Shafa and Love

Nursan
Chapter #4

Pertemuan

Malam itu, di antara tidur yang diselimuti kelelahan dan obat yang bekerja perlahan, mimpi datang tidak dalam bentuk cerita panjang… hanya bayangan samar.

Seseorang berjalan menjauh. Sebuah suara memanggil pelan, namun tidak pernah dijawab. Dan pena itu, tergeletak, menggelinding, hilang dalam cahaya.

Shafa terbangun beberapa detik sebelum alarmnya berbunyi. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tapi ia tak ingat apapun selain kesan kosong yang aneh di dadanya.

Ia duduk sejenak di pinggir tempat tidur, menarik napas panjang, lalu berdiri dan mulai menyiapkan hari.

Hari Selasa – Jumat

Waktu bergerak cepat bagi seseorang yang tahu persis apa yang harus dikerjakan.

Hari Selasa, Shafa menghabiskan pagi dengan menyelesaikan dokumen Project Brief yang akan digunakan untuk rapat internal dan eksekutif. Ia menulis dengan ketelitian khasnya: padat, ringkas, namun menyeluruh. Pre-Development document itu rampung menjelang siang, dan langsung dikirim ke Project Manager untuk dipersiapkan sebagai bahan meeting.

Siangnya ia memimpin sesi review proyek dari divisi lain. Sebagai senior technical writer, ia punya wewenang dan pengalaman yang menjadikannya tumpuan dalam banyak detail dokumentasi. Ia tidak pernah memotong pendapat, namun ketika memberi saran, caranya begitu sistematis dan tidak bisa dibantah.

“Jangan lupa narasikan alurnya dari perspektif pengguna juga,” ucapnya sambil menunjuk diagram sistem di layar presentasi. “Biar tim support bisa pakai ini juga kalau nanti ada incident report.”

Rekan-rekan dari tim engineering, QA, dan support mendengarkannya dengan serius. Ia memang bukan tipe yang suka basa-basi, tapi semua tahu: ketika Shafa bicara, ia bukan sedang menghakimi, ia sedang memperbaiki.

Hari Rabu, dokumen Technical Requirements Document selesai ia tulis dengan rapi. Ia menjabarkan kebutuhan fungsional dan non-fungsional dengan presisi. Tiap parameter diuraikan, tiap dependensi diberi catatan. Tidak ada yang luput dari pemetaan.

Kamis, dua dokumen selesai sekaligus: Stakeholder Map dan RACI Matrix. Ia menyusunnya sejak subuh, setelah terbangun lebih awal dan tidak bisa kembali tidur. Wajah-wajah yang terlibat dalam proyek terpetakan jelas dalam diagram perannya: siapa yang Responsible, siapa yang Accountable, siapa yang perlu Consulted, dan siapa yang sekadar Informed.

Di Jumat pagi, dua dokumen terakhir ia selesaikan: Use Case Documentation dan Information Architecture Plan. Ia menuliskannya dengan telaten, menyelipkan referensi visual dan user journey agar lebih mudah dipahami tim desain dan developer.

Sore itu, setelah memeriksa ulang tiap detail dokumen satu per satu, Shafa mengirimkannya ke Project Manager via sistem kolaborasi internal perusahaan. Ia menyematkan catatan singkat berisi highlight dan poin-poin penting yang perlu diperhatikan sebelum dikirim ke klien.

Tak ada notifikasi balasan langsung, hanya tanda “seen”, dan itu cukup baginya. Pekerjaannya selesai tepat waktu, dan ia tahu dokumen-dokumen itu siap menjalani peran selanjutnya.

Hari sudah mulai gelap ketika ia meninggalkan kantor. Di dalam taksi online yang membawanya pulang, jalanan macet panjang menyambut seperti biasa. Lampu-lampu kota menyala, membingkai siluet tubuhnya yang mulai letih.

Malam Hari, Selasa hingga Jumat

Seperti pola yang telah terukir oleh waktu, setiap malam Shafa menyelesaikan pekerjaannya sebagai Lara. Satu per satu bab ditulis dan disunting, tak pernah lepas dari perasaannya sendiri yang kadang ikut merembes dalam narasi.

Dan setiap malam pula, saat tubuhnya akhirnya terbaring lelah di ranjang, ketika obat tidur mulai meluruhkan pikirannya, mimpi itu datang lagi, dengan pola yang nyaris sama.

Dalam mimpi, ia selalu berdiri di tempat yang kosong. Entah padang luas atau ruangan tak berbatas, suasananya sunyi. Langitnya kelabu. Dunia terasa seperti jeda antara nyata dan tak nyata.

Di kejauhan, dua sosok pria berdiri diam. Hanya siluet. Tak pernah mendekat, tapi juga tak pernah menghilang.

Yang satu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, seolah memanggul beban yang tak terlihat. Ada aura penyesalan yang membungkusnya, tapi juga sesekali, ia menatap ke arah Shafa dengan sorot yang mengintimidasi, seolah berkata: “Kamu tak akan pernah lepas dariku.”

Shafa tak bisa melihat wajahnya, tapi dari bayangan tubuhnya, dari bagaimana kehadirannya terasa, ia tahu siluet itu adalah masa lalu yang belum selesai.

Siluet yang satunya lagi berdiri lebih jauh. Tenang. Tidak banyak bergerak, hanya mengamati dalam diam. Bahkan dalam mimpi, Shafa merasa dilindungi oleh keberadaannya yang senyap namun stabil. Tak ada intimidasi, tak ada tekanan. Hanya ketenangan yang tak bisa dijelaskan.

Siluet ini tidak pernah berbicara, tapi Shafa merasa... jika ia mendekat, dunia akan berhenti bergemuruh.

Namun seperti malam-malam sebelumnya, Shafa hanya diam di tempat. Tak pernah melangkah. Tak juga memanggil.

Ia terbangun keesokan paginya dengan dada yang terasa penuh. Napasnya teratur, tapi hatinya kacau. Ia tak tahu apa arti mimpi itu, atau siapa mereka sebenarnya. Tapi malam demi malam, dua sosok itu seperti menjaga jarak yang sama, seolah menunggu ia membuat pilihan.

Atau mungkin, hanya menunggu ia menyadari bahwa pilihan itu sudah lebih dulu ada di dalam dirinya.

Dan hingga Jumat malam itu, mimpi yang sama tetap datang.

~

Hari itu akhirnya tiba.

Pagi-pagi sekali, notifikasi pesan dari Anya membanjiri layar ponsel Shafa. Kalimatnya pendek-pendek tapi panik, penuh emoji, capslock, dan ancaman halus kalau Shafa sampai kabur dari pertemuan hari ini.

Shafa membalas dengan satu kata,

 “Iya.”

 Sekadar untuk membuat Anya diam.

Jam empat dini hari, ia sudah terbangun. Bukan karena antusias, tapi karena memang sudah terbiasa bangun sepagi itu di akhir pekan. Ia menjalani pagi seperti biasanya: beribadah, merapikan apartemen, lalu berolahraga ringan di sekitar gedung. Tak ada yang istimewa. Bahkan sarapannya pun seperti biasa: sepotong roti dan segelas susu. Ia memang tak pernah bisa sarapan berat. Perutnya bisa mules seharian kalau dipaksa.

Siang masih lama. Tapi waktu seperti melompat.

 Shafa bersiap sekenanya. Blus biru muda dan jeans putih. Riasan tipis. Rambut diikat rapi. Tidak terlalu cantik, tidak terlalu berantakan. Pas saja. Ini bukan kencan, pikirnya. Hanya pertemuan biasa. Atas nama sahabat yang keras kepala.

Ia memesan taksi online, lalu memutar lagu-lagu lawas dari ponselnya. Perjalanan terasa biasa. Tapi begitu mobil berhenti di depan tempat tujuan, Shafa nyaris tertawa kecil sendiri.

Toko buku?

Ia mengenali tempat itu. Tempat yang sama yang pernah ia kunjungi beberapa hari lalu. Toko buku yang menjadi pelariannya sejak lama. Sejenak ia diam di dalam mobil, merasa aneh. Kenapa ia tidak sadar dari awal kalau ini tempatnya?

Ia turun dan melangkah masuk, mengikuti arah titik lokasi yang Anya kirim. Di sudut ruangan yang menghadap jendela besar, ada satu meja kecil dengan dua kursi. Salah satunya sudah terisi.

Seorang pria duduk dengan tenang di sana, sebuah buku finance terbuka di tangannya.

Shafa tertegun sesaat.

 Ada rasa aneh yang menyelusup, seperti deja vu yang samar.

 Ia pernah melihat ini. Atau... pernah merasa seperti ini?

Pria itu menatap, lalu tersenyum. Senyum tipis tapi hangat.

 Seketika, ada sesuatu dalam diri Shafa yang bergetar. Ia segera menunduk, menenangkan pikirannya, lalu melangkah pelan dan duduk di kursi seberang.

Tanpa kata-kata basa-basi, pria itu membuka tasnya. Ia mengeluarkan sebuah pena dan meletakkannya di atas meja, mengarahkannya pada Shafa.

“Ini punyamu,” katanya tenang.

Shafa mengerutkan dahi. Ia meraihnya dan menatap pena itu lekat-lekat.

 Pena itu... memang mirip miliknya. Tapi ada yang janggal.

Lihat selengkapnya