Shafa & Kuntilanak Jahil

Putri Utama
Chapter #5

Kemarahan Aryo

Begitu Aryo tiba di halaman rumah mewah keluarganya, ia melangkah masuk dengan amarah yang sudah memuncak tinggi sampai ke ubun-ubun. Emosinya tak lagi bisa ia kendalikan; kekecewaan dan rasa sakit hati bercampur jadi satu. Dengan kekuatan penuh, ia menendang daun pintu utama itu hingga terbuka lebar dengan suara yang sangat keras dan menggelegar.

"Astaghfirullahaladzim! Aryo! Apa-apaan sih kamu? Kenapa kamu datang-datang marah-marah? Bukannya mengucap salam?" Tegur Mama Ira yang kebetulan ada di ruang tamu. Ia menatap putranya itu kaget setengah mati melihat wajah Aryo yang merah padam dan matanya yang berapi-api.

"Papa di mana, Ma? Di mana dia sekarang?" bentak Aryo dengan suara lantang. Ia tak menunggu jawaban sang ibu dan langsung berlari tergesa-gesa menaiki anak tangga menuju lantai atas.

"Papaaa... Keluarrr!" teriaknya kencang sekali, suaranya menggema ke seluruh penjuru rumah.

"Aryo! Ada apa sih sebenarnya? Berhenti teriak-teriak begitu!" tegur Mama Ira yang sudah mengekor di belakangnya sambil memegang dadanya yang berdebar kencang. Namun, Aryo sama sekali tak mempedulikan perkataan ibunya. Ia terus berjalan menuju kamar utama yang biasa ditempati oleh kedua orang tuanya.

"Papa! Buka pintunya!" Aryo mulai menggedor pintu kamar itu dengan kepalan tangan. Bunyinya berirama keras dan menakutkan.

"Aryo! Plakk...!" Mama Ira terpaksa menampar putranya yang sudah tak terkendali itu.

"Kamu kenapa? Bicara sama Mama!" teriak Mama Ira pada putra tunggalnya itu.

"Papa mana, Ma?"

"Papa tidak ada di dalam! Kamu ini kenapa sih kok jadi begini?" kata Mama Ira, air matanya mulai menetes melihat tingkah laku putra satu-satunya itu yang berubah drastis dan penuh amarah.

"Ke mana si laki-laki keparat itu, Ma? Tadi aku telepon, katanya dia di rumah. Dia bersembunyi ya?" tanya Aryo dengan nada bicara yang sangat kasar dan penuh kebencian.

PLAK!

Satu tamparan keras lagi mendarat di pipi kiri Aryo.

"Jaga mulutmu, Aryo! Jangan sembarangan bicara! Laki-laki yang kamu sebut 'keparat' itu adalah ayahmu! Ayah kandungmu sendiri! Jangan kurang ajar kamu sama orang tua!" bentak Mama Ira. Emosinya ikut tersulut mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan keluar dari mulut anaknya.

Alih-alih takut atau menunduk, Aryo malah tersenyum sinis yang terlihat sangat mengerikan.

"Mama sampai hati membela dia sampai menampar aku begini? Dua kali, Ma... Dua kali Mama menampar Aryo demi dia."

"Bukan begitu, Nak. Papa... itu Papa kamu, sayang. Mama... Mama hanya tidak mau kamu kurang ajar sama Papa. Hormati dia, Nak." Mama Ira melunak saat melihat air mata jatuh dari sudut mata Aryo.

"Coba saja kalau Mama sudah tahu apa saja kejahatan dan kebusukan yang sudah laki-laki itu perbuat. Aku mau lihat, apakah Mama masih akan berdiri di sisi membela dia seperti sekarang?" ucap Aryo dengan penekanan yang tajam di setiap kata-katanya.

"Ada apa ini sebenarnya? Aryo, lihat Mama! Ceritakan sama Mama, ada masalah apa? Kenapa kamu bisa semarah ini sama Papa sendiri?" tanya Mama Ira bingung dan cemas. Hatinya merasa tidak tenang melihat situasi yang makin memanas.

"Ikbal! Ikbal yang tidak punya rasa malu itu sudah menghancurkan segalanya, Ma! Dia menghancurkan perusahaan Om Arkana yang sudah dibangun susah payah bertahun-tahun! Dia mencuri data perusahaan dan menjualnya pada musuh Om Arkana! Dia merampas yang bukan haknya, Ma! Mama tahu apa akibat dari perbuatan jahat Ikbal itu? Akibat ulah dia, Shafa meninggalkan aku, Ma! Dia memutuskan hubungan kita!" Aryo mulai menangis histeris sambil mengeluarkan sebuah cincin indah dari saku celananya.

"Lihat ini, Ma! Ini cincin pertunangan kami! Shafa kembalikan ini pada Aryo. Mama tahu kan seberapa besar cintaku pada Shafa? Lihat, Ma... lihat ini!" Aryo menangis tergugu, tubuhnya pun jatuh berlutut di lantai. "Semua ini karena Papa, Ma! Dia sudah menghancurkan masa depan keluarganya, masa depanku, anaknya sendiri! Papa itu pencuri, Ma! Dia mencuri!" ucap Aryo meledak-ledak.

"Astaghfirullahaladzim... Kamu serius, Aryo? Gimana mungkin Papa bisa berkhianat pada Om Arkana? Om Arkana itu kan calon bapak mertuamu sendiri, beliau orang baik. Mana mungkin Papa berbuat sejahat itu pada sahabat sendiri, Aryo? Mama belum percaya sama semua omonganmu ini," tolak Mama Ira, meski hatinya mulai ragu dan cemas mendengar tuduhan yang begitu berat itu.

"Terserah Mama mau percaya atau tidak, itu hak Mama. Tapi itulah kenyataan pahitnya. Papa itu penjahat berkedok orang terhormat, dia pencuri berdasi! Dan dengar ya, Ma... aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan dia! Tidak akan selamanya! Aku benci laki-laki itu. Aku benci Ikbal, Ma. Benci sekali..." ucap Aryo tegas, lalu ia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.

"Ya Allah..." Mama Ira langsung berlutut dan memeluk tubuh Aryo erat sekali. Ia ikut menangis tersedu merasakan kepedihan yang dirasakan anaknya.

"Sabar ya, Nak. Sabar, sayang. Jangan terbawa emosi dulu ya. Nanti kita tanya dan cari kebenarannya sama Papa sama-sama ya," bujuk Mama Ira lembut. Tangannya terus mengusap punggung anaknya berusaha menenangkan.

Lihat selengkapnya