Senin malam, langit kota memantulkan cahaya lampu seperti kilau tembaga di atas kaca. Shafa baru pulang dari kantor satu jam lalu, masih dengan kemeja kerja yang belum diganti, terlalu lelah untuk peduli pada kerapian malam itu. Ia menyeduh teh, menyalakan lilin aroma lavender yang katanya bisa membantu tidur, lalu duduk di depan laptop pribadinya, berharap bisa mencuri sedikit waktu untuk Lara sebelum benar-benar tidur. Belum lama duduk, notifikasi email masuk menghantam layar, judulnya jelas dan tak memberi ruang untuk penundaan: [REVISI - Deadline Besok Pagi]
Ia membuka lampiran itu pelan-pelan, seolah menunda rasa sakit yang sudah bisa ditebak. Catatan editornya panjang, tapi inti permintaannya sederhana: perdalam bagian ketika tokoh utama akhirnya tahu kekasihnya berbohong. Buat pembaca ikut merasakan pengkhianatan itu, bukan cuma membacanya.
Ironis, pikirnya. Seolah dia butuh diajari cara menulis luka yang sudah dia hafal di luar kepala.
Ia membuka dokumen, menggulir ke bagian yang dimaksud, dan membaca ulang kalimat yang sudah ia tulis berbulan-bulan lalu:
“Ia tidak menangis. Hanya berdiri, menatap punggung yang menjauh, dan menyadari bahwa cinta yang paling tulus sekalipun bisa berubah jadi alasan paling rapi untuk berbohong.”
Shafa membaca ulang kalimat itu dua kali, lalu menghapusnya. Terlalu rapi. Terlalu... aman. Ia mengetik ulang, lebih jujur kali ini, membiarkan jarinya menulis sesuatu yang lebih dekat dengan apa yang sebenarnya pernah ia rasakan.
Ia menarik napas panjang, menggulung lengan kausnya, dan memulai.
Kata demi kata. Kalimat demi kalimat.
Menulis ulang bab demi bab terasa seperti membongkar ulang luka lama, apalagi saat bagian karakter utama mengalami pengkhianatan. Jemarinya sempat berhenti di tengah kalimat, menatap kursor yang berkedip sabar, menunggu dia menemukan kata yang tepat untuk rasa sakit yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya mengerti. Hatinya ngilu.
Tapi ia tetap melanjutkan. Sampai tak sadar jam menunjuk pukul 1 dini hari. Satu mug teh habis, dan satu potongan roti dibiarkan mengeras di samping mouse pad. Di luar jendela, kota sudah jauh lebih sepi, hanya lampu jalan dan sesekali klakson jauh yang masih terdengar.
Saat akhirnya tubuhnya rebah di atas kasur, mata Shafa memejam tanpa janji akan kedamaian. Dan seperti malam-malam sebelumnya...
...mimpi itu datang lagi.
Kali ini, lebih jelas. Bhaskara berdiri di hadapannya, bukan hanya dengan kata-kata kasar, tapi tatapan yang seolah ingin menghapus dirinya dari dunia. Baju Shafa basah oleh hujan, dan Bhaskara hanya berdiri diam. Tidak memeluk. Tidak mengusir. Hanya menatap, dengan mata yang dulu ia cintai, dan kini menakutkan. Shafa ingin bertanya, tapi suaranya hilang sebelum sempat keluar, seperti biasa setiap kali mimpi ini datang.
Ia terbangun jauh sebelum alarm berbunyi, dengan dada yang masih terasa sesak. Untuk beberapa menit ia hanya duduk di pinggir ranjang, membiarkan kamar yang remang itu menenangkannya kembali ke dunia nyata.
Pagi Selasa, Shafa menatap cermin dengan mata yang sembab. Tapi seperti biasa, ia merapikan wajahnya. Foundation tipis. Lip tint pucat. Rambut dikuncir rapi.
Rapat strategis yang diingatkan lewat email semalam itu, ternyata cuma meeting singkat dengan pihak klien soal progress dokumen minggu ini, tidak seberat yang sempat ia bayangkan semalam. Rei turut hadir mewakili perusahaannya. Di ruang rapat, Rei duduk di seberang meja bersama dua orang dari timnya, sementara Shafa memimpin dari sisi internal. Tidak ada yang aneh dari caranya bicara, semuanya tetap formal, profesional, persis seperti meeting-meeting sebelumnya.
“Dokumen API masih on track untuk minggu ini?” tanya Rei, suaranya datar, seolah mereka baru pertama kali bertemu hari itu.
“On track,” jawab Shafa singkat, menunjuk salah satu baris di slide. “Kita masih perlu konfirmasi dari tim engineering soal satu modul, tapi seharusnya selesai sebelum Jumat.”
“Baik. Kalau ada yang terlambat, kabari saja langsung.”
Singkat. Bersih. Tidak ada jejak dari percakapan semalam tentang topeng atau kelelahan.
Di ujung meja, GM mengangguk puas mendengar laporan progress itu. “Bagus. Klien puas, kita juga nggak ketinggalan jadwal.” Ia melirik Rei sekilas. “Tim Anda juga kooperatif sekali, Pak Reinald.”
“Tim saya cuma mengikuti arahan yang jelas,” jawab Rei, melirik Shafa sepersekian detik sebelum kembali menatap GM. “Itu nilai plus dari pihak Anda.”
Shafa tidak menanggapi, hanya mencatat sesuatu di tabletnya, meski sebenarnya tidak ada yang perlu dicatat lagi.
Begitu meeting selesai, Shafa kembali ke mejanya dan menghabiskan dua jam berikutnya menyelesaikan review dokumen yang sempat tertunda. Notifikasi demi notifikasi masuk, dan ia membalasnya dengan kecepatan yang sama seperti hari-hari biasa. Tidak ada yang tahu, dan tidak akan pernah tahu, bahwa di balik semua itu, ia menjalani malam paling berat dalam mimpinya.
Di kantor, Shafa tampil sempurna, seorang team leader dengan performa solid, bicara tegas, dan penuh logika, suaranya stabil seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi. Hanya Rei yang bisa melihat sedikit goresan dari balik lapisan topeng itu, lewat caranya mengetuk pena dua kali sebelum bicara, kebiasaan kecil yang hanya muncul saat Shafa kurang tidur.
Saat istirahat siang, Shafa memilih keluar. Taman di belakang kantor tidak ramai. Angin sejuk, matahari tidak terlalu garang. Ia duduk sendiri di bangku batu, menatap pepohonan kecil yang bergoyang pelan. Untuk beberapa menit, ia tidak memikirkan dokumen, tidak memikirkan Bhaskara, tidak memikirkan apa pun. Hanya duduk, membiarkan angin menyentuh wajahnya yang lelah, dan itu sudah cukup.