Berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya Reigha tidak pernah simpati terhadap kasus yang dia kerjakan, kali ini dia cukup bersimpati kepada satu keluarga ini, jika menyangkut tentang Ryan anggota TRP yang tewas dan kasusnya sudah selesai mereka kerjakan, di dalam diri Reigha bukan simpati melainkan amarah.
Melepaskan satu perwira terbaik bangsa, dan juga orang yang dia anggap adik, kini keluarganya pun harus menelan pil pahit akibat keputusannya yang tidak menggubris hal tersebut.
Belajar dari kesalahan, Reigha tidak pernah menganggap remeh lagi ancaman yang masuk ke telinganya, sekecil apapun itu, dia akan melakukan penyelidikan awal sebelum akhirnya memutuskan ancaman itu bisa membesar dan bisa dilepaskan ke instansi lain atau dia dan TRP yang akan membereskannya.
Sama halnya kini dengan kondisi keluarga Wira. Keluarga yang seharusnya sudah hidup nyaman sebagai warga sipil sejak lama, namun mereka harus hidup sulit karena segelintir orang ingin memperkaya diri mereka dan mengorbankan banyak manusia.
Apa ujung dari kasus ini? Tidak ada, kasus ini masih menggantung sampai Venice memberikan bukti konkret keterikatan Keluarga Kamandaka pada Skandal Keuangan besar di masa lalu, namun dia tidak percaya bahwa Venice akan memberikan list itu secara utuh, karena bagaimana pun juga, meskipun daftar itu yang membuatnya memiliki harga di kepalanya, tapi daftar itu juga yang menjadi alasan dia tetap hidup dan berharga.
Pemerintah tidak akan mungkin membunuhnya, mereka membutuhkan Venice tetap hidup, agar mereka bisa mengembalikan uang negara dan memakainya untuk kepentingan masyarakat.
Tapi, apa iya? Apa uang yang sebanyak itu tidak akan membuat orang gelap mata? Sama seperti di film Spiderman, with great power comes great responsibility. Belum ada bukti dimana orang memegang begitu banyak uang dan tidak melakukan korupsi.
Belum ada bukti dimana masyarakat bisa menaruh kepercayaan penuh terhadap pemerintah.
Apa itu artinya pandangan Reigha kini telah berubah, sepertinya iya.
Hal tragis menimpa keluarga Wira bukan berarti itu tidak akan menimpa dia dan TRP, sudah pasti hal konyol seperti itu akan terjadi kepada mereka ketika rezim selesai. Mereka berpikir bahwa yang mereka lakukan demi keadilan dan negara, karena memang itulah yang tertanam pada diri mereka, tapi apakah kini berbeda.
Reigha tahu akan ada saatnya dimana, mungkin waktu mereka selesai dan mereka harus menyelamatkan diri mereka sendiri dan Reigha tahu bagaimana caranya.
Tok… tok…
Dia tidak ingin melakukan hal ini, karena baginya, keluarga ini sudah cukup menderita, tapi mau bagaimana lagi, ini tetap harus mereka lakukan, karena mereka masih berada di bawah hukum yang berlaku.
Pintu tersebut terbuka, ternyata Fiona yang membuka pintu tersebut, matanya sembab dan merah. Bahkan mereka hanya bertemu sekali dan terlihat dari sudut pandang Reigha bahwa anak ini ingin sekali memukul rahangnya hingga dislokasi, atau memukul perutnya hingga lambungnya bergetar, atau mendorong kepalanya ke tembok sampai berdarah.
Ya, Reigha bisa melihat itu dari tatapan matanya yang tajam.
“Maaf, tapi saya harus ngelakuin ini,” ucap Reigha.
Fiona hanya bergeser membuat Reigha bisa masuk ke dalam, Venice dan Franz sudah ada disana seakan menunggu kedatangan mereka. Baru kali ini penangkapan menjadi aktivitas yang cukup berat baginya.
“Trust me, kalau bisa pun gue gak pengen disini dan nangkep lo,” Reigha mencoba menjelaskan bahwa dalam hatinya dia tidak suka hal ini, dia tidak suka memisahkan keluarga yang baru saja bisa bersama setelah 20 tahun terpisah.
“Bisa gue jenguk kakak gue kalau dia udah di tahanan?” tanya Fiona.