Kini tak hanya Kania yang berada di tahanan rahasia TRP melainkan juga ayahnya, Briandi. Keluarga Kamandaka kini telah habis, semua telah di tangkap, namun tetap, dakwaan mereka tidak sempurna, perintah pembunuhan pasangan Wira dan Venice adalah Lukman Kamandaka yakni ayah Briandi, tapi itu semua hanya omong kosong.
Semua saksi mata yang terlibat dalam kejadian tersebut sudah mati, menteri kehakiman pada waktu itu, mati. Agen BIN yang melaporkan posisi keluarga Wira, Barni juga sudah mati. Yang masih hidup dalam kejadian kecelakaan itu adalah Venice.
Tapi Venice juga tidak punya bukti langsung, apalagi pool suspect mereka sudah mati.
Kini mereka hanya bisa fokus pada kasus-kasus baru. Namun, itu saja mereka mendapatkan banyak masalah, kelompok pembunuh bayaran yang dipakai oleh keluarga Kamandaka belum bisa mereka temukan.
Salah satu anggota TRP yang fokusnya menyelidiki kejahatan terorganisir pun belum memberikan jawaban apapun, bahkan mereka belum tahu apakah orang itu membaca pesan yang disampaikan oleh mereka atau tidak.
Terkadang kesulitan menjadi NOC adalah Reigha tak akan mendengar apapun sampai sesuatu terjadi, dari permintaan pertolongan evac, ataupun urgent investigation.
Kin membuka pintu, Reigha melihatnya yang hanya menunjukan setengah badannya lalu mengetuk pintu. Kebiasaan yang tidak pernah luput dia lakukan, membuka pintu baru mengetuk.
“Hasilnya udah keluar?”
“Lo tahu, kita gak punya sampel yang cukup untuk kurang lebih 280 juta jiwa masyarakat indonesia. Tapi, sistem kita cukup cepat mendeteksi kalau tidak ada sampel yang cocok.”
“Lo serius?” tanya Reigha.
Kin meletakan hasil laporan yang dia buat di meja. Lalu duduk kursi. “Gue tahu lo frustasi Rei, kita belum punya bukti konkret kan?”
“Ya, gue belum bisa kaitin mereka dengan semua kasus ini, cuma masalah pembunuhan Junaidi aja dan belasan perintah lainnya dari hasil rekaman Kania sama Briandi.”
“How long do we have? Soal skandal keuangan itu gimana?”
“Hmm, gue janji sama Franz kalau dia bisa bawa Venice pulang, dan kita cuma punya waktu–”
Pembicaraan itu terhenti karena tiba-tiba seorang paspampres menerobos masuk ke dalam ruangan. “Bapak mau ketemu dengan semua orang yang terlibat.”
“Semua orang itu siapa? Termasuk Franz, Tama, Roy, Bagas, Candra?”
“TRP,” ucapnya. “Mari ikut.”
“Mohon maaf, untuk saat ini saya gak bisa. Kami punya tersangka yang harus dijaga gak bisa pergi begitu saja.”