Shafa & Kuntilanak Jahil

Putri Utama
Chapter #13

Bab 13: Pertemuan tidak Terduga

Siang itu, matahari bersinar terik menyengat kulit, tanda hari sudah makin siang. Shafa berjalan santai menyusuri jalan setapak yang agak sepi, rute biasa yang ia lalui sepulang sekolah. Ia memilih jalan ini karena lebih dekat dan teduh di balik rimbunan pohon, walau memang agak jarang dilalui orang.

Dengan rasa ingin tahu yang besar, Shafa pun melangkah masuk ke jalan itu. Namun baru saja ia berjalan agak jauh, matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya berdegup kencang ketakutan. Di sebuah gubuk tua milik petani yang sudah lama ditinggalkan, ada sekelompok pemuda yang penampilan dan tingkahnya terlihat tidak beres. Mereka duduk bersimpuh di sana, bersorak keras sambil mengobrak-abrik ketenangan siang itu. Bau alkohol menyengat hidung, bercampur asap rokok yang mengepul tebal. Jelas sekali mereka sedang mabuk-mabukan.

Shafa mulai merasa cemas luar biasa. Ia ragu untuk meneruskan langkah, tapi jika berbalik arah pun ia takut ketahuan dan dicurigai. Akhirnya dengan memberanikan diri, Shafa mencoba berjalan lewat pinggir jalan saja, memeluk pagar pembatas gubuk itu, berharap tak diperhatikan sedikit pun.

Tapi sayang sekali, harapan itu hancur seketika.

Begitu melihat sosok Shafa yang cantik, berpenampilan rapi dengan seragam sekolah putih abu-abu berjalan sendirian di tengah sepi, mata-mata kotor mereka langsung terlihat berbinar jahat. Senyum-senyum mesum tersungging di bibir mereka yang berbau asap.

"Wah... Lihat tuh, Bro! Ada bidadari lewat nih! Hai, Cantik! Sendirian aja jalan siang-siang begini? Pulang sekolah ya? Ko jalan kaki sih, Neng, panas tahu, gak sayang tuh kulitnya?" sapa salah satu dari mereka dengan nada yang sangat tidak sopan dan penuh nafsu. Suaranya dikeraskan sengaja agar didengar Shafa.

Shafa pura-pura tidak dengar, ia menundukkan wajah dan mempercepat langkahnya berusaha menjauh secepat mungkin. Namun niatnya itu gagal total. Para pemuda itu justru bangkit berdiri serentak, meninggalkan botol minuman mereka, lalu mulai membuntutinya dari belakang dengan langkah santai namun tatapan yang makin menyeramkan dan penuh niat buruk.

"Shafa, lariii... Mereka mengejar." Panik Rindu. Shafa yang juga panik segera mempercepat jalannya.

Sesampainya di kebun yang agak rimbun, sepi, dan jauh dari pandangan rumah warga, mereka pun mempercepat langkah dan mengepung Shafa. Enam orang itu berdiri melingkar, membuat gadis itu terkurung rapat dan tak bisa lari ke mana-mana.

"Jangan buru-buru dong, Cantik... Kenalan dulu yuk, siapa namamu? Tinggal di mana? Kita temenan ya, biar aman kalau lewat sini," tanya pemuda yang terlihat menjadi pemimpin mereka dengan senyum yang sangat menjijikkan. Ia maju selangkah, membuat Shafa mundur terpojok.

Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Shafa, ia gemetar hebat takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar dari dada.

Dan si Kuntilanak Rindu, bukannya menolong atau menakuti para pemuda jahat itu seperti yang biasa ia lakukan, ia malah justru menempel erat sekali ke punggung Shafa, memeluk tubuh gadis itu dari belakang sambil gemetaran hebat ketakutan. Wajahnya ditutupkan ke punggung Shafa.

