Shafa and Love

Nursan
Chapter #5

Retakan

Minggu pagi, hujan turun perlahan, seolah langit sedang belajar menangis dalam diam. Di dalam apartemen yang hening, Shafa menyalakan televisi, bukan untuk ditonton, hanya agar keheningan tak terasa terlalu menyiksa. Dari balik jendela, ia memandangi butir hujan yang meluncur pelan, sementara uap teh hangat mengepul dari cangkir di tangannya. Suara dari layar menyatu dengan suasana pagi yang sendu, sampai satu headline membuatnya menoleh:

“Penerus Tunggal Bisnis Keluarga Mahendra Kembali ke Tanah Air.”

Shafa menoleh ke arah televisi. Nama itu… tak asing. Dan benar saja, wajah itu muncul, jelas di layar. Wajah yang dulu terasa seperti rumah, kini memantik rasa sesak yang selama ini ia tekan rapat-rapat.

Bhaskara.

Nama itu menggema pelan di benaknya, nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat jemarinya gemetar. Cangkir di tangannya terasa lebih berat, hampir terlepas. Dunia mendadak melambat, seolah memberi ruang bagi kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Mata itu, tatapan itu, masih sama. Masih seperti malam terakhir mereka bertemu. Malam yang sunyi, ketika Bhaskara pergi tanpa penjelasan, meninggalkannya dalam diam yang dingin dan membatu.

Yang mengejutkan bukan hanya karena pria itu muncul kembali di layar kaca, tapi karena malam itu kembali menghantuinya. Malam ketika Shafa akhirnya tahu siapa Bhaskara sebenarnya. Bukan sekadar laki-laki penuh tawa dan kejutan manis yang ia kenal di masa SMA, tapi pewaris tunggal dari keluarga Mahendra, keluarga terpandang, penuh kekuasaan, dan rahasia.

Kini, sosok yang muncul di televisi tampak asing. Bhaskara yang dulu ia cintai sudah tak ada. Di tempatnya, berdiri pria muda berjas hitam, dengan tatapan tajam dan senyum setipis luka. Wajahnya terpahat sempurna, tapi dingin. Sorot matanya menyiratkan sikap tak tersentuh, seolah dunia tunduk padanya, dan ia tak perlu peduli pada siapa pun.

Ada aura bad boy dalam cara ia duduk, santai tapi berwibawa, seakan ruang siaran itu miliknya. Arogansi itu terlihat jelas, bukan dalam kata-kata, tapi dalam cara ia menatap kamera: tenang, percaya diri, dan mengintimidasi. Seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan segalanya, dan menikmati kuasa itu.

Shafa menatap layar dengan jantung yang mulai tak teratur. Ada keinginan aneh menggelitik dadanya, untuk menemuinya. Mungkin untuk bertanya, atau hanya memastikan bahwa sosok itu benar-benar Bhaskara. Tapi keinginan itu segera dibayangi oleh rasa takut yang tak bisa dijelaskan.

Ia tak lagi yakin, apakah Bhaskara yang kini masih menyisakan hangat yang dulu pernah ia kenal. Sebab yang terpampang di layar bukanlah laki-laki yang ia cintai di masa lalu, melainkan sosok asing yang dingin dan penuh jarak. Tatapannya tajam, senyumnya tipis, tak ada lagi tawa kecil yang dulu membuat segalanya terasa ringan.

Ada jarak yang begitu lebar di antara mereka sekarang. Bukan hanya waktu, tapi juga perubahan. Shafa tahu, jika ia benar-benar menemuinya… bisa jadi, yang akan ia temukan hanyalah versi Bhaskara yang tak lagi mengenal siapa dirinya.

Langkahnya tertahan. Ia tetap berdiri di tempat, memeluk cangkir teh yang mulai kehilangan hangat, seperti dirinya yang perlahan membeku oleh kenangan yang kembali menyeruak.

Setelah mematikan televisi, Shafa melangkah ke balkon. Hujan masih turun, lembut dan tenang. Tak ada petir, tak ada angin kencang. Tapi di dalam dadanya, badai kecil mulai bangkit, mengingatkan bahwa beberapa rasa takut tak pernah benar-benar pergi, sama seperti kenangan itu.

Shafa duduk diam, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Semangat menulisnya lenyap seketika. Untungnya, seluruh revisi naskah telah ia selesaikan dan kirim lebih awal. Setidaknya hari ini, ia bebas dari tenggat. Ia hanya butuh sesuatu, apa pun, yang bisa membuatnya lupa, walau untuk sesaat saja.

Ia membuka platform streaming kesayangannya dan menggulir layar tanpa arah. Hingga jemarinya berhenti pada satu judul yang begitu familiar. Sebuah serial lama, drama fantasi tentang dunia lain, sihir, kekuatan tersembunyi, dan cinta yang tak pernah sampai. Cerita itu selalu ia tonton ulang ketika pikirannya terasa sesak, dan menulis tak lagi mampu menjadi pelarian.

Ironisnya, serial itu adalah usulan dari Bhaskara. Dulu, saat mereka bertengkar hebat untuk pertama kalinya, Bhaskara menyuruhnya menonton satu episode agar pikirannya lebih tenang. “Lagi waras baru lanjut debat,” katanya waktu itu, dengan nada menyebalkan yang membuat Shafa ingin melempar bantal, tapi juga ingin tertawa. Sejak itu, drama itu jadi teman pelarian… bahkan setelah Bhaskara sendiri pergi.

Enam belas episode. Masing-masing lima puluh menit.

Dengan hitungan kasarnya, ia menghabiskan lebih dari tiga belas jam hanya untuk menonton. Sisanya? Digunakan untuk salat, ke kamar mandi, dan sesekali mengganti posisi duduk.

Malam pun tiba. Langit yang sejak pagi diguyur hujan kini tampak jernih, meski dingin tetap menyusup seperti biasa. Episode terakhir usai. Mata Shafa terasa berat, tapi hatinya sedikit lebih tenang. Cemilan yang ia siapkan sejak pagi hampir habis. Dan seperti semula, apartemennya kembali sunyi.

Beberapa saat kemudian, ia mematikan lampu dan berbaring. Obat tidur yang diminumnya mulai bekerja perlahan, membuat tubuhnya terasa ringan dan kepalanya sedikit mengambang.

Ia memejamkan mata. Menarik napas panjang.

Dan akhirnya, dunia nyata mulai memudar.

Ia terjatuh perlahan dalam gelombang yang dingin.

Dalam tidur yang semu, ia bermimpi kembali.

Dalam mimpinya…

Shafa berdiri di sebuah lorong panjang yang remang. Lampu-lampu menggantung di langit-langit, berkedip-kedip seperti nyala yang sebentar lagi padam. Dinding di sekelilingnya abu-abu pudar, terasa sempit meski tak terlihat ujungnya.

Langkah berat terdengar dari kejauhan. Lalu sosok itu muncul dari balik bayangan.

Bhaskara.

Tubuhnya tegang, matanya merah, bukan karena tangis, tapi karena marah yang menumpuk terlalu lama. Napasnya memburu. Rahangnya mengeras.

“Beraninya kamu…,” ucapnya pelan, tapi penuh tekanan. “Beraninya kamu ngelakuin itu ke aku.”

Shafa terdiam. Jantungnya berdebar kencang. “Ngapain kamu ngomong kayak gitu? Aku bahkan nggak tahu kamu kenapa…”

Bhaskara tertawa pendek, getir. “Oh, jadi sekarang kamu main nggak tahu?”

“Aku serius. Aku bahkan nggak ngerti apa yang kamu maksud, Bhaskara...”

“Berhenti sok polos!” teriaknya, suaranya membentur dinding lorong, menggema. “Kamu pikir aku sebodoh itu? Kamu pikir aku nggak lihat?!”

Shafa mundur setapak. Pandangannya mulai buram. “Lihat apa? Aku nggak ngerti... kamu nggak pernah mau ngomong…”

Tapi Bhaskara tak mendengar. Atau tak ingin mendengar. Ia sudah terlanjur hanyut dalam amarahnya sendiri. Mata itu, mata yang dulu penuh kehangatan, kini hanya menyimpan luka dan pengkhianatan.

“Kamu ngancurin semuanya.”

Suara itu pecah, seperti retakan kaca. Dingin. Penuh luka yang tertahan.

“Aku percaya sama kamu, Shafa. Tapi kamu...”

Ia menggigit bibir, tak meneruskan. Sorot matanya seperti jurang yang tak bisa dijangkau.

Shafa ingin mendekat, ingin menjelaskan, ingin tahu dari mana semua ini bermula. Tapi Bhaskara sudah berbalik. Langkah-langkahnya cepat, berat, menjauh dalam lorong yang semakin gelap.

Shafa berlari mengejar.

Lihat selengkapnya