Rabu pagi, meeting lanjutan dengan tim Rei berjalan persis seperti yang sudah-sudah. Lancar. Terukur. Tidak ada yang aneh.
“Dokumen API sudah final?” tanya Rei, suaranya tetap datar seperti biasa di depan tim.
“Final, sudah dikirim ke pihak Anda tadi pagi,” jawab Shafa, menggeser layar presentasi ke poin berikutnya tanpa menoleh.
Di pintu, Rani mengetuk pelan sambil membawa tumpukan kertas. “Mbak, ini hasil review dari tim QA, udah masuk semua.”
“Taruh di mejaku aja, nanti aku cek,” jawab Shafa, masih menatap layar. Rani mengangguk dan keluar lagi secepat dia datang, tidak menyadari apa pun selain bosnya yang seperti biasa, sibuk dan efisien.
Tidak ada yang menyangka, dua orang yang baru semalam bercanda soal kari kurang pedas itu, sekarang duduk berseberangan meja dengan ekspresi yang sama profesionalnya seperti pegawai dan klien pada umumnya. Shafa sendiri kadang heran, betapa mudahnya dia mengganti topeng begitu pintu ruang rapat tertutup, seolah ada saklar yang tinggal ia tekan.
Minggu-minggu berikutnya berjalan dengan ritme yang perlahan terasa akrab.
Di kantor, semuanya tetap seperti biasa: rapat progress, revisi dokumen, diskusi teknis yang kadang berakhir jadi candaan kecil yang hanya mereka berdua yang paham maksudnya. Sesekali Rei mengirim pesan kerja yang diselipi satu kalimat tidak penting di akhir, semacam “btw kari kemarin masih lebih enak dari kantin sini”, dan Shafa akan membalasnya dengan emoji datar sebelum melanjutkan pekerjaan, berpura-pura tidak tersenyum sendiri di depan layar. Tapi begitu jam kerja usai, dunia mereka berubah jadi lebih kecil, lebih hangat, dan jauh lebih jujur.
Suatu malam, Rei datang membawa kantong belanjaan penuh bahan masakan, bukan kotak makanan siap saji seperti biasanya.
“Aku nggak jago masak,” katanya, meletakkan kantong itu di meja dapur dengan wajah seyakin mungkin, “tapi aku jago baca resep dengan suara keras.”
“Itu bukan keahlian, itu cuma bisa baca.”
“Detail teknis. Yang penting niat.”
Mereka berakhir berdiri berdampingan di dapur sempit Shafa, Rei membaca instruksi dari ponselnya sambil Shafa memotong bawang dengan kecepatan yang membuat Rei terang-terangan terintimidasi.
“Kamu yakin itu nggak bahaya buat orang lain?” tanyanya, menjauh selangkah dari pisau yang bergerak cepat di tangan Shafa.
“Ini teknik dasar. Kamu yang baca resepnya aja masih bingung mana sendok teh mana sendok makan.”
“Itu beda kasus. Aku CEO, bukan koki.”
“Itu bukan soal ijazah, Pak Reinald. Soal niat aja.”
Rei tertawa, lalu kembali fokus ke ponselnya, membaca takaran bumbu dengan suara keras dan nada seserius mungkin, seolah sedang membacakan laporan keuangan tahunan. Hasil akhirnya jauh dari sempurna, agak gosong di satu sisi, terlalu asin di sisi lain, tapi mereka menghabiskannya juga sambil saling menyalahkan resepnya, bukan tangannya.
Malam lain, Shafa duduk di meja makan dengan laptop terbuka, jemarinya bergerak cepat menyusun ulang satu bab yang terasa belum pas, sementara Rei duduk di sofa dengan buku financenya yang itu-itu saja, sesekali melirik ke arah Shafa tanpa benar-benar membaca.
“Kamu nggak bosan baca buku yang sama?” tanya Shafa, tanpa mengangkat wajah dari layar.
“Aku nggak benar-benar baca,” jawab Rei santai. “Aku cuma suka ada di ruangan yang sama sama orang yang lagi sibuk sama dunianya sendiri.”