"Shafa... Banyak banget mereka... Gue takut... Bawa senjata tajam enggak tuh?" bisik Rindu dengan suara yang bergetar parah. Pelukannya makin erat hingga membuat Shafa jadi susah bernapas dan bergerak.

"Rindu, lepasin! Gue jadi enggak bisa napas dan gerak ini! Malah makin susah kalau lo nempel gini!" desis Shafa kesal setengah mati lewat gigi yang gemeretak.

"Gak mau, Fa." Jawab kuntilanak sengklek itu yang gak mau melepaskan Shafa.

"Awas kalian! Minggir! Gue mau pulang! Jangan macam-macam ya!" bentak Shafa sekuat tenaga walau suaranya terdengar samar dan gemetar karena ketakutan.

"Wah... Galak juga ya ternyata! Tapi justru itu yang bikin kita makin suka lho, Cantik! Iya kan, teman-teman? Cewek berani gini paling asyik diajak main," kata si pemimpin itu lagi sambil tertawa kotor, diikuti gelak tawa jahat teman-temannya.

"Iya, Bos! Kita suka yang galak-galak! Paling seru nih diajarin sopan santun!" sahut yang lain serempak sambil makin mendekat.

Salah satu dari mereka mulai berani merangkak maju selangkah, tangannya kotor dan kasar itu terulur ingin menyentuh bagian tubuh Shafa yang sensitif. Mata mereka memancarkan nafsu yang tak terkendali. Namun tepat saat tangan kotor itu hampir menyentuh kulit lengan Shafa, tiba-tiba sebuah tangan kekar dan tegap datang dengan cepat mencekal pergelangan tangan pemuda itu dengan sangat kuat, seolah terbang dari arah belakang.

BUG!! PUK!!

Suara hantaman keras terdengar jelas memecah keheningan siang itu. Pemuda berandalan itu langsung meringis kesakitan, wajahnya memerah menahan sakit luar biasa, sudut bibirnya sampai berdarah pecah kena bogem mentah yang keras dan cepat. Ia mundur terhuyung sambil memegangi tangannya yang terasa mau patah.

"Berani-beraninya kalian mengganggu gadis yang baru pulang sekolah! Merasa jagoan ya kalian? Beraninya berenam menyerang satu orang lemah?!" bentak suara lantang milik pemuda yang baru datang itu. Ia berdiri tegak di depan Shafa, menutupi tubuh gadis itu dengan punggungnya yang lebar. Tampan, tegap, dan tatapan matanya sangat tajam namun tenang, seolah meremehkan keberadaan para pemuda itu.

"Siapa lo, hah?! Ikut campur urusan orang aja! Minggir kalau enggak mau ikut kena batunya!" bentak ketua geng itu marah besar karena perbuatannya digagalkan. Ia maju sambil mengepalkan tangan.

"Kalian itu harusnya malu jadi laki-laki! Berenam melawan satu perempuan yang lemah? Itu namanya bukan jagoan, tapi pengecut dan sampah masyarakat!" ejek pemuda tampan itu dengan senyum sinis yang dibuat-buat, senyum yang justru membuat darah mereka mendidih karena merasa diremehkan.

"Banyak bacot lo! Rasain ini!" Si ketua langsung melayangkan pukulan keras ke arah wajah penolong itu dengan penuh amarah.

Namun dengan gerakan yang sangat luwes, cekatan, dan terlatih, pemuda itu menangkis serangan itu dengan satu hentakan tangan, memutar tangan lawannya hingga berbalik arah, lalu membalas dengan pukulan yang akurat ke arah ulu hati dan siku ke rahang.

Tak butuh waktu lama, para pemuda berandalan itu tumbang satu per satu. Pukulan demi pukulan mendarat pas di sasaran, membuat mereka tak berkutik. Dalam hitungan detik, mereka lari tunggang langgang membawa tubuh mereka yang babak belur dan kesakitan, meninggalkan botol-botol dan rokok mereka.

Lihat selengkapnya