Suara sirine mobil polisi dan ambulans terdengar mendekat, memecah keheningan jalan tol yang sepi. Tim penolong bergerak cepat memotong rangka mobil yang hancur tak berbentuk itu. Saat pintu mobil berhasil dibuka, mereka terdiam sejenak. Aryo masih tergeletak diam di balik kemudi, tubuhnya bersimbah darah segar. Dokter yang turun langsung memeriksa denyut nadi dan kondisi tubuhnya, lalu menggeleng pelan kepada petugas lain. Aryo sudah meninggal seketika di tempat kejadian. Nyawanya melayang bersamaan dengan benturan keras itu, saat ia berlari mencari keluarga Arkana yang telah dihancurkan oleh ulah ayahnya sendiri.
Jenazah Aryo kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat, hanya untuk keperluan verifikasi dan persiapan pemakaman. Mama Ira datang tergopoh-gopoh dituntun kerabat, kakinya sama sekali tak kuat menopang tubuh saat mendengar kabar pasti itu. Begitu melihat tubuh kaku putranya yang sudah terbujur diam, bersih dan tertutup kain putih di ruang jenazah, pertahanan diri Mama Ira runtuh seketika.
"ARYOOO...!!! ANAKKUUU...!!!"
Teriakan histeris Mama Ira mengguncang seluruh ruangan, suaranya melengking penuh kepedihan yang tak terkira. Ia meronta sekuat tenaga lepas dari pegangan orang-orang yang menahannya, berusaha berlari mendekati tempat putra satu-satunya itu berbaring.
"Kenapa kamu pergi duluan, Nak?! Kenapa harus kamu?! Aryo... bangun... Nak... Mama mohon bangun...!!!" tangisnya pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipi yang sudah pucat pasi. Ia memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak dan nyeri luar biasa. "Semua salah papamu... Semua salah Ikbal... Dia yang bikin hancur segalanya... Dia yang bikin kamu menderita...!!"
Isak tangisnya makin menjadi-jadi, suaranya makin parau sampai hampir tak terdengar. Ia menatap wajah Aryo yang terlihat tenang itu, seolah putranya itu hanya sedang tidur panjang. "Kamu sampai benci papamu sendiri... kamu yang masukin dia penjara... demi keadilan... tapi kenapa kamu yang pergi duluan, Nak...?!" Tubuhnya terhuyung, napasnya makin berat dan pendek, pandangannya perlahan menggelap. Rasa sakit yang terlalu dalam itu akhirnya menaklukkan dirinya. Tubuh Mama Ira terkulai lemas, ia pingsan seketika jatuh ke pelukan kerabat yang ada di dekatnya, tak sanggup lagi menampung duka seberat itu.
Di tengah kekacauan dan tangis yang memilukan itu, terdengar suara langkah kaki mendekat. Dua orang polisi berjalan di kanan dan kiri, mengapit seorang pria yang tangannya terikat borgol besi berkilau dingin.
Itu Ikbal. Ayah kandung Aryo. Ia baru saja mendapatkan izin khusus untuk keluar sebentar dari penjara, demi melihat jenazah anak laki-lakinya itu untuk terakhir kalinya. Ia berjalan gontai, wajahnya pucat dan kusam khas orang yang hidup di balik jeruji besi, matanya merah padam menahan tangis yang tak sanggup ia luapkan. Ingatannya kembali pada kenyataan pahit. Aryo sendirilah yang berani melaporkan dan memenjarakan dirinya, karena kejahatan yang ia perbuat terhadap keluarga Arkana, calon keluarga masa depan anaknya sendiri.
Langkah Ikbal berat sekali, seolah ada paku yang menancap di setiap telapak kakinya. Ia berhenti tepat di sisi tempat jenazah Aryo terbujur kaku. Diapit ketat oleh petugas polisi, ia hanya bisa menunduk dalam, menatap wajah anaknya yang kini sudah dingin dan diam selamanya. Air matanya akhirnya tumpah juga, jatuh membasahi lantai rumah sakit yang dingin itu.
"Yo... Anakku..." suaranya parau, bergetar hebat menahan sesak di dada. Ia ingin menyentuh wajah Aryo, ingin memeluk tubuh itu, tapi borgol besi dan kawalan polisi menghalanginya.
"Pak, tolong lepasin sebentar, saya ingin memeluk putra saya," mohon Ikbal pada polisi itu.
Karena merasa kasihan, akhirnya borgol itu dilepaskan. Ikbal berjalan perlahan mendekati jasad sang putra yang terbujur kaku.
"Aryoo... Nak, kenapa kamu pergi, Sayang? Semua ini salah Papa... Kenapa kamu menghukum Papa seperti ini, Yo? Papa akan kembalikan semuanya pada Arkana, Papa janji... tapi kembalilah, Nak. Jangan tinggalin Papa... Kamu penerus Papa, kamu kebanggaan Papa... Aryoo... Maafin Papa..."
Ikbal menangis tergugu, memeluk jasad putranya itu erat. Namun, Mama Ira yang sudah sadar itu emosinya memuncak saat melihat Ikbal, ia langsung menarik kasar tubuh Ikbal hingga terpisah dari Aryo.
"Lepaskan anakku! Jangan sentuh Aryo dengan tangan kotormu itu!" Mama Ira memaki Ikbal dengan amarah yang meledak-ledak, matanya menyala penuh kebencian.
"Maa... Maafin Papa... Papa tahu Papa salah, Papa khilaf..." Ikbal menunduk gemetar.
PLAKKK...!!!