Sore itu, langit Jakarta yang biasanya terlihat indah dan mempesona dengan semburat jingga kemerahan, bagi Shafa terasa begitu kelabu, suram, dan menyesakkan dada. Di dalam kamarnya yang luas, berperabot mewah, dan beraroma wangi bunga mawar itu, gadis cantik itu masih meringkuk di sudut ruangan yang paling gelap, jauh dari jangkauan cahaya matahari sore yang masuk lewat celah jendela besar. Bahu rampingnya berguncang hebat, menahan isak tangis yang sedari tadi tak kunjung berhenti, seolah air matanya tak akan pernah kering.
Semua mimpi indah yang ia susun rapi begitu indah di masa depan, seakan hancur berantakan diterpa badai kenyataan yang datang begitu cepat dan tak terduga. Rencana kuliah ke luar negeri, pesta pernikahan mewah dan megah bersama Aryo, hingga gaya hidup elit dan serba berkecukupan yang selalu ia nikmati sejak kecil… semuanya lenyap dalam sekejap mata hanya karena satu kalimat singkat namun mematikan dari mulut Papinya: "Papi bangkrut, Nak."
"Kenapa harus kita? Kenapa harus sekarang? Kenapa Tuhan sekejam ini sama aku?" rintih Shafa lirih, suaranya sudah terdengar serak habis menangis. Ia menatap sekeliling kamarnya yang dipenuhi barang-barang bermerek dan mahal. Lemari besar kaca yang berisi ratusan pasang sepatu dan gaun-gaun impor seharga mobil kecil, meja rias marmer yang penuh dengan kosmetik dan perhiasan berlian, hingga gawai canggih terbaru yang selalu ia ganti tiap kali keluar seri baru. Semua benda ini dulu terasa biasa saja, tak ada harganya baginya. Tapi sekarang, semuanya terasa begitu asing dan menyakitkan. Barang-barang mewah ini sebentar lagi bukan miliknya lagi. Semuanya akan diambil, disita, atau dijual untuk menutupi utang yang menumpuk.
Pikirannya kembali melayang pada ucapan tegas Papinya tadi, ucapan yang menusuk hati dan membuatnya makin bingung: "Jangan sekali-kali kamu meminta bantuan atau mengemis pada orang lain, termasuk calon suamimu itu."
Shafa memukul-mukul lantai keramik dingin itu dengan kepalan tangannya yang lembut namun penuh amarah.
"Aku sekarang gak punya muka untuk bertemu Mas Aryo, sekarang aku gak setara dengan Mas Aryo," lirih Shafa, air matanya jatuh lagi makin deras.
Tiba-tiba, ponsel pintar berlayar lebar yang tergeletak di atas kasur empuknya bergetar berkali-kali dengan nada dering yang merdu. Layarnya menyala terang menerangi ruangan yang redup itu. Shafa perlahan mengangkat wajahnya yang bengkak sembab, mengintip nama yang tertera jelas di layar ponsel itu.
"Mas Aryo..." gumam Shafa.
Melihat nama itu, dada Shafa makin terasa sesak dan nyeri, matanya kembali memanas dan air mata kembali menetes deras. Harusnya dia sangat senang kalau Aryo menelepon. Harusnya dia cerita dengan gembira kalau dia sudah sampai rumah dengan selamat, kalau dia kangen, kalau dia rindu pelukan hangat tunangannya itu. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana dia harus bicara dan bersikap kalau detik ini juga status sosialnya sudah berubah drastis dari putri konglomerat yang dielu-elukan menjadi gadis miskin yang tak punya apa-apa?
Dering panggilan itu berhenti sebentar, membuat hati Shafa berdegup kencang tak karuan, namun tak lama kemudian ponsel itu bergetar lagi. Aryo memang tidak pernah menyerah dan selalu berusaha sampai mereka benar-benar bisa bicara.
"Ya Allah, Mas... Apa yang harus aku katakan kepadamu? Apakah kamu akan menerima aku apa adanya setelah tahu keluargaku bangkrut? Aku begitu mencintaimu, Mas, sampai aku takut kehilanganmu. Gimana? Apa yang harus aku lakukan, Mas?"
Dengan tangan gemetar Shafa mengambil ponselnya, dan melangkah menuju balkon kamarnya. Ia kembali melihat layar ponsel itu dengan gemetar, seolah ada beban berton-ton yang mengikatnya turun ke bumi. Ia terhuyung lalu dengan perlahan duduk di sofa yang menghadap gedung-gedung pencakar langit.
Shafa menarik napas panjang, lalu mengusap kasar sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, mencoba mengatur napas dan menahan isak tangis agar suaranya terdengar biasa saja, ceria seperti biasanya. Ia tidak boleh terdengar lemah. Ia tidak boleh terdengar menyedihkan atau penuh masalah. Setidaknya, belum saatnya Aryo tahu kenyataan pahit itu. Belum sekarang, biarkan dia menikmati kebahagiaan sedikit lebih lama sebelum menerima kenyataan pahit kalau bagi Shafa, ya itu berakhirnya hubungan. Shafa sudah pasrah jika Aryo maupun keluarganya membatalkan rencana indah itu, ia pun merasa sudah tak pantas bersanding dengan Aryo.