Shafa, gadis cantik yang kini duduk di bangku kelas akhir salah satu SMA paling elit dan bergengsi di Jakarta, akhirnya tiba kembali di tanah air. Ia baru saja pulang dari kegiatan studi toure luar negeri yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Dengan wajah berseri dan senyum yang tak luntur dari bibirnya, gadis itu segera menghubungi sopir keluarga bernama Mang Asep, untuk meminta dijemput. Namun, berulang kali telepon itu berbunyi, tak ada satu pun jawaban yang ia dapatkan.
"Ya ampun... Ada apa gerangan sih Mang Asep ini? Biasanya paling cepat tanggap, kok hari ini ditelpon berkali-kali malah nggak diangkat sama sekali sih?" gerutunya kesal sambil menendang-nendang batu kecil di dekat kakinya.
Belum sempat emosinya memuncak, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap tiba-tiba berhenti tepat di depan tempat Shafa berdiri. Pintu kaca jendela turun perlahan, memperlihatkan wajah yang sangat ia rindukan.
"Sayang! Ngapain melamun di sini? Dan kenapa pulang nggak bilang sama aku kalau hari ini sampai? Tau gitu aku bisa langsung jemput dari tadi kan," tanya Aryo, pemuda yang tak lain adalah tunangan Shafa, yang langsung turun dan menghampirinya.
Wajah kesal Shafa seketika berubah merah bersemu malu. "Eh... Iya maaf ya Sayang. Tadi di perjalanan sinyalnya hilang terus, jadi nggak bisa kabari siapa-siapa," jawab Shafa berkilah halus.
"Kok mukanya cemberut gitu? Ada masalah apa emangnya?" tanya Aryo peka, ia tahu sekali perubahan mimik wajah kekasihnya itu.
"Ini loh, dari tadi aku telepon Mang Asep nggak ada jawaban sama sekali. Bingung mau pulang sama siapa, padahal badan rasanya sudah capek dan pegal semua, pengennya langsung rebahan di kamar," keluh Shafa sambil memijat bahunya sendiri.
Aryo tersenyum lembut, hatinya meleleh melihat wajah lelah tunangannya itu.
"Ya ampun... Kasihan sekali calon istriku ini. Kalau gitu, sekarang sama aku saja ya? Aku antar pulang," tawarnya dengan nada membujuk.
"Emangnya nggak ganggu kerjaan kamu Mas? Kan biasanya jam segini kamu sibuk banget," tanya Shafa ragu.
"Hmm... Sebenarnya sih ada. Ini aku lagi mau berangkat rapat penting sama klien besar. Tapi karena kamu ada di sini dan butuh aku, aku rela kok telat sedikit demi kamu. Ayo masuk, aku antar sampai depan pintu," ucap Aryo tulus.
"Jangan deh Sayang, kerjaan kamu kan lebih penting dan menjanjikan masa depan kita. Nanti aku pesan taksi aja bisa kok," tolak Shafa tak enak hati.
"Buat aku, kehadiran kamu jauh lebih penting daripada apa pun itu. Uang bisa dicari kapan saja, tapi wanita yang aku cintai dan akan jadi ibu dari anak-anakku, nggak akan ada gantinya kalau hilang. Ayo," Aryo langsung membukakan pintu mobil lebar-lebar untuk Shafa.
"Makasih ya Mas... Kamu selalu saja begitu," ucap Shafa dengan senyum paling manis yang ia miliki.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman orang tua Shafa, mereka berdua asyik mengobrol dan bercanda, sampai-sampai Aryo kurang fokus pada jalanan dan hampir melewati gerbang rumah besar Shafa yang tampak seperti istana itu.
"Astaghfirullahaladzim... Hampir lewat kita Sayang!" seru Aryo kaget sambil segera memutar setir dan memundurkan mobilnya sedikit.
"Maaf ya Sayang, Mas kebanyakan ngobrolnya sampai lupa jalan," ucap Aryo merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok, yang penting selamat. Asal jangan sampai dibawa rapat," canda Shafa tertawa renyah.
"Ah kamu bisa aja. Sayang, maaf banget ya, Mas nggak bisa mampir. Rapatnya itu sangat krusial dan nggak bisa diundur lagi. Sampaikan salam hormat dan maaf aku sama Papi Mami ya," kata Aryo dengan nada menyesal.
Mata Shafa langsung berbinar-binar, rasa sayangnya meluap-luap. Ia langsung menggenggam tangan kekar Aryo dan mengangkatnya lalu menciumnya dengan penuh rasa hormat dan cinta.
"Iya nanti pasti aku sampaikan kok. Kamu hati-hati di jalan ya Sayang, pelan-pelan aja nyetirnya," pesan Shafa lembut.
"Iya cantik," Aryo pun membalas dengan mencium kening Shafa dengan sangat lembut dan penuh kasih.