Shafa & Kuntilanak Jahil

Putri Utama
Chapter #6

Bab6: Hancurnya Hati Seorang Ayah


Di dalam taksi, wanita cantik itu tak henti-hentinya menangis, meratapi kisah cintanya yang harus berakhir dengan cara yang menyakitkan.

"Mas... Kenapa semuanya harus jadi begini? Kenapa hubungan cinta kita yang sudah lama kita jaga, harus berakhir dengan cara seperti ini, Mas? Rasanya aku seperti sedang mimpi buruk. Baru dua minggu yang lalu kita masih senang-senang mengobrolkan rencana masa depan, mau liburan ke mana, mau bulan madu ke mana... semuanya sudah kita rencanakan dengan begitu indah. Tapi sekarang? Sekarang semuanya tinggal kenangan, Mas... Aku sungguh sayang dan cinta banget sama kamu. Maafin aku sudah nyakitin hati kamu dan ninggalin kamu. Aku pun sama sakitnya, Mas, sakit sekali. Maafin aku Mas, sekali lagi maafin aku..." lirih Shafa. Ia menyentuh jari manisnya, tepat di bekas letak cincin pertunangan yang dulu melingkar di sana, lalu menciumnya dengan penuh perasaan.

"Maafin aku sayang, maaf... Mungkin ini yang terbaik buat kita. Aku harap kamu bisa menerima semua ini, Mas. Ikhlaskanlah... Aku pun akan belajar melupakanmu, walaupun aku tahu itu akan sangat sulit. Maaf..." lanjut Shafa lagi di sela isak tangisnya.

Bayangan indah bersama Aryo kembali menari-nari di kelopak mata Shafa. Hubungan yang sudah terjalin begitu lama, kini harus berakhir begitu saja.

"Kita itu sebenarnya sama-sama korban... Korban dari keserakahan Papamu. Sekali lagi maafin aku ya, Mas. Aku terpaksa ninggalin kamu. Aku harus lebih mengutamakan perasaan dan nasib kedua orang tuaku daripada perasaanku sendiri sama kamu. Maafkan aku..." gumam Shafa dalam hati, tangisnya makin menjadi-jadi.

Supir taksi yang dari tadi memperhatikan lewat kaca spionnya, merasa tak tega melihat Shafa yang begitu bersedih. Ia pun berbicara dengan nada lembut.

"Neng, ada masalah ya? Tenangin diri dulu, minumlah biar hati dan pikiran Neng lebih tenang," ucap bapak itu sambil memberikan sebotol air mineral yang masih tersegel rapi.

"Terima kasih, Pak..." ucap Shafa lirih sambil menerima botol itu.

"Sama-sama, Neng."

Pak supir itu tidak melanjutkan pertanyaannya, ia tahu betapa beratnya beban yang sedang dipikul gadis cantik di belakangnya itu.

"Neng, ingat pesan bapak ya... Jodoh itu misteri Ilahi. Kita tidak tahu akan berjodoh sama siapa dan dari kalangan mana. Yang pasti, Neng... Insyaallah kalau pandangan bapak ini tidak meleset, pengganti dia nanti orangnya sama baiknya, bahkan akan jauh lebih mencintai Neng dan membahagiakan Neng. Ikhlaskan saja hubungan yang sekarang sudah berakhir. Mungkin memang Neng dan dia tidak ditakdirkan bersatu," ucap Pak supir itu bijak.

Mendengar itu Shafa terkejut. Ia mengerjapkan matanya yang bengkak menatap punggung lelaki tua itu.

"Kok... Bapak tahu isi hati saya?" tanya Shafa heran.

"Bapak ini punya kelebihan sedikit, Neng. Bisa melihat apa yang mungkin orang lain tidak bisa lihat," jawabnya tenang.

"Saya juga bisa, Pak... Saya bisa melihat makhluk halus," sahut Shafa pelan, seolah berbisik.

"Bapak tahu itu, Neng. Bapak bahkan tahu, di masa depan Neng akan menjadi orang luar biasa dengan ilmu yang begitu tinggi. Pesan bapak cuma satu: pergunakanlah ilmu itu untuk kebaikan ya, Neng. Jangan pernah kamu salahgunakan," ucap Pak supir itu dengan nada serius namun lembut.

"Ilmu? Saya hanya bisa melihat hantu dan makhluk gaib saja, Pak..." jawab Shafa semakin bingung.

"Sekarang memang hanya sebatas melihat. Tapi ingat kata bapak... Ketika kamu menikah nanti, ilmu yang ada di dalam tubuh kamu akan bangkit dengan sendirinya, sepenuhnya," jawab Pak supir penuh teka-teki.

Belum sempat Shafa bertanya lebih jauh, kendaraan itu perlahan melambat.

"Neng, sudah sampai di depan rumah," celetuk Pak supir, membuat lamunan Shafa buyar seketika.

"Oh... Iya Pak. Berapa?" tanya Shafa yang langsung mengeluarkan dompet dari tasnya.

Lihat selengkapnya