Di pagi hari, gadis cantik itu membuka mata dan bangun dari tidurnya. Shafa langsung melangkah pergi menuju dapur. Ia sudah mencium aroma masakan yang sedap sekali dari luar kamarnya. Di sana, ia melihat Mami Natalie yang sedang sibuk mengaduk dan menyiapkan makanan di atas kompor.
"Pagii.... Mamiii......" sapa Shafa dengan suara yang masih sedikit serak, khas orang baru bangun tidur.
"Pagi sayang. Udah bangun ternyata anak Mami yang cantik ini?" tanya Mami Natalie sambil tersenyum lebar menoleh ke arah putrinya.
"Udah dong Mi. Kalau belum bangun, mana mungkin aku ada di sini coba? Pasti aku masih bikin pulau di bantal." jawab Shafa santai sambil tertawa kecil.
Mami Natalie pun mendekat, lalu dengan gemas ia menoyor pelan dahi putrinya itu.
"Mami ini ngomong serius loh, bukan bercanda. Dasar anak dodol," kesal Mami Natalie pura-pura marah.
Shafa cuma nyengir kuda, lalu tangannya bergerak cepat menyomot ubi goreng yang baru saja diangkat dari penggorengan dan masih mengepulkan uap panasnya.
"Huh... Huh... Hanas banget sih!" ucap Shafa tergagap-gagap sambil mengipasi mulutnya yang terasa terbakar.
Melihat tingkah putrinya yang lucu itu, bukannya menolong atau mengambilkan air, Mami Natalie malah tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.
"Makanya mandi dulu Neng, minimal cuci muka gitu biar segar. Ini baru bangun tidur belum apa-apa, ubi yang baru diangkat langsung disambar kayak singa lapar. Ya jelas panas dong, Nak!" ledek Mami Natalie yang belum juga berhenti tertawa.
"Ih... Mamii... Jahat banget sih," kesal Shafa sambil cemberut.
Shafa pun segera mengambil gelas berisi air minum di meja makan, lalu meminumnya sampai tandas untuk mendinginkan mulutnya.
"Sudah kenyang? Sekarang mandi dulu sana, biar segar dan cantiknya nambah dua kali lipat," ucap Mami Natalie menasihati.
"Iya deh Mi, bentar lagi kok," jawab Shafa. Ia belum mau pergi, malah mengambil satu buah ubi goreng lagi dan memakannya dengan hati-hati supaya tidak kepanasan lagi.
"Eh Mi, Papi mana? Kok dari tadi nggak kelihatan batang hidungnya?" tanya Shafa di sela kunyahannya.
"Ada di luar sana lagi olahraga. Katanya sih biar perutnya nggak makin buncit dan mirip drum," jawab Mami Natalie sambil kembali tertawa kecil membayangkan suaminya yang sedang berjinjit-jinjit ria di halaman.
"Oalah... Ceritanya lagi mempertampan diri ya? Awas digondol kucing garong mi, Biar gimana pun itu suami Mami yang langka loh," ucap Shafa diselingi tawa.
"Ih, amit-amit, jangan sampe lah Nak."
Shafa hanya tertawa lalu bangkit dari duduknya.
"Mi, aku mau naik ke atas dulu mau mandi ya," pamit Shafa setelah perutnya terisi.
"Iya sayang, sana mandi gih... Baunya sampe sini loh," jawab Mami Natalie dengan senyum jahil.
"Ih, kenapa sih aku tuh punya Mami menyebalkan seperti Mami Natalie ini?" Sebel Shafa.
Ia pun berjalan santai menaiki anak tangga menuju kamar pribadinya yang ada di lantai dua. Sesampainya di depan pintu, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya sampai terbuka lebar. Namun, baru saja kakinya melangkah masuk, tubuh Shafa langsung kaku dan terguncang hebat. Matanya terbelalak tak percaya melihat pemandangan di dalam kamarnya.
Di sudut ruangan, tepat di pojokan dekat lemari, ada sesosok anak kecil yang tubuhnya penuh berlumuran darah. Anak itu sedang menangis tersedu-sedu dengan wajah yang penuh kepedihan dan ketakutan.
Tubuh Shafa langsung gemetar hebat, bulu kuduknya berdiri tegak karena kaget dan ngeri. Ia segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar mencari sosok Rindu, tapi ternyata si Kuntilanak itu tidak ada di sana.
Dengan rasa takut yang ditahan sekuat tenaga, Shafa memberanikan diri melangkah mendekati sosok anak kecil yang menangis itu.
"A... Adek... Ade kenapa Nak? Jangan menangis ya..." tanya Shafa terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar.
Sosok anak kecil itu perlahan menoleh dan menatap tepat ke arah mata Shafa. Di mata polos anak yang diperkirakan berusia sekitar lima tahun itu, Shafa melihat kesedihan yang luar biasa dalam dan tak terlukiskan.
"Tante... Tolong Olivia, Tante... Tolong kami..." pinta anak itu dengan suara yang parau dan bergetar.
"Tolong apa Dek? Cerita sama Tante ya," bujuk Shafa pelan.
"Aku sama Mami dibunuh sama Papi, Tante... Tolong angkat jasad kami dari dalam jurang itu, Tante," ucap sosok anak kecil itu dengan polos namun penuh rasa sakit.
"Jurang? Jurang mana maksud Ade?" tanya Shafa makin terkejut mendengar pengakuan itu.
"Jurang yang ada di belakang vila itu, Tante. Nggak jauh kok dari rumah sini, masih satu daerah," jawab Olivia.
Shafa menatap iba dan terharu melihat wajah polos yang penuh luka itu. Hatinya terasa sakit sekali melihat anak sekecil itu sudah mengalami kejadian mengerikan.