Shafa and Love

Nursan
Chapter #1

Tempat Aman

Aroma kopi yang baru diseduh menguar di udara, menyatu dengan wangi khas kertas dan tinta, aroma yang entah kenapa selalu berhasil menenangkan pikiranku. Seperti biasa, jemariku mulai menari di atas keyboard, merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita.

Layar laptop menyala terang, menampilkan draft terbaru dari novelku. Sudah masuk tahap akhir penulisan.

“Sedikit lagi... tinggal sedikit lagi,” gumamku dalam hati. Rasanya campur aduk, antara lega dan gugup membayangkan naskah ini akan segera kukirim ke editor untuk dicek dan direvisi.

Tahun ini, novel ini harus terbit. Bukan hanya target pribadi, tapi juga janji tak tertulis pada para pembaca yang sudah menunggu sejak lama.

Sejenak aku berhenti mengetik, membiarkan jariku diam di atas keyboard. Kadang, saat menulis seperti ini, aku jadi teringat bagaimana semuanya dimulai. Bagaimana aku mulai merangkai kata bukan hanya karena cinta pada cerita, tapi juga karena ingin sembunyi. Dari apa, atau dari siapa... hanya aku yang tahu.

Namaku Shafa Gunawan.

Di dunia profesional, aku dikenal sebagai senior technical writer di sebuah perusahaan asing ternama, posisi yang tak mudah didapat dan cukup membuatku disegani. Kolega-kolegaku memandangku sebagai perempuan tangguh, rapi, selalu tahu apa yang harus dilakukan. Mereka pikir hidupku sudah tertata, karierku stabil, masa depanku cerah.

Dan biarlah mereka terus berpikir seperti itu.

Tak ada yang tahu bahwa sepulang kerja, aku menjadi orang lain. Di balik nama pena Lara, aku menulis cerita-cerita yang tak pernah berani kuceritakan sebagai Shafa. Cerita yang lebih jujur, lebih manusiawi, dan... lebih rapuh.

Nama itu, “Lara”, bukan sekadar identitas. Ia adalah tameng. Sebuah tempat persembunyian dari masa lalu yang masih kerap mengetuk pintu di malam-malam sepi.

Lara dikenal oleh ribuan pembaca. Dikenang lewat kutipan-kutipan yang tersebar di media sosial, ditunggu kelanjutan karyanya oleh pembaca setia yang selalu meninggalkan komentar penuh semangat. Tapi tidak satu pun dari mereka tahu siapa aku sebenarnya. Tidak satu pun yang pernah menebak bahwa Lara adalah bagian dari hidup Shafa, yang begitu dijaga rapat, bahkan dari orang-orang terdekat sekalipun.

Usiaku kini tiga puluh lima. Tapi kadang, aku masih merasa seperti gadis dua puluhan yang takut jatuh, takut percaya, dan lebih takut lagi jika harus mulai dari awal.

Setelah beberapa menit membiarkan kursor berkedip di akhir paragraf, aku menyandarkan tubuh ke sandaran kursi. Draft novelku sudah hampir selesai. Hanya tinggal satu-dua kalimat penutup yang harus kususun dengan hati-hati.

Aku menoleh ke arah jendela. Lampu-lampu kota memantul di permukaannya, menciptakan siluet gedung-gedung tinggi yang samar-samar bergoyang tertiup angin malam.

Tempat ini tenang. Terlalu tenang, kadang-kadang. Tapi aku tidak keberatan.

Saat ini, aku tinggal sendiri di apartemen milik sahabatku, Anya...

Bukan karena aku tidak mampu menyewa tempat sendiri. Kehidupanku sekarang, alhamdulillah, sudah lebih dari cukup. Tapi Anya memintaku untuk menempatinya saat dia harus sering bepergian keluar negeri. Katanya, daripada kosong, lebih baik kutinggali saja. Toh aku juga butuh ruang untuk menulis, dan dia tahu itu.

Kami sudah bersahabat sejak kuliah. Dari sekadar teman sekelas, lalu jadi teman curhat, hingga akhirnya seperti saudara. Dia tahu hampir semua hal tentangku. Hampir. Karena tetap ada satu bagian dari hidupku yang tak pernah kubagikan, bahkan pada Anya sekalipun.

Dering ponsel membuyarkan lamunanku. Layar menyala, menampilkan satu nama yang langsung membuatku menarik napas pelan.

Mama.

Aku menyentuh layar dan menjawab,

“Assalamualaikum, Ma.”

“Waalaikumsalam, Shafa. Apa kabar, Nak?” Suara Mama selalu terdengar lembut, dengan sedikit nada khawatir yang tak pernah benar-benar hilang.

“Alhamdulillah, baik, Ma. Mama sendiri gimana?”

“Baik juga, Nak. Kamu udah makan?”

“Udah, Ma. Tadi aku masak nasi goreng sosis.” Bohong kecil, tentu saja. Sebenarnya aku cuma pesan camilan dan kopi dari aplikasi ojek online. Tapi Mama tak perlu tahu detail sekecil itu.

“Syukurlah. Jangan lupa jaga kesehatan, ya. Dan tolong... jangan sering-sering begadang.”

“Iya, Ma.” Aku tersenyum kecil, meski hanya bisa mendengarnya lewat suara.

Kami ngobrol sebentar, obrolan ringan seperti biasa, sebelum akhirnya sambungan terputus. Aku meletakkan ponsel di atas meja, menatap layarnya yang perlahan meredup. Tapi kata-kata Mama masih menggema di kepala.

“Jangan sering-sering begadang.”

Aku memejamkan mata sebentar, mencoba mengusir rasa perih yang tiba-tiba muncul dari tempat yang tidak bisa dijelaskan.

Seandainya Mama tahu… begadang bukan karena lembur atau keasyikan menulis. Tapi karena aku memang tidak bisa tidur. Karena setiap kali memejamkan mata, ada potongan-potongan masa lalu yang datang tanpa diundang.

Mama juga tidak tahu, dan aku memang tidak ingin dia tahu, bahwa anak perempuannya pernah jatuh terlalu dalam pada seseorang yang kini hanya tinggal bayangan.

Bagiku, cukup dia percaya bahwa aku baik-baik saja di perantauan.

Dan biarlah sisanya… kusimpan sendiri.

Setelah telepon berakhir, aku hanya duduk diam. Suara Mama masih menggema lembut di telinga, penuh perhatian, seperti selimut tipis yang membalut hati yang retak. Tapi begitu telepon ditutup, kenyataan kembali menelanku bulat-bulat.

Aku mengusap wajah yang terasa lelah. Rasanya cukup untuk malam ini. Kuklik tombol save, menutup laptop, lalu bangkit dari kursi.

Kakiku membawaku ke jendela. Lampu-lampu kota berkerlap-kerlip di kejauhan. Jakarta malam ini tetap sama: ramai dari luar, tapi hening di dalam.

Biasanya, saat-saat seperti ini... pikiranku mulai melayang ke belakang.

Ada satu sosok yang selalu muncul lebih dulu. Tak peduli seberapa keras aku mencoba melupakannya.

Cinta pertamaku.

Bukan nama yang kusebut, hanya perasaan yang tertinggal. Luka yang tak terlihat, tapi tak juga sembuh.

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak dia menghilang dari hidupku. Tapi entah kenapa, bagian dari diriku masih menunggunya. Atau lebih tepatnya, masih terjebak di hari itu.

Aku menarik napas panjang dan berjalan ke kamar. Mungkin tidur bisa menyelamatkanku malam ini, walau aku tahu, kemungkinan itu tipis.

Kurebahkan tubuh, menatap langit-langit sejenak, lalu memejamkan mata.

Gelap.

Lalu suara.

Langkah kaki terburu-buru. Hujan. Nafas tercekat. Aku berdiri di sebuah taman yang samar, mungkin sekolah, mungkin kampus. Lalu dia datang, cinta pertama itu, dengan wajah yang dulu kukenal sangat baik.

Dia tertawa, memanggil namaku, dan untuk sejenak, aku lupa bahwa ini hanya mimpi. Rasanya seperti pulang.

Lihat selengkapnya