Saat Shafa baru saja keluar dari gerbang SMA Pertiwi, gadis yang biasanya manja itu kali ini tak sedikit pun mengeluh. Ia berusaha berdamai dengan keadaan, harus bisa bergaul dengan anak-anak desa. Shafa pun tersenyum melihat kegembiraan mereka; walaupun hidup sederhana, mereka terlihat begitu bahagia. Itulah yang menjadi motivasi Shafa untuk bisa seperti mereka.
"Fa, mau pulang?" tanya Safira, teman baru Shafa.
"Iya, Fir. Lo sendiri?"
"Sama, gue nunggu jemputan Ayah. Lo sendiri?"
"Gue jalan kaki kaya biasa, toh deket ini."
"Iya deket ke desa lo, tapi rumah lo ada di dalam, Fa. Jauh loh itu jalannya."
"Mau gimana lagi, Fir. Bokap gue gak punya motor, dan Papi gak bisa naik motor. Kalau pun ada mobil, gue gak mau. Nanti rame kalau tau mobil gue mahal," ucap Shafa diselingi tawa.
Tak lama kemudian, sebuah motor sport berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan Shafa. Pemuda itu membuka kaca helm-nya lalu tersenyum ramah.
"Hey, Neng. Pulang sekolah?" tanyanya ramah.
"Ehem... Kalau gitu gue duluan ya, Fa," ucap Safira buru-buru.
"Katanya mau nunggu Ayah lo?"
"Iya, gue nunggu di depan warung Bakso Pak Imin aja deh, dari pada di sini jadi nyamuk," jawab Safira yang langsung lari meninggalkan Shafa sambil terkikik.
Shafa hanya tersenyum geleng-geleng kepala, lalu menatap pemuda itu.
"Iya, Mas Marvel. Mas dari mana? Kuliah?" tanya Shafa dengan senyum manisnya.
"Iya, cuma dosennya lagi gak ada. Daripada aku di kampus melakukan hal yang gak ada manfaatnya, lebih baik pulang bantuin Ayah di gudang," jawab Marvel santai.
"Aduh... Mas ini baik dan berbakti banget ya. Pasti nanti yang jadi istri Mas bakal bahagia banget punya suami seperti Mas," puji Shafa tulus.
"Ah, Neng bisa aja. Kalau mau, Neng juga boleh daftar kok. Lowongan masih kosong," canda Marvel diselingi tawa renyah.
"Kerja kali ah, harus daftar." Sahut Shafa ikut bercanda.
Marvel hanya terkekeh. " Pulang bareng yuk? "
"Ah, enggak, Mas. Aku bisa pulang jalan kaki kok. Makasih ya," tolak Shafa tak enak hati.
"Neng... Ini jam rawan loh, takutnya ada orang jahat. Mau diganggu lagi kayak kemarin?" goda Marvel sedikit mengingatkan.
"Aku gak akan lewat jalan kemarin kok, Mas. Aku mau cari jalan aman aja," jawab Shafa tetap dengan senyum manisnya yang memikat.
"Ya Tuhan... Senyumnya itu loh... Aih, bisa mengalihkan dunia gue rasanya," ucap Marvel dalam hati, matanya tak lepas menatap gadis di hadapannya.
"Gak bisa, Neng. Ini aku udah ada di sini loh, kamu jangan anggurin kang ojek ganteng ini dong. Ayo, naik," paksa Marvel halus.
"Apa sih Mas... Enggak, makasih ya," Shafa tetap menolaknya.
Namun, Marvel tak pantang menyerah. Ia turun dari motornya lalu melepas helm yang ia pakai. Shafa melihat pemuda itu begitu tampan dengan mata sipit bak artis Korea. Seketika Shafa begitu terpesona, namun ia segera sadar dari lamunannya sendiri.
"Apaan sih, Fa?! Bener apa kata Rindu, kuburan Mas Aryo aja masih basah, masa udah mau cari pengganti? Sadar dong!" ucap Shafa dalam hati, segera menepis rasa kagumnya pada pemuda tampan itu.
"Ayo," celetuk Marvel singkat sambil tersenyum.
"Ayo? Ayo ke mana?" tanya Shafa bingung.
"Pulang jalan kaki bareng."
"Lalu motor Mas gimana?"
"Biarin aja di situ dikunci. Mas gak akan biarin kamu pulang sendirian. Mas temani kamu jalan kaki pulang, ayo," Marvel berjalan terlebih dahulu, namun ia membalikkan tubuhnya saat melihat Shafa tetep di tempat. Ia pun kembali menghampiri gadis itu.
"Kenapa? Katanya mau jalan kaki? Ayo dong," ajaknya lagi.
"Enggak... Ya udah, ayo pulang. Pake motor aja deh," jawab Shafa yang akhirnya menyerah sambil menundukkan kepala karena malu.
Marvel tersenyum menang, lalu kembali mengenakan helmnya. Ia naik ke kuda besi miliknya lalu menyalakan mesin motor yang menderu halus.
"Ayo naik, hati-hati ya, Neng."
Shafa menaiki motor besar itu dengan susah payah, namun Marvel selalu siaga menjaga dan memegangi lengan Shafa hingga gadis itu duduk aman di belakang punggungnya.
"Ini helmnya dipake ya, biar aman," ucap Marvel lembut lalu memberikan helm cadangan itu pada Shafa.
"Terima kasih, Mas."
Setelah Shafa siap dan merasa nyaman, Marvel langsung tancap gas meninggalkan gerbang sekolah. Entah kenapa, hatinya begitu bahagia bisa membonceng gadis itu. Sepanjang perjalanan, Marvel terus menyunggingkan senyum bahagia yang tak bisa ia sembunyikan.
"Bunda... Siap gak siap, sebentar lagi akan aku bawakan menantu ke rumah," gumam Marvel dalam hati penuh keyakinan.
Sesampainya tepat di depan halaman rumah Shafa, motor sport Marvel berhenti lalu mematikan mesinnya.
"Hati-hati, Neng," ucap Marvel sambil membantu Shafa turun dari motornya.
"Terima kasih banyak ya, Mas," ucap Shafa sambil mengembalikan helm itu pada Marvel.
"Sama-sama."
Marvel menatap gadis yang baru saja turun dari motornya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Baru dua hari berkenalan, tapi rasanya ia enggan untuk segera berpisah. Sosok Shafa entah kenapa mampu membuat hatinya terasa berbeda dari biasanya.
"Neng, aku pulang dulu ya. Kamu sudah sampai rumah dengan selamat, aku jadi lega dan tenang sekarang," ucap Marvel lembut sambil tersenyum tulus meneduhkan hati.
"Loh? Kok langsung pulang sih, Mas Marvel? Mampir dulu sebentar yuk, minum dulu. Aku belum sempat berterima kasih dengan pantas loh," kata Shafa sedikit memohon, merasa sangat berhutang budi.
"Maaf banget ya, lain kali saja ya. Aku benar-benar harus buru-buru pulang, mau ke gudang bantuin Ayah. Lain kali ya, Neng? Aku pasti mampir kalau ada waktu," tolak Marvel halus namun sopan.
"Yah... Ya sudah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Mas udah mau repot mengantarkan aku pulang. Aku enggak tahu harus balas budi pakai apa," jawab Shafa mengerti dengan rasa berterima kasih yang dalam.
"Jangan bilang begitu. Apa yang aku lakukan itu tulus, Neng. Aku sama sekali gak ngarepin balas budi," ucap Marvel lembut.
"Aku cuma ngarepin kamu jadi istriku," sambung Marvel dalam hati.