Shafa & Kuntilanak Jahil

Putri Utama
Chapter #11

Bab11: Kuntilanak Jahil

Hari pertama Shafa tinggal di rumah barunya yang sederhana, terletak di sebuah desa yang asri dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Di dalam kamar yang kini menjadi miliknya, Shafa duduk termenung sendirian di tepi kasur. Pandangannya kosong menatap dinding di hadapannya, sementara pikirannya melayang jauh menerawang masa lalu masa yang indah, namun kini terasa begitu menyakitkan. Ia teringat betapa beratnya cobaan yang baru saja ia lewati, terutama yang berkaitan dengan hubungan cintanya. Pertunangan yang penuh harapan dan indah bersama Aryo harus kandas di tengah jalan. Dengan hati yang hancur lebur, Shafa terpaksa memutuskannya secara sepihak, semata-mata demi harga diri keluarganya yang sedang jatuh bangkrut. Namun, keputusan itu membawa dampak yang jauh lebih mengerikan dari yang pernah ia bayangkan. Aryo, pemuda tampan dan sukses itu, harus kehilangan nyawanya. Ia meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis di jalan tol Jakarta-Bogor. Tanpa sadar, butiran bening mulai menetes membasahi pipi halusnya yang terlihat begitu pucat.

 

"Mas... Maafin aku, ini semua salahku. Aku masih gak nyangka kamu bener-bener pergi. Bukan aku yang meninggalkanmu, tapi kamu yang meninggalkan aku selamanya," lirih Shafa, suaranya terdengar begitu rapuh di antara keheningan kamar.

 

Tiba-tiba, udara di sekitarnya berubah, Shafa mencium wangi melati yang menusuk hidung. Tak lama kemudian, sosok makhluk berpakaian putih melayang masuk, menembus dinding kamar seolah tembok tebal itu tak ada apa-apanya. Makhluk itu kemudian duduk di atas meja rias Shafa, menatap gadis manusia yang kini menjadi penghuni baru rumah itu dengan tatapan iba. Ia tahu benar, gadis cantik di bawah sana sedang dirundung masalah berat dan kesedihan yang mendalam.

 

"Hei... Manusia! Jangan melamun terus, nanti kesambet lho!" seru si Kuntilanak itu dengan nada cempreng yang langsung memecah keheningan.

 

Shafa yang sedang asyik tenggelam dalam kesedihannya itu sontak tersentak kaget bukan main. Ia langsung menoleh cepat dengan mata terbelalak lebar, jantungnya berdegup kencang.

 

"Astagfirullahaladzim! Kunti! Bisa enggak sih kalau masuk itu jangan ngagetin gue?! Jantung gue bisa copot tau," kesal Shafa, tangannya refleks menepuk-nepuk dadanya yang berdegup tak karuan.

 

"Hihi.... Enggak bisa! Udah settingan pabriknya begini.." jawab makhluk itu santai sambil cengengesan lebar, sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun atas ulahnya.

 

Shafa tak menjawab lagi, ia kembali memeluk erat boneka pemberian dari Aryo, hadiah terakhir yang pemuda itu berikan padanya. Benda kecil itu adalah satu-satunya barang yang tersisa dan tentu saja, Shafa sangat menyayanginya seolah itu adalah harta paling berharga.

 

"Aih.... Dibilangin jangan melamun terus! Nanti beneran kesambet lho!" lanjutnya lagi mengingatkan seolah peduli, padahal suaranya yang melengking malah makin bikin kesal hati.

 

"Kesambet apa?" tanya Shafa mulai gusar karena suasana hatinya yang sedih jadi buyar seketika.

 

"Ya kesambet setan lah! Pake nanya lagi, dasar oon!" jawab si Kuntilanak dengan nada yang sedikit meninggi, seolah itu hal yang sangat jelas dan tak perlu ditanya lagi.

 

"Bugh...."

 

Tanpa ba-bi-bu, Shafa melempar bantal ke arah makhluk itu tepat sasaran.

 

"Sembarangan aja lo bilang gue oon. Terus kalau gue kesambet berarti kesambet lo dong ya?!" sanggah Shafa ketus.

 

"Enak aja! Gue itu pilih-pilih ya kalau mau masuk ke tubuh orang. Enggak bakal mau gue masuk ke tubuh orang yang punya darah tinggi, kolesterol tinggi, asam urat tinggi kayak lo, nanti gue ikutan sakit kepala dan pusing , Oh iya satu lagi, nanti pundak dan leher gue kaku kaya babi. Hihihi....." ledek si Kuntilanak tak kalah pedas dan jahil, ia tertawa puas bisa mengerjai gadis itu.

 

"Apa lo bilang hah?! Maksud lo apa?! Lo ngatain gue penyakitan gitu? " bentak Shafa, matanya melotot menatap tajam makhluk aneh di atas meja riasnya itu.

 

Si Kuntilanak malah makin tertawa renyah, berguling-guling di atas meja rias yang ukuranya tidak besar itu, saking senangnya bisa memancing emosi gadis itu.

 

"Enggak ngomong apa-apa, lo salah denger kali," jawabnya santai sambil melambaikan tangan panjangnya yang kurus pucat.

 

"Kun.. Lo ngapain sih gangguin gue terus dari tadi? Gue lagi galau ini, lagi sedih berat, pengennya sendiri, tenang, damai, adem! Pergi sana cari kesibukan lain!" usir Shafa sambil menatap jutek sosok Kuntilanak yang menurutnya udik, kumal, dan agak burik itu.

 

"Gue mau berteman sama lo sebenernya. Udah ah jangan galau-galauan, enggak jaman tau cuy! Happy aja dong, kayak Happy Salma, Happy Asmara, Happy... Aha.. Happy birthday. Happy Apa lagi ya?" tanyanya bingung sendiri sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

 

"Itu nama-nama artis semua! Pea banget sih lo, enggak nyambung!" makin kesal saja Shafa dibuatnya.

 

"Hihihi... Lucu ya lo kalau lagi ngomel-ngomel gitu, pipinya merah kayak kepiting rebus. Mau ya berteman sama gue? Ayo dong, ayo jadi temen gue!" pinta si Kuntilanak sambil mengibas-ngibaskan dasternya yang sudah lusuh, terlihat mengiba sekali.

 

"Ogah! Gak mau gue berteman sama Kuntilanak burik, aneh, dan paling ngeselin sedunia kayak lo!" tolak Shafa mentah-mentah tanpa belas kasihan.

 

"Hiks... Hiks... Ya ampunn... Hancur sudah harga diri gue diinjak-injak dia, hancur, hancur pamor gue yang selama ini gue jaga dengan baik dan penuh kasih sayang seperti Malika.." keluh makhluk itu sambil mengerucutkan bibirnya, terlihat sangat lucu dan menggemaskan di mata Shafa.

 

Shafa yang melihat pemandangan aneh itu sebisa mungkin menahan tawanya. Meski hatinya sedang sedih dan kesal, tingkah makhluk itu sebenarnya sangat lucu dan tanpa sadar menghibur hati yang sedang gundah itu.

 

"Bodo amat! Mau ngeluh apa kek, terserah lo!" ketus Shafa berusaha tetap jutek dan cuek.

 

"Lo emangnya enggak takut sama gue? Serius lo? Ko berani bener lo ngebentak gue, apa gue gak serem? " tanyanya lagi, menatap Shafa dengan tatapan yang berusaha dibuat sedahsyat dan seram mungkin.

 

Lihat selengkapnya