisian?”

Vivi mengangguk. “Ya, karena itu aku rekrut dia. Tapi kakak belum jawab pertanyaan aku.”

“Kakak nemuin Barni, dia kasih list aset mama, kakak suruh Toka untuk eliminasi tempat yang udah pernah kalian tempatin, kakak juga inget gedung itu, karena waktu papa nampar kakak, dia bawa aku ke sana. Kita ngobrol disana—untuk bawa kamu ke keluarga ini.”

Vivi tersenyum kecil mendengar itu, tapi dia juga tahu, kebahagian ini tak akan bertahan lama. “Hmm, berarti kakak tahu harus kemana?”

“Toka nunggu ping GPS dari Chian tapi gak ada, kita punya 2 tempat untuk di eliminasi, tapi masalahnya, waktu kita gak banyak, dan 2 tempat itu bertolak belakang, satu di utara, satu di selatan. Jadi—”

Vivi tersentak. “Jangan bilang Toka, astaga, harusnya dia gak boleh menghubungi. Oh shit, what have I done? Shit, things are gonna be complicated now.

Lihat selengkapnya