Senin pagi datang dengan segala kesibukan yang khas. Gedung kantor tempat Shafa bekerja menjulang anggun di tengah kawasan bisnis kota. Di lantai 18, suasana masih relatif tenang. Beberapa karyawan baru saja menyalakan komputer, sementara aroma kopi dari pantry mulai menguar samar-samar.
Shafa melangkah masuk dengan langkah tenang namun tegas. Sepatu hak pendeknya berdenting lembut di lantai marmer. Penampilannya rapi dan profesional: blouse warna soft beige dipadukan dengan blazer hitam, rambutnya diikat rapi ke belakang. Wajahnya kalem, namun mata itu… memancarkan wibawa.
“Pagi, Mbak Shafa,” sapa salah satu staf, buru-buru menunduk sedikit sambil memeluk laptop.
“Pagi, Leo. Cek email koordinasi dari Jumat, ya. Kalau ada yang belum dijawab, langsung follow-up hari ini,” jawab Shafa sambil terus berjalan menuju ruangannya.
Ruang kerja Shafa tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Satu sisi penuh dengan rak-rak berisi dokumentasi dan buku teknis, sisanya minimalis. Di meja kerjanya sudah menunggu laptop kantor, notes kulit, dan secangkir kopi hitam yang tadi sempat ia ambil dari pantry.
Begitu duduk, ia menarik napas panjang. Hari Senin, hari untuk mengatur napas divisi.
Shafa membuka laptop, lalu mulai membuat daftar prioritas mingguan di dokumen template yang biasa ia gunakan:
Senin: Mapping tugas mingguan, koordinasi lintas divisi, monitoring workload tim.
Selasa - Rabu: Review dokumen proyek A, penulisan ulang modul baru proyek B.
Kamis: QA dan standar revisi.
Jumat: Wrap-up dan mentoring untuk dua junior.
Satu demi satu email masuk. Shafa membuka semuanya dengan kecepatan efisien, matanya membaca cepat namun teliti. Beberapa rekan dari divisi produk, QA, hingga developer sudah mengirim permintaan bantuan dokumentasi. Seperti biasa, mereka tahu alurnya: isi template, kirim ke email resmi tim Tech Doc.
Beberapa menit kemudian, satu email khusus dari divisi DevOps menarik perhatiannya. Topiknya sensitif, dan waktunya mepet. Shafa mengetik balasan cepat, lalu forward ke salah satu anggota timnya yang sudah terbukti bisa pegang tekanan.
Tak lama setelah itu, Rani, junior writer, muncul di pintu ruangannya sambil mengetuk pelan.
“Mbak, pagi. Aku mau koordinasi soal dokumen integrasi API kemarin. Kayaknya beberapa feedback-nya belum masuk, tapi udah dikejar deadline Kamis.”
Shafa mengangguk. “Oke, kamu bisa follow up Devnya dulu hari ini. Kalau nggak dapet respon, cc aku di email-nya, biar aku bantu dorong. Dan sementara itu, kamu bisa lanjut bagian yang sudah clear. Jangan tunggu sempurna dulu.”
Rani tersenyum lega. “Siap, Mbak. Makasih.”
Begitulah Shafa di kantor. Tegas, efisien, tapi tetap jadi tempat paling nyaman untuk bertanya. Ia bukan tipe leader yang bicara keras. Suaranya justru lembut namun sarat ketegasan. Aura "jangan main-main" itu terasa dari cara ia duduk, bicara, dan bahkan diam.
Saat jam menunjukkan pukul sebelas, ia mengumpulkan semua email permintaan dokumentasi yang masuk pagi itu, lalu membaginya ke dalam tiga kelompok: urgent, mid-week, dan mentoring-only. Dengan satu klik, ia kirimkan email ke grup kecil tim Tech Doc yang ia pimpin.
📨 Subject: Weekly Task Distribution – Week 27
Hi Team,
Berikut ini distribusi pekerjaan minggu ini. Pastikan kalian review masing-masing, dan update progress di Trello seperti biasa. Jika ada kendala, sampaikan di thread WA internal, atau langsung ke saya via email.
Let's make this week efficient and clean.
Best,
Shafa
Setelah email terkirim, ia menyandarkan punggung ke kursinya sejenak, menatap layar. Tak ada yang tahu kalau di balik ketegasan dan efektivitas kerja itu, tersembunyi seorang Lara yang menulis dengan luka. Tapi di sini, di dunia ini, tak ada Lara. Hanya Shafa, dengan segala kontrol dan kedewasaannya.
Satu pesan masuk ke ponselnya dari General Manager.
“Shafa, join di meeting jam 3, ya. Akan ada briefing awal untuk project kerja sama dengan klien baru. Semua divisi wajib hadir.”
Alisnya terangkat sedikit. Tidak biasanya seluruh divisi dikumpulkan untuk rapat awal. Apalagi bila proyek itu belum jelas bentuk nyatanya.
Shafa mengetik cepat balasan singkat.
“Noted. Terima kasih, Pak.”
Ia kembali ke kalendernya dan menandai slot waktu rapat tersebut. Biasanya, divisi dokumentasi hanya akan aktif setelah arsitektur produk dan spesifikasi matang. Tapi kalau sekarang diminta dari awal, berarti proyek ini cukup kompleks... atau kliennya memang ingin semua on track sejak hari pertama.
Di tempat berbeda, seorang pria tengah duduk di ruang kerja yang tenang. Di depannya, berkas-berkas proposal vendor tersebar rapi. Jemarinya bermain pelan dengan sebuah pena hitam yang tampak biasa, kecuali ukiran kecil di sisi logamnya: B ♡ S.
Ia menyandarkan punggung ke kursi, senyumnya tipis. Matanya tak lepas dari barisan nama dan CV di layar, nama-nama yang mungkin akan bekerja sama dengannya dalam proyek baru ini.
Tangannya mengambil ponsel. Ia mengetik sebuah pesan pendek, lalu mengirimkannya pada seseorang yang tampaknya sudah menunggu kabar darinya.