Pagi itu, sinar mentari baru saja mengintip malu-malu dari ufuk timur, menyinari hamparan sawah yang hijau membentang luas. Angin sepoi-sepoi berhembus membawa hawa sejuk khas pedesaan yang jauh berbeda dengan udara kota yang penuh debu dan polusi. Di dalam kamarnya, Shafa sudah tampak rapi dengan pakaian olahraga yang sederhana namun pas di badan. Ia bersiap untuk berjalan santai sekaligus berlari kecil, ingin sekali menghirup udara pagi yang bersih dan menikmati pemandangan indah yang ada di sekitar rumah barunya itu.
Belum sempat Shafa mengikat tali sepatu dengan sempurna, tiba-tiba saja suasana sepi itu terusik. Sebuah sosok putih melayang menembus dinding bata yang kokoh itu, seolah tembok itu hanya terbuat dari kertas tipis. Itu adalah Rindu, si Kuntilanak yang tingkahnya bikin darah tinggi tapi juga menghibur hati.
"Mau ke mana nih pemirsa? Rapi sekali penampilannya, cantik pula. Mau ada acara apa pagi-pagi begini?" tanya Rindu dengan nada cemprengnya yang khas, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Shafa mengangkat wajahnya, menatap makhluk halus itu dengan tatapan malas sekaligus kesal.
"Rindu... Bisa enggak sih ubah kebiasaan jelek lo itu? Kalau mau masuk ke kamar orang, minimal ketuk dulu pintunya! Bikin kaget aja kerjaannya!" tegur Shafa dengan nada tegas.
Namun Rindu malah dengan santainya menggelengkan kepala. Ia menolak perintah dari Shafa, karena baginya, itu hanya akan menurunkan pamornya sebagai kuntilanak yang cantik dan seksi.
"Enggak mau ah, ribet! Buang-buang tenaga. Lagian kan gue bisa lewat tembok, ngapain pakai lewat pintu?" jawabnya polos tanpa rasa bersalah.
"Mau ngelawan? Huss! Keluar sana! Lakukan apa yang gue suruh! Ulangi proses masuknya dari awal! Ketuk pintu!" usir Shafa sambil menunjuk pintu dengan tegas.
"Enggak mau Shafaa... Malas banget deh!" elak Rindu, masih tetap keras kepala.
"O... Jadi lo gak mau nurut sama gue ya? Silahkan lo pergi dari rumah ini, gue gak mau nampung kuntilanak pembangkang kaya lo!" ancam Shafa sambil menatap tajam, sorot matanya berubah mengerikan seolah sedang menatap mangsa.
Seketika itu juga, nyali Rindu ciut seketika. Ia yang biasanya sombong sebagai makhluk halus, kini langsung menunduk dalam dan tak berani menatap manik mata Shafa yang tajam itu. Dengan langkah yang sangat berat dan wajah yang kecewa, Rindu pun akhirnya keluar lagi lewat tembok.
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan sopan dari arah pintu kayu kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk..." ucap Shafa pelan namun tegas.
Pintu pun terbuka perlahan. Muncullah wajah Rindu yang ditekuk sedemikian rupa, bibirnya mengerucut panjang tanda sedang merajuk parah. Pemandangan lucu itu membuat Shafa yang tadinya kesal jadi ingin tertawa, tapi ia berusaha tetap terlihat dingin.
"Jangan pasang muka kayak gitu deh, percuma! Gue enggak bakal kasihan sama lo. Itu aturan dan lo harus nurut!" celetuk Shafa, lalu kembali mengikat tali sepatunya.
"Ish... Dasar manusia menyebalkan! Aturannya apaan sih model gini? Masa hantu harus ikut aturan manusia, mana harus ketuk pintu lagi. Aih..." Rindu menepuk jidatnya sendiri sambil menggerutu kesal.
Shafa mendengar ocehan si Kunti itu hanya tersenyum kecil, lalu menatap makhluk itu dengan penuh percaya diri.
"Eh Kunti pikun, lo gak inget nama gue?"
"Hmm... Inget sih, tapi males ah manggilnya. Itu namanya terlalu sedih buat lo yang... kurang cetak," ledek si Kuntilanak membuat Shafa kesal bukan main.
"Kurang cetak gimana? Lihat tuh, visual gue lebih sempurna dibanding lo. Coba lihat diri lo sendiri, mata sipit kaya orang ngantuk terus, hidung pesek pula. Jangan-jangan perut Emak lo ketindih sama Bapak lo pas lagi ngebentukin lo di dalam rahim ya?" balas Shafa tak kalah pedas, meledek Kuntilanak itu habis-habisan.
"Ish... Jangan bawa-bawa Emak Bapak gue yang lagi olahraga malam dong!" sergah si Kuntilanak sambil sewot.
"Sudah-sudah, pokoknya lo harus ingat ya siapa nama gue! S-H-A-F-A! Jika lo tetep manggil gue 'manusia', jangan harap gue mau nampung lo lagi, gue akan lempar lo ke gunung!" ancam Shafa tegas sambil membusungkan dada.
"Idih... Serem banget deh ancamanya. Iya, iya... Shafaaaaa?" ucap Rindu sambil memutar bola mata malas.
"Ngapain lo mukanya ditekuk gitu? Gak suka? Kalau gak suka, pergi lo!" bentak Shafa mengusir.
"Ini manusia kok gak ada takut-takutnya sama gue sih? Heran deh..." gerutu Rindu dalam hati.
"Heh... Jangankan sama lo, sama sebangsa lo yang lain juga nih... Shafa gak akan pernah takut. Apaan sih... setan-setan sengklek semua," ledek Shafa membuat Rindu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Yakin?" tanya Rindu menantang.
"Pasti! Sangat yakin!" jawab Shafa santai tanpa beban.