Waktu untuk keluarga Arkana meninggalkan rumah pun telah tiba. Papi Arkana langsung menarik koper yang dibantu oleh para tetangga, yang turut merasa sedih dengan apa yang menimpa keluarga Arkana yang dulunya sangat disegani itu.
"Pak Arka, Bu Natalie, selamat jalan ya... Jangan lupa sama kami ya. Kalau nanti main ke Jakarta, jangan lupa mampir ke rumah kami. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar buat kalian sekeluarga," ucap Bu Intan sambil memegang tangan mereka erat, tak rela rasanya melepas kepergian tetangga terbaiknya itu.
Mami Natalie langsung memeluk tetangga baiknya itu dengan erat. "Iya, Bu Intan... Terima kasih banyak ya selama ini. Maafin saya dan keluarga jika selama kita bertetangga ada ucapan atau perbuatan yang kurang berkenan di hati Ibu sekalian," ucap Mami Natalie dengan mata berkaca-kaca menahan tangis yang hampir tumpah.
"Buk Nirmala, Bude Ari, dan semuanya... Mohon maaf sebesar-besarnya jika keluarga kami punya salah, baik sengaja maupun tidak. Kami pamit ya," ucap Papi Arkana yang langsung berjabat tangan satu per satu pada para tetangganya, begitu juga dengan Mami Natalie. Suasana haru menyelimuti halaman besar itu.
"Kami pamit ya semuanya..."
"Iya, Ibu Natalie sekeluarga... Kalian hati-hati di jalan ya, semoga bahagia di tempat baru," ucap mereka serentak dengan nada sedih.
Lalu majulah seorang wanita paruh baya, nenek tetangga yang paling dekat dengan keluarga itu, dan langsung memeluk Shafa dengan penuh kasih sayang. Bagi Shafa, nenek ini sudah seperti nenek kandungnya sendiri.
"Nak... Shafa... Jangan lupakan Nenek ya... Nenek pasti bakal kangen banget sama kamu, Sayang. Sering-seringlah main ke sini ya kalau ada waktu, jangan lupakan Nenek," bisiknya haru sambil mengelus wajah cantik Shafa yang sudah basah oleh air mata.
"Iya Nek... Bagi Shafa, Nenek sudah seperti Nenek kandung sendiri. Maafin Shafa ya Nek kalau ada salah, selama ini Shafa banyak minta jambu pada nenek. " jawab Shafa sambil menundukkan wajah, isak tangisnya mulai tak bisa ditahan.
"Iya Nak... Hati-hati ya Sayang. Nanti kalau kamu sudah menikah dan bahagia, kabari Nenek ya... Insyaallah Nenek bakal datang buat liat kamu bahagia, asalkan Nenek masih diberi umur panjang," ucap nenek itu berlinang air mata.
"Nenek ngomong apa sih... Shafa berharap Nenek bisa hidup jauh lebih lama lagi, biar nanti Nenek bisa ku kenalin sama anak-anakku kalau aku nanti sudah punya keturunan. Nek... Shafa pamit ya," ucap Shafa yang langsung mencium tangan keriput itu dengan penuh hormat dan rasa sayang.
"Iya Nak... Hati-hati ya, jangan lupakan Nenek."
"Insyaallah. Assalamu'alaikum..." ucap Shafa, lalu segera masuk ke dalam mobil, diikuti oleh kedua orang tuanya.
Di dalam mobil, Papi Arkana hanya bisa menundukkan kepalanya sejenak. Matanya terpejam rapat, berdoa dalam hati memohon kekuatan yang luar biasa bagi dirinya dan keluarganya. Dan... setetes air mata lelaki yang dikenal tegar itu jatuh membasahi kemudi mobil mewah yang selama ini selalu ia pegang dengan penuh kebanggaan. Air mata itu adalah tanda bahwa ia manusia biasa yang juga bisa hancur hatinya.
Mami Natalie langsung menggenggam tangan suaminya erat, mencoba memberi kekuatan pada pria tampan itu yang kini bahunya terlihat begitu berat memikul beban nasib keluarga.
"Kuat ya Pi... Insyaallah apa pun yang hilang dari kita, Allah akan mengganti dengan yang jauh lebih baik dan berkah. Kuat ya, ada Mami dan ada Shafa di sini. Papi tidak sendirian," ucapnya lembut namun tegas, berusaha menguatkan penopang hidupnya itu.
Papi Arkana menganggukkan kepala pelan, lalu mengusap air mata yang mulai menetes di pipi istrinya.
"Iya Sayang... Makasih ya Ma, udah mau menemani Papi di saat Papi merasa terpuruk dan hancur begini. Kalau gak ada kamu dan Shafa, mungkin Papi udah menyerah sama keadaan," jawab Papi lirih.
"Jangan bilang makasih Pi... Ini sudah menjadi kewajiban Mami sebagai istri, mendampingi di saat papi susah maupun senang. Susah senang kita lewati bareng-bareng. Yuk kita jalan," ucap Mami Natalie menguatkan.
Papi Arkana pun mengangguk mantap. Mesin mobil pun akhirnya dinyalakan. Perlahan kendaraan itu bergerak maju melintasi gerbang besar yang kini akan tertutup rapat untuk selamanya. Tak lama kemudian, mobil keluarga Arkana beserta truk pengangkut barang di belakangnya itu lenyap di tikungan jalan, membawa serta duka cita, kenangan indah, dan jejak langkah sejarah hidup keluarga yang dulunya sangat disegani dan dihormati itu.
Sepanjang perjalanan meninggalkan kawasan elit itu, suasana di dalam mobil begitu hening dan sunyi senyap. Hanya suara isak tangis halus yang sesekali terdengar memecah keheningan itu. Mereka melewati jalanan-jalanan mulus yang dulu sering mereka lewati dengan penuh kegembiraan dan kebanggaan, namun hari ini semuanya terasa berbeda. Semuanya terasa begitu asing, menyakitkan, dan menyesakkan dada.