Shangkara

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #97

Purusha

Pagi itu, selasa, 23 Agustus 2011, Ihsan dan Alim berhadapan di medan laga untuk pertama kalinya. Tanpa basa-basi, trisula dan chakra dipanggil, busur mereka mulai direntangkan, wahana mereka berhadapan. Nandi mendongakkan kepalanya untuk bertatapan dengan garuda, serta sheshnaag yang menatap tajam vasuki dari atas, sementara kedua tim mereka juga saling mengeluarkan kekuatan penuh mereka. Bagas memanggil yali miliknya dengan pedang terhunus. Rio menaiki kencana yang ditarik sepasang makara dengan trisula terangkat ke langit. Shafa juga sudah memanggil singa miliknya yang surainya mulai membara bersama dengan kedua pedang berantai di tangannya. Shifa memanggil burung hantu untuk melayang dengan kampak dan gada di masing-masing tangannya.

“Akhirnya kita bertanding juga cak,” ucap Ihsan dengan bersemangat.

“Hoo kau takkan melewati ulang tahun kesepuluhmu tanpaku kan Ihsan,” ucap Alim.

“Hadiah macam apa yang ingin kau berikan hari ini cak,” ucap Ihsan sembari menarik anak panah di busur pinaka miliknya.

“Tidak ada kembang api di sini, kuharap kau tidak mempermasalahkan jika aku menggantinya dengan tembakan panahku,” ucap Alim sembari merentangkan senar sharanga miliknya dan mulai menyalakan naranetra miliknya.

“Booom.”

Kedua proyektil mereka beradu di langit. Mereka saling beradu tembakan. Panah-panah cepat dari pinaka berputar-putar menuju Alim dan dibalas dengan tembakan panah yang sangat kuat dan sunyi dari sharanga yang berhasil memotong senar pinaka. Mengetahui hal itu, Ihsan melompat dari lembu miliknya dan menghantam tanah dengan kuat memakai trisula miliknya, lalu mulai menyebarkan energinya ke sana. Segera setelah itu, beribu-ribu serangan energi berbentuk trisula melesat ke atas, membombardir Alim hingga membuat langit memerah oleh cahaya energi trisula Ihsan.

Melihat hal ini, Alim tidak tinggal diam. Chakra miliknya mulai membesar dan menahan pukulan demi pukulan trisula itu, seolah menjadi tameng yang memenuhi langit dengan warna kebiruan. Beberapa varunastra juga telah Alim tembakkan ke bawah untuk membanjiri tempat itu. Segera setelah itu, Alim menggunakan transformasi untuk mengubah dirinya menjadi manusia ikan guna memanfaatkan manuver air yang dimilikinya di wujud itu, sembari terus membuat gelombang air yang sangat kuat untuk menenggelamkan Ihsan.

Melihat hal ini, Shafa tersulut emosinya dan melepaskan beberapa tebasan berapi ke arah Alim yang mulai membentuk pusaran air, hanya untuk digagalkan oleh Bagas yang memotong api buatan Shafa dengan pedangnya, sembari meminta yali untuk meraung keras dan membuat medan itu bising. Suara yali yang mirip terompet perang sempat terdengar oleh beberapa pasukan di dekat situ, sebelum mereka menyaksikan gelombang air raksasa datang menyapu mereka.

Rio tidak tinggal diam dan membentuk dua bholenath sekaligus dengan kedua tangannya, lalu menembakkannya ke arah Bagas yang secara mengejutkan berhasil memotong bholenath hanya berbekal pedangnya, bahkan menahan ledakannya dengan memutar-mutar pedangnya. Serangan itu diikuti beberapa laser darah dari Shifa yang sedang melayang di udara, hingga akhirnya benturan keras antara bholenath dan janardana terjadi di tengah pusaran air. Saat itu, keduanya berimbang.

Ihsan melesat ke angkasa untuk mengambil napas dan melepaskan beberapa atmasena, lalu mengarahkannya menyerang Alim. Serangan itu direspons dengan chakra yang memotong atmasena satu per satu. Namun bukan itu yang dimaksud Ihsan. Ia segera mengarahkan telapak tangannya ke arah Alim dan energi mulai terkumpul di sana. Alim melihat serangan itu dan merespons dengan bola-bola energi yang ia lepaskan lalu ia kumpulkan kembali dengan telapak tangannya.

Keduanya melesat ke arah satu sama lain dan membenturkan serangan mereka. Alim mengganti wujudnya menjadi bentuk seperti kura-kura untuk menahan dampak ledakan yang sangat dahsyat, hingga tim mereka terhempas begitu saja dan menyisakan Ihsan dan Alim yang masih saling berhadapan. Tangan Ihsan yang digunakan untuk membenturkan serangan telah hancur dan segera ia sembuhkan, sedangkan Alim terlihat sedikit tergores meski mampu menahan lebih banyak serangan.

Segera setelah itu, Ihsan membuka mata ketiganya dan menyemburkan energi yang sangat kuat darinya. Serangan itu langsung ditahan Alim yang tak bergeming dari tempatnya, bahkan bergerak maju.

“Hssssh kau memodifikasi bholenath milikmu agar bisa ditembakkan dengan aktivasi mata ketigamu ya,” pikir Alim, yang kemudian segera mengubah wujudnya menjadi manusia berkepala paus dan melepaskan teriakan yang sangat keras.

“Heeeh kenapa kau berubah jadi seperti babi hutan cak,” tanya Ihsan.

“Kan aku udah bilang ini paus,” ucap Alim.

“Varaha ya, nama yang cocok,” ucap Ihsan.

“Bisa berhenti memikirkan nama, Ihsan? Kita sedang bertempur,” ucap Alim sambil mempersiapkan jurus selanjutnya, sementara Ihsan kembali mengumpulkan energi di mata ketiganya lalu menembakkan bholenath darinya.

“Hhhh bisakah kau serius, Ihsan? Di wujudku yang seperti ini kau masih mencoba menembakkan bholenath kecil itu dari mata ketigamu,” ucap Alim sembari menangkis tembakan itu dengan tangannya hingga akhirnya meledakkan jurus tersebut di angkasa.

“Apa yang dikatakan anak itu, jurus itu lemah? Kekuatan itu sama dengan yang meledakkan lubang hitam enam hari lalu,” pikir Rio saat menyaksikan semburat cahaya ledakan bholenath yang sangat kuat.

Tanpa menunggu waktu, Alim mulai mengaktifkan energi yogi yang bersemayam di tanda srivatsa miliknya dan menyelimuti tubuhnya dengan corak batik berwarna hitam.

“Jadi selama ini anak itu hanya separuh serius,” pikir Bagas yang segera berdiri untuk membantu Alim, namun tiba-tiba beberapa buah robot menghadangnya.

Lihat selengkapnya