Di ruang tamu, Papi Arkana dan Mami Natalie sedang duduk berdua, saling bertukar cerita dan obrolan ringan untuk sedikit meringankan beban pikiran mereka. Tiba-tiba, langkah mungil terdengar mendekat. Keduanya serentak menoleh dan melihat Shafa berjalan menghampiri dengan kedua mata yang terlihat bengkak dan merah; jelas sekali gadis itu habis menangis cukup lama.
“Pi, Mami…” sapanya lirih, lalu duduk di kursi kosong tepat di samping kedua orang tuanya. Shafa melihat koper-koper besar sudah tertata rapi. Ia pun menghela napas panjang, tak menyangka semua ini akan terjadi. Rumah megah yang selalu ia banggakan, beberapa jam lagi harus ia tinggalkan.
“Wah, ada putri kesayangan Papi datang nih,” sapa Papi Arkana lembut. Tanpa pikir panjang, ia langsung merentangkan tangan dan memeluk tubuh Shafa dengan penuh kasih sayang dan kerinduan yang mendalam. Di bibirnya terukir senyum, namun jauh di dalam hatinya, rasa sakit dan rasa bersalah itu masih terasa begitu nyeri.
“Nak… Maafin Papi ya, atas semuanya,” bisiknya, lalu mengecup kening putrinya berkali-kali dengan penuh rasa penyesalan.
“Enggak, Pi… Ini sama sekali bukan salah Papi,” jawab Shafa pelan sambil menggelengkan kepalanya; air matanya mulai kembali menetes. “Justru akulah yang salah. Aku terlalu egois, cuma memikirkan perasaanku sendiri, sama sekali nggak peduli sama apa yang Papi dan Mami rasain. Aku cuma mau menang sendiri. Maafin Shafa ya, Pi, Mi…” isaknya, hingga tangisnya kini pecah kembali. Shafa yang tadinya egois dan sulit menerima kenyataan pahit itu, akhirnya mulai mengerti. Walapun berat, ia tahu orang tuanya jauh lebih menderita dibandingkan dirinya yang hanya anak manja.
“Alhamdulillah… Sudah, Nak, jangan nangis lagi dong. Nanti Papi makin sedih melihatnya,” ucap Papi Arkana, lalu mempererat pelukannya, berusaha menyalurkan kekuatan pada anaknya.
“Justru Papi yang harusnya minta maaf sama kamu, Sayang. Maaf ya kalau nanti kehidupan kita berubah, dan kamu nggak bisa nikmati kemewahan dan kenyamanan seperti yang kamu rasakan selama ini,” lanjut Papi Arkana dengan suara yang bergetar.
“Aku memang sempat kaget dan syok berat, Pi, tapi sekarang aku udah mulai terima kenyataan. Aku sadar, ini ujian buat kita semua. Di mana pun Papi dan Mami tinggal, Shafa mau ikut. Shafa nggak akan pisah sama kalian,” ucap Shafa di sela-sela tangisnya yang mulai mereda.
“Kamu serius? Kamu udah maafin kesalahan Papi? Kamu rela ikut kita pindah ke tempat yang jauh lebih sederhana?” tanya Papi Arkana. Matanya langsung berbinar dan senyum lebar pun mekar indah di wajahnya.
Shafa mengangguk mantap. “Aku serius, Pi. Emangnya kalau nggak sama Papi dan Mami, terus aku mau tinggal sama siapa lagi? Kalian satu-satunya keluarga Shafa,” jawabnya polos dan tulus.
“Alhamdulillah… Terima kasih, sayangku. Terima kasih banyak ya, Nak,” ucap Papi Arkana penuh haru, kembali memeluk tubuh mungil Shafa dengan rasa syukur yang luar biasa besar memenuhi dadanya.
“Pi… Katanya Papi udah dapat rumah pengganti kita? Benar kan?” tanya Shafa setelah agak tenang.
“Udah dong, Sayang! Kebetulan banget kamu udah turun. Papi memang mau minta pendapat kamu nih. Coba lihat deh, menurut kamu rumah ini gimana?” tanya Papi Arkana antusias, lalu segera memperlihatkan foto bangunan itu di layar ponselnya.
“Mana, mana? Coba aku lihat dulu,” Shafa langsung mencondongkan tubuhnya, matanya menatap tajam ke arah gambar itu. Namun seketika, matanya terbelalak kaget dan mulutnya hampir saja terbuka lebar.
Betapa kagetnya ia! Di sudut foto itu, samar-samar namun sangat jelas terlihat, ada sosok kuntilanak yang sedang ikut berfoto gaya selfie dengan tingkah yang begitu konyol. Rambutnya berantakan, baju putihnya kusam, tapi jarinya membentuk gaya tanda cinta di depan wajahnya!
“Astagfirullah… Ini kuntilanak kok kelakuannya gitu banget sih? Geli banget gue melihatnya,” batin Shafa.
“Gimana, Sayang? Bagus kan? Kok malah diam aja? Gak suka ya?” tanya Papi Arkana bingung melihat ekspresi anaknya yang aneh.
“Hah? Eh, enggak kok, Pi! Bagus kok, cuma…” Shafa menggantung ucapannya. Ia bingung bagaimana harus bicara pada orang tuanya jika rumah itu ternyata berhantu. Apalagi Mami Natalie yang terkenal paling takut sama hal-hal begituan. Pasti ibunya bakal langsung pingsan.
“Cuma apa? Katakan aja sama Papi, gak usah ragu,” desak Papi Arkana.
“Cuma… kelihatannya agak sedikit seram aja sih, Pi. Emang nggak ada rumah lain?” jawab Shafa hati-hati, memilih kata yang paling aman.