Shafa & Kuntilanak Jahil

Putri Utama
Chapter #8

Bab8: kuntilanak Alay

Mobil itu pun akhirnya memasuki gerbang masuk sebuah desa kecil, melaju di jalanan yang permukaannya bergelombang, melewati hamparan pematang sawah yang tanaman padinya tampak mulai menguning, tanda siap panen. Mami Natalie yang seumur hidupnya baru pertama kali melihat hamparan sawah luas secara langsung, menatap pemandangan itu dengan mata berbinar dan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya.


"Loh, Pa... Ini pemandangannya persis seperti di film-film pedesaan ya? Indah sekali," tanya Mami Natalie dengan nada kagum.


"Kan memang desa, kenapa? Mami keberatan? Tidak suka? Atau mau kita putar balik dan pulang lagi ke Jakarta?" tanya Papi Arkana sambil melirik istrinya sekilas dengan nada menggoda.


"Ish, Papi. Bukan begitu maksudnya. Justru Mami senang sekali bisa tinggal di daerah seperti ini. Lihat deh, ada anak-anak yang sedang main layangan di pinggir sawah, dan ada ibu-ibu yang sepertinya sedang bersiap memanen. Dekat tidak rumah kita dari sini? Apakah rumah kita dekat dengan sawah?" tanya Mami Natalie dengan antusiasme yang tinggi.


"Dekat, Sayang. Sangat dekat malah. Rumah baru kita itu posisinya bagian belakangnya langsung berbatasan dengan sawah, cuma dipisahkan oleh kebun kecil milik kita sendiri," jawab Papi Arkana lembut.


"Ah... Serius, Pi? Kalau begitu nanti Mami mau tiap hari duduk-duduk dan nongkrong di belakang rumah saja ya, nikmati pemandangan," ucap Mami Natalie bersemangat.


"Serius dong, Mami Sayang. Masa wajah setampan Papi ini dipakai untuk berbohong? BTW, mami yakin mau nongkrong di belakang terus-terusan? Tidak sayang kulitmu? Di sini panasnya lumayan menyengat lho, biaya perawatannya nanti bisa mahal kalau sampai belang," canda Papi Arkana.


"Memang kenapa? Kalau nanti Mami jadi gelap atau terlihat kurang terawat, Papi mau tinggalkan Mami? Mau cari yang baru ya?" tanya Mami Natalie sambil mengerucutkan bibirnya, berpura-pura cemburu.


"Ya ampun... Dasar si Mami ini," Papi Arkana hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


Tak lama kemudian, ia membelokkan kemudi mobilnya ke sebelah kanan, melintasi jalan setapak yang sedikit sempit. Tidak berjarak jauh dari situ, mobil pun akhirnya berhenti tepat di halaman sebuah rumah berlantai dua yang tampak kokoh dan sederhana.


"Yuk, turun... Kita sudah sampai," ucap Papi Arkana, mengajak anak dan istrinya keluar dari kendaraan.


Keduanya pun segera turun. Mami Natalie berdiri diam sejenak, menatap lekat-lekat rumah baru mereka itu, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman yang luas dan asri. Senyum bahagia kembali terlukis di wajahnya.


"Loh... Kok beda banget sama foto yang Papi tunjukkan ya? Ini rumahnya bersih dan terawat sekali loh, sama sekali tidak terlihat seram atau tua seperti di gambar," ucap Mami Natalie sedikit kaget.


"Hahaha... Itu Papi sengaja, mau kasih kejutan buat kalian berdua. Gimana? Kalian suka tidak? Maaf ya, kalau Papi cuma bisa sediakan rumah yang ukurannya jauh lebih kecil dan sederhana dibandingkan rumah kita yang luas dan mewah di kota. Keadaan kita memang sudah berubah," ucap Papi Arkana dengan nada sedikit sendu namun penuh harap.


"Jangan bicara begitu, Pi. Biarpun rumahnya kecil atau sederhana, selagi ada kasih sayang dan kehangatan di dalamnya, insyaallah Mami dan Shafa pasti betah dan nyaman tinggal di sini. Iya kan, Sayang?" jawab Mami Natalie lembut, lalu menoleh ke arah putrinya.


Shafa mengangguk pelan, namun matanya sibuk mengamati setiap sudut bangunan dan pepohonan di sekitar rumah itu. Tiba-tiba matanya membelalak lebar. Di mana-mana, di atas pohon, di sudut pagar, hingga di atap bangunan sekitar, terlihat berbagai jenis makhluk halus yang sedang beraktivitas atau sekadar duduk diam mengamati kedatangan mereka.


"Astaghfirullahalazim... Papi ini beli rumah di tempat angker banget. Duh, mudah-mudahan makhluk-makhluk ini tidak usil dan tidak mengganggu keluarga gue," batin Shafa sambil menahan napas.


Pandangannya kemudian tertuju ke arah lantai dua, tepat di jendela sebuah kamar. Di sana, terlihat sosok wanita bergaun putih kusam dengan rambut panjang menjuntai, sedang duduk di ambang jendela sambil mengayun-ayunkan kakinya dengan santai.


"Tunggu... Bukannya itu..." Shafa tertegun. Ia baru ingat, wajah dan wujud sosok itulah yang dulu sempat terlihat samar-samar di dalam foto rumah ini saat Papinya menunjukkannya lewat ponsel.


"Hah... Ternyata beneran ada. Jadi dia penghuni tetap rumah ini ya," batin Shafa kesal.


Kaget dan sebal makin menjadi saat sosok wanita itu tiba-tiba menoleh tepat ke arahnya, lalu dengan santai mengacungkan jari tengah padanya.

Lihat selengkapnya