Shadow of Treachery

Ang.Rose
Chapter #45

EPILOG?

Perjalanan seorang manusia tidak hanya tentang lahir, hidup, lalu mati. Tapi juga tentang berbagai macam keputusan yang dijalani dan diambil semasa hidup. Kehidupan tidak pernah indah, tidak pernah selalu bahagia.

Vivi ingat ketika dia masih tinggal bersama sang ibu, dia pernah berkata, “semakin kamu dewasa kamu akan semakin mengerti kalau, semua yang terjadi ada maksud dan tujuannya.”

Terdengar begitu klise, begitu di atas awan begitu tidak masuk akal bagi Vivi yang masih berusia 6 tahun, dan kata-kata itu adalah mendiang ibunya di atas kasur setelah berulang kali berjuang melawan penyakitnya.

Apa yang bisa didapat dari kematian orang tua, selain kesedihan dan kenyataan bahwa dia kini tidak memiliki poros kehidupan lagi, seorang ibu. Dia tidak pernah memikirkan ayahnya karena bagi Vivi, ibunya cukup.

Dia tinggal di panti asuhan selama beberapa tahun, hampir 4 tahun lebih, yang dia ingat ketika umurnya beranjak 10 tahun, ada seseorang yang mencarinya, dan mengatakan bahwa dia akan merawatnya dengan baik.

Orang itu yang mengajari Vivi banyak hal, dari kode, komputer, kehidupan, cara memasak hingga bertahan hidup, dan mengajarinya bahwa, informasi merupakan pedang bermata dua.

Sepesat apapun perkembangan teknologi nantinya, sepintar apapun manusia nanti, atau mungkin robot akan mengambil alih dunia, informasi dan pengetahuan akan tetap menjadi senjata yang paling ampuh untuk bertahan dan menyerang.

Pesan terakhir orang tua itu, “ingatlah, isi kepalamu itu lebih berharga dari apapun.”

Sehingga Vivi tak pernah khawatir, dia tidak pernah berpikir kalau hidupnya tak berharga, sebagai seorang anak berumur 14 tahun saat itu, masih naif, masih kecil, masih bodoh, ketika orang tua itu menghilang, dia beranggapan bahwa kini tugasnya untuk mengambil informasi sebanyak-banyaknya, agar ketika orang tua itu nanti kembali dia akan menunjukkan bahwa dia tidak seperti anak yang dulu dia ambil dan asuh.

Hingga Vivi tidak pernah menyangka bahwa dia kini telah menjadi monster yang menakutkan. Dia telah banyak berubah dan tidak peduli informasi apa yang dia ambil, dia mengerti akibat dari semua perbuatannya ketika mobil itu ditabrak oleh truk.

Dia baru paham bahwa ternyata keputusannya salah, yang dia lakukan bukanlah mencari dimana The Code berada, namun mencuri informasi membabi buta.

Dia mengerti semua yang dia lakukan salah ketika dia sadar telah merusak satu-satu orang yang menganggap dia sebagai anak, memberikan tempat bernaung yang nyaman, memberikan tempat tidur dan makanan enak, kasih sayang, bahkan membuatnya merasakan apa itu keluarga, dan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak dan seorang adik.

Mungkin jika dia tidak melakukan itu memang mereka tidak akan bertemu, tapi tidak pernah terlintas di pikiran Vivi bahwa mereka akan meninggal karena menyelamatkanya, ketika dia merasa hidupnya taklah berharga untuk diperjuangkan dan tak pantas untuk hidup ketika semua orang meninggalkannya.

Dan kini Vivi duduk di sebuah ruangan persidangan tertutup dimana Franz dan Fiona, TRP serta Roy melihat persidangan tersebut. Persidangan ini sebenarnya hanya formalitas pembacaan dakwaan dan hasil persidangan, Vivi tidak meminta keringanan hukuman dan pembelaan karena memang yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan.

“Dakwaan berupa. Undang Undang perlindungan data pribadi yakni, mengumpulkan dan memperoleh data pribadi secara ilegal untuk kepentingan pribadi, menggunakan dan mengungkap data untuk pengancaman secara nasional, penggunaan data ilegal untuk pengancaman terhadap korporasi dan negara. Lalu, Undang Undang ITE yakni, akses sistem elektronik baik perorangan dan instansi atau korporasi, akses ilegal dan menyebabkan perubahan, penghilangan dan atau pencurian data, lalu akses ilegal terhadap sistem elektronik pemerintah. Terhadap Dakwaan di tersebut, saudara Viviane Marlane dituntut dengan 25 tahun serta denda sebesar 50 miliar rupiah. Dengan ini saudara Viviane Marlane dinyatakan bersalah dengan masa tahanan 15 tahun serta denda sebesar 50 miliar rupiah. Tersangka akan dibawa ke penjara khusus yang tidak diketahui oleh siapapun, tersangka juga tidak diperbolehkan untuk memegang komputer hingga masa tahanannya berakhir.”

Ketukan palu hakim terdengar itu tandanya persidangan ini telah selesai dan vonis sudah dijatuhkan terhadapnya. Vivi memang sudah pasrah dengan semua itu, berapa pun hukuman yang dijatuhkan kepadanya akan dia lakukan dengan senang hati, asalkan keselamatan keluarganya terjamin.

Mereka bisa jaga diri, pasti bisa.

“Yang mulia, boleh saya bertemu dengan keluarga saya sebelum berangkat ke tahanan?” pinta Vivi.

“Silakan, tapi tidak bisa lama-lama.”

“Terima kasih yang mulia.”

Vivi berbalik dan melihat Franz serta Fiona yang berdiri menunggunya, Fiona bahkan menahan tangis, Vivi bisa melihat hal itu, dia tahu adiknya menahan kesedihannya dan mencoba terlihat kuat.

Franz yang memulai memeluk kedua adiknya, mereka bertiga berpelukan untuk beberapa saat.

Lihat selengkapnya