Setelah video call itu berakhir, Shafa memeluk lututunya menangis tergugu merasakan hancur yang luar biasa. Di dalam kamar itu, suasana terasa begitu sunyi dan menyakitkan, seolah udara di sekitarnya ikut berduka bersama gadis itu. Ia sama sekali tidak menyangka, pertemuan hari itu menjadi pertemuan yang benar-benar untuk terakhir kalinya. Rasanya dunia runtuh seketika, meninggalkan luka yang begitu dalam dan rasa bersalah yang menggerogoti hatinya.
"Mass.... Maafin aku, aku yang salah, maafin aku karena kamu mengejar mobilku kamu tiada. Masss... Aaryoo... Kenapa semuanya jadi begini mas, aku ihlas melepasmu dengan siapapun nantinya kamu bersanding, tapi aku belum ikhlas melepasmu pergi untuk selamanya, mas, mas Aryo maafin aku, maafin akuu... "
Isak tangisnya pecah, tubuhnya berguncang hebat menahan rasa sakit yang tak terlukiskan. Dadanya terasa begitu sesak, seolah ada beban berat yang menindihnya, membuat nafasnya tersengal dan sulit untuk ditarik. Pandangannya mulai kabur, air mata terus mengalir membasahi pipinya, dan seketika itu juga kekuatan di seluruh tubuhnya lenyap. Shafa langsung memegang dadanya yang terasa sesak itu, pandangan yang kabur lalu seketika itu shafa pingsan di dalam kamar, terkulai diam di bawah yang dingin.
Di atas lemari besar yang ada di sudut ruangan, sosok kuntilanak yang sedari tadi diam memperhatikan dengan rasa penasaran, kini terkejut melihat manusia penghuni kamarnya itu tiba-tiba ambruk tak bergerak. Matanya yang bulat membelalak, ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada gadis di bawah sana. Ia pun segera turun dengan gerakan melayang pelan, namun karena ia ceroboh, ujung dasternya tersangkut ujung lemari yang runcing itu membuatnya gelantungan seperti kain yang sedang di jemur di bawah atap.
"Aih... Cangcut gue kelihatan. Urat, urat. " Ucapnya yang langsung terbang dan membetulkan dasternya dengan cepat, wajahnya terlihat panik dan malu bercampur jadi satu.
" Yah.. Bolong, makin gede aja nih bolong. " Gerutunya kesal sambil menatap kain yang sobek itu, merasa sangat rugi karena baju kesayangannya rusak lagi. Namun di detik berikutnya, ia segera sadar akan keberadaan shafa yang tergeletak diam tak bergerak di bawah. Ia kembali melayang turun, mendekati tubuh gadis itu dengan rasa bingung yang semakin bertambah.
"Manusiaa... Woy, bangun dong, jangan bobo cantik di sini. Dingin. " Kuntilanak itu menepuk-nepuk pipi Shafa dengan lembut berharap gadis itu segera sadar dari pingsan ya. Tangannya yang dingin dan kasar menyentuh wajah Shafa berkali-kali, tapi tidak ada reaksi sedikit pun dari gadis itu.
"Aduhh... Gak bangun-bangun lagi, gimana ya??? " Bingung kuntilanak itu, ia pun mencari ide untuk membangunkan shafa, berjalan mondar-mandir dengan gaya melayang yang kaku dan lucu di depan wajah Shafa. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha memikirkan cara paling ampuh untuk membangunkan manusia yang keras kepala ini.
"Pake apa ya? " Kuntilanak itu langsung berbinar seolah mendapat ide paling cerdas sedunia, senyum jahil langsung terukir di bibirnya yang pucat.
" Gue punya ide. " Ucapnya penuh percaya diri, ia langsung mengangkang di depan wajah shafa dan dengan kurang ajarnya kuntilanak itu mengibas-ngibaskan dasternya membuat bau tak sedap yang tak asing itu menyerebak masuk ke hidung shafa membuat gadi itu hampir tak bisa nafas. Baunya begitu menyengat, sampe memenuhi seluruh ruang udara di sekitar wajah Shafa